SULSELSATU.com, MAKASSAR – Bank Indonesia menyebut ekonomi Sulsel tetap stabil. Salah satunya terlihat dari pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan keempat 2025 sebesar 5,99 persen naik dari 5,01 persen dibanding periode sebelumnya.
Pada 2026 ini, BI memperkirakan ekonomi Sulsel tumbuh di kisaran 5,0 hingga 5,8 persen.
Kepala BI Sulsel Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, pertumbuhan ekonomi Sulsel triwulan kemarin masih utamanya masih ditopang pertanian, kontruksi, perdagangan, dan industri pengolahan.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem hingga Lonjakan Permintaan Disebut Jadi Tekanan Inflasi Sulsel
“Sementara itu, ekonomi naik juga didorong dari konsumsi rumah tangga dan PMTB. Pertumbuhan ekonomi Sulsel 2026 diperkirakan tetap stabil, namun memang ada beberapa tantangan yang perlu menjadi perhatian, terutama terkait investasi dan kinerja sejumlah sektor usaha,” ujar Rizki dalam bincang bareng media di House of Rewako Makassar, Jumat (20/2/2026).
PMTB adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto, yaitu pengeluaran untuk barang modal yang mempunyai umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi.
Selanjutnya, BI Sulsel juga memberikan sejumlah rekomendasi mendorong pertumbuhan ekonomi Sulsel. Rekomendasi ini diarahkan melalui penguatan konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan kinerja ekspor.
Baca Juga : PESyar dan Trend Hijab Dorong Modest Fashion Jadi Unggulan Sulsel
Pertama adalah menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas pasokan pangan dengan memperkuat distribusi antarwilayah, mengantisipasi risiko cuaca ekstrem, serta mengoptimalkan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar inflasi tetap terkendali.
Di sisi lain, penguatan pasar domestik dan ekosistem industri hilir dilakukan untuk mendorong permintaan dalam negeri melalui perluasan jaringan distribusi, peningkatan keterjangkauan harga, dan penguatan rantai pasok antarwilayah.
Dari sisi investasi, pemerintah mendorong Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan sektor konstruksi dengan memastikan proyek-proyek strategis berjalan lancar tanpa hambatan administrasi maupun pembiayaan.
Baca Juga : Bank Indonesia Sulsel Cetak Agen Literasi Ekonomi Syariah Lewat ToT dan Lomba Dakwah
Hilirisasi mineral bernilai tambah tinggi juga terus diperluas melalui pengembangan produk turunan strategis dan penerapan standar keberlanjutan guna meningkatkan daya saing industri nasional.
Selain itu, diversifikasi struktur ekonomi daerah didorong melalui pengembangan industri pengolahan berbasis pertanian serta sektor jasa produktif sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan.
Sementara itu, dari sisi belanja, percepatan realisasi belanja pemerintah daerah dilakukan melalui strategi frontloading belanja produktif dan percepatan belanja modal untuk menjaga momentum permintaan domestik sejak awal tahun.
Baca Juga : OJK Bersama BI Inisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia Perkuat Talenta Digital
Pemerintah daerah juga memperkuat ketahanan fiskal dengan mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), meningkatkan kualitas belanja, serta memanfaatkan skema pembiayaan alternatif seperti Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan kolaborasi dengan perusahaan lokal.
Di sektor eksternal, stabilitas output sektor nikel dan industri pengolahan dijaga melalui koordinasi penyesuaian RKAB agar transisi produksi tetap terukur dan pemanfaatan smelter berjalan optimal.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar