Logo Sulselsatu

Kasus Dugaan KDRT Oknum Polisi di Gowa Disetop, Kabid Propam Polda Sulsel Didesak Periksa Penyidik

Asrul
Asrul

Sabtu, 09 Mei 2026 19:27

Kantor Kepolisian Daerah Sulsel. Ist
Kantor Kepolisian Daerah Sulsel. Ist

SUSELSATU.com, MAKASSAR – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak Rakyat mendesak Kabid Propam Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) Kombes Zulham Effendy untuk segera memeriksa oknum polisi berinisial AKP S yang diduga melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap istrinya di Kabupaten Gowa.

LBH juga menilai terdapat kejanggalan dalam penghentian kasus tersebut sehingga meminta penyidik yang menangani perkara turut diperiksa.

“Terkait dugaan tindak Pidana kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan oknum kepolisian yang bertugas di Binmas Polda Sulsel untuk itu kami meminta kepada Kabid Propam Polda Sulsel dalam hal ini Kombes Zulham untuk memeriksa Penyidik yang menangani perkara ini terkait dengan surat penghentian penyelidikan dengan alasan tidak ada niat melakukan kejahatan,” ujar Direktur LBH Anak Rakyat Karnawan yang juga kuasa hukum korban, kepada sulselsatu, Sabtu (9/5/2026).

Baca Juga : Ditetapkan Tersangka, Penasehat Hukum Korban Minta Polisi Segera Tahan Oknum Guru Penganiaya Murid di Jeneponto.

Karnawan menilai terdapat kejanggalan dalam penghentian penyelidikan kasus dugaan KDRT tersebut. Sebab, pihak korban disebut telah melengkapi alat bukti berupa keterangan saksi hingga hasil visum.

“Padahal bukti saksi atau hasil visum itu sudah lengkap. Kami menganggap ini melanggar tiga hal itu yang pertama pelanggaran terhadap alasan sah penghentian penyelidikan. Kedua pelanggaran azas profesionalisme dan prosedur dalam hal ini per kapolri,” ungkapnya.

Selain itu, Karnawan juga menilai penghentian penyelidikan tersebut melanggar hak korban untuk mendapatkan kepastian hukum. Menurutnya, penghentian penyelidikan seharusnya hanya dapat dilakukan apabila alat bukti dinilai tidak cukup.

Baca Juga : 20 Motor Berknalpot Brong di Manggala Makassar Disita Polisi

“Yang ketiga pelanggaran terhadap hak korban dan kepastian hukum. Dimana pemberhentian penyelidikan hanya boleh dikeluarkan jika tidak cukup bukti. Jika bukti cukup alasan ini gugur,” lanjutnya.

Karnawan juga menyoroti alasan penghentian penyelidikan yang menyebut tidak adanya unsur niat dalam perkara tersebut. Menurutnya, adanya hasil visum dan keterangan saksi justru telah mengarah pada dugaan tindak pidana kekerasan.

“Kemudian peristiwa tersebut bukan tindak pidana jika ada visum dan saksi yang mengarah kepada kekerasan atau kejahatan ini jelas tindak pidana,” tuturnya.

Baca Juga : Bupati Gowa Husniah Tersangka Korupsi PBG Tak Ditahan Karena Dianggap Kooperatif

Dia menegaskan, unsur niat atau mens rea merupakan ranah pembuktian di persidangan, bukan alasan untuk menghentikan penyelidikan pada tahap kepolisian, terlebih jika alat bukti telah dinilai lengkap.

“Menurut kami mengatakan tidak ada niat atau mens area adalah ranah pembuktian dipersidangan bukan alasan memberhentikan penyelidikan di tahap kepolisian, terutama jika itu perbuatan fisik dan bukti lengkap,” tambahnya.

Selain menyoroti penghentian penyelidikan, Karnawan juga meminta Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Zulham Effendy memeriksa oknum polisi berinisial AKP S yang diduga melakukan KDRT terhadap istrinya. Menurutnya, dugaan perbuatan tersebut bertentangan dengan Peraturan Kepolisian Negara Nomor 7 Tahun 2022 tentang kode etik dan komisi kode etik Polri.

Baca Juga : Bupati Gowa Husniah Dicekal Polda Sulsel ke Luar Negeri Usai Tersangka Korupsi

“Yang kedua kami juga meminta kepada Kabid Propam Polda Sulsel untuk memeriksa terlapor yang berprofesi sebagai polisi yang patut diduga melakukan KDRT terhadap istrinya dalam hal ini klien kami,” bebernya.

“Berdasarkan peraturan kepolisian negara nomor 7 tahun 2022 tentang kode etik dan komisi kode etik Polri, dimana dalam peraturan tersebut secara tegas melarang anggota Polri melakukan KDRT,” jelasnya.

Diketahui, dugaan KDRT itu terjadi di rumah korban dan terlapor di BTN Jenetalasa, Kabupaten Gowa. Peristiwa tersebut disebut telah berlangsung sejak 2022, namun baru dilaporkan korban ke Polda Sulsel pada 16 Juli 2024.

Baca Juga : Bupati Gowa Husniah Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerasan dan Pengurusan PBG

“Pada tanggal 16 Juli (2024) korban mendatangi kepolisian daerah Sulawesi Selatan untuk melapor adanya tindak pidana kekerasan terhadap dirinya yang dilakukan oleh suaminya,” ungkap Karnawan.

Karnawan menyebut AKP S yang merupakan mantan Kapolsek di Kabupaten Gowa diduga melakukan KDRT terhadap istrinya hingga korban mengalami penganiayaan menggunakan ikat pinggang dan kepalanya dibenturkan ke tembok. Namun, kasus tersebut dikabarkan telah dihentikan penyidik Polda Sulsel melalui penerbitan surat penghentian penyidikan.

“Pada tanggal 27 Februari (2026) disitulah korban menerima surat penghentian penyelidikan (dari Polda Sulsel),” pungkasnya.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Penulis : Zulkarnaim
Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Pendidikan27 Oktober 2026 21:47
OJK Bekali 500 Pelajar Sekolah Rakyat Literasi Keuangan dan Keterampilan Digital
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membekali sekitar 500 pelajar Sekolah Rakyat dengan literasi keuangan dan keterampilan digital melalui program OJK Digicl...
Makassar27 Oktober 2026 21:16
KMI 2026 di Makassar Bahas Royalti dan AI, Fadli Zon Dorong Musik Jadi Kekuatan Ekonomi
SULSELSATU.com, MAKASSAR — Persoalan royalti dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu isu yang dibahas...
News27 Oktober 2026 20:38
PLN UIP Sulawesi Perkuat Infrastruktur demi Pemerataan Listrik
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-81 melalui upacara di Kantor PLN UIP Sulawesi, Sela...
News27 Oktober 2026 18:59
PATSI UMI Gandeng Waskita–Adhi KSO, Siapkan SDM Konstruksi Muda melalui Program Magang Fresh Graduate
SULSELSATU, MAKASSAR — Dewan Pengurus Pusat Persatuan Alumni Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (DPP PATSI UMI) mulai merealisasikan komitmen...