SULSELSATU.com MAKASSAR — Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menorehkan prestasi akademik dengan mengukuhkan Prof. Dr. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd., Ph.D. sebagai Guru Besar Bidang Pendidikan Bahasa Inggris. Pengukuhan tersebut berlangsung dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa di Balai Sidang Unismuh Makassar, Senin (6/10/ 2025).
Dengan pengukuhan ini, Prof. Erwin menjadi Guru Besar ke-28 di lingkungan Unismuh Makassar. Capaian tersebut semakin memperkuat posisi kampus biru sebagai salah satu perguruan tinggi yang terus berkembang pesat di tingkat nasional dan internasional.
Rektor Unismuh Makassar, Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Ia menegaskan bahwa kehadiran guru besar memiliki peran strategis dalam meningkatkan daya saing universitas, khususnya dalam pengembangan sumber daya manusia dan reputasi akademik.
“Kehadiran guru besar menjadi sesuatu yang sangat penting artinya, terutama dalam memenuhi berbagai kriteria akreditasi unggul dan World University Ranking,” ujar Rektor.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para dosen Unismuh yang terus berjuang meraih gelar tertinggi dalam dunia akademik.
“Kami menyebutnya sebagai jihad akademik, perjuangan untuk mengabdi melalui ilmu pengetahuan. Setiap guru besar baru adalah bukti nyata komitmen dan dedikasi sivitas akademika Unismuh,” tegasnya.
Rektor menambahkan, saat ini terdapat empat dosen yang tengah berproses menuju jabatan guru besar. Dua di antaranya telah masuk tahap review di Kementerian, sementara dua lainnya dalam proses usulan melalui Senat Akademik.
“Semoga prosesnya berjalan lancar sesuai standar akademik yang ditetapkan. Jika keempatnya berhasil, maka jumlah guru besar Unismuh Makassar akan bertambah menjadi 32 orang,” tuturnya optimistis.
Sementara itu, dalam pidato pengukuhannya, Prof. Erwin Akib menyoroti pentingnya penilaian holistik dalam sistem pendidikan nasional. Ia menekankan bahwa pembelajaran tidak seharusnya hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada seluruh proses belajar yang berkesinambungan.
“Salah satu faktor penting dalam pembelajaran adalah bagaimana strategi penilaian mampu menilai proses, bukan hanya hasil. Penilaian harus dilakukan secara utuh,” ungkapnya.
Menurutnya, praktik penilaian di dunia pendidikan masih terlalu berfokus pada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotor sering kali terabaikan.
“Tiga ranah pendidikan afektif, psikomotor, dan kognitif seharusnya dijalankan secara terpadu agar mencerminkan penilaian yang sebenarnya,” jelasnya.
Prof. Erwin juga menegaskan pentingnya penerapan konsep assessment for learning atau penilaian untuk pembelajaran dalam sistem pendidikan di Indonesia.
“Saya sangat sepakat dengan arah kebijakan Mendikdasmen yang mengedepankan deep learning dan joyful learning. Anak-anak tidak hanya perlu didorong dalam aspek kognitif, tetapi juga dalam karakter dan sikap. Pembelajaran yang menyenangkan akan melahirkan pemahaman yang mendalam,” tutupnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar