SULSELSATU.com, LUWU TIMUR – Di tengah kawasan operasi PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, terdapat hamparan hijau Taman Kehati Sawerigading Wallacea dengan cerita tentang perjalanan panjang pemulihan lahan.
Kawasan yang kini dipenuhi pepohonan, satwa, dan berbagai jenis tanaman itu menjadi gambaran bagaimana lahan yang pernah ditambang dapat kembali menjadi ruang bagi kehidupan.
Semuanya berawal dari proses pembibitan yang berlangsung di lahan seluas 5 hektare bernama Nursery Taman Kehati. Dari tempat inilah ratusan ribu bibit pohon dipersiapkan setiap tahun untuk mendukung revegetasi dan rehabilitasi lahan bekas kegiatan operasional PT Vale.
Baca Juga : PT Vale Bawa 37 Produk UMKM Binaan ke Kriyanusa 2026
Team Leader Revegetation PT Vale Indonesia Harun Tandioga mengatakan, Nursery memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan tanaman yang dibutuhkan untuk proses penghijauan.
Pusat pembibitan tersebut memiliki kapasitas hingga 700 ribu bibit pohon per tahun, yang kemudian digunakan untuk kebutuhan reklamasi, rehabilitasi, hingga penghijauan di berbagai area perusahaan.
“Ada 74 jenis tanaman endemik yang dibudidayakan. Dari yang langka hingga pohon yang paling mahal. Pohon langka seperti eboni, dengen, kaloju, kumea, dan pohon kayu besi, dan mata kucing. Lalu ada Gaharu yang paling mahal,” kata Harun saat kunjungan ke Taman Kehati, Selasa (28/7/2026) lalu.
Baca Juga : Lahan Kritis Berbuah, Ekosistem Pesisir Terjaga
Tanaman-tanaman tersebut tidak sekadar dikumpulkan untuk memperkaya koleksi Nursery, tetapi menjadi bagian dari upaya mempertahankan jenis lokal dan endemik yang memiliki peran dalam ekosistem.
Sebagian tanaman diperoleh dari kawasan hutan sebelum kegiatan penambangan dilakukan, kemudian dirawat dan dibudidayakan agar tetap tersedia untuk mendukung proses pemulihan lahan.
Di dalam Nursery, perjalanan sebuah pohon dimulai dari bibit yang dirawat hingga memiliki kondisi yang siap ditanam di lapangan.
Baca Juga : PT Vale Bangun Fire Shelter Pertama di Bungku Timur, Perkuat Kesiapsiagaan Kebakaran
Proses tersebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan kegiatan revegetasi karena pemulihan lahan membutuhkan ketersediaan tanaman secara terus-menerus.
Fasilitas pembibitan PT Vale dilengkapi sejumlah sarana pendukung, mulai dari germination house, greenhouse, cutting house, area pengatur cahaya atau shade area, hingga fasilitas pendukung Nursery Information System Vale Indonesia (NISVI).
Rangkaian fasilitas tersebut membuat proses pembibitan tidak berhenti pada menanam benih, tetapi menjadi sebuah sistem yang menyiapkan tanaman hingga siap mendukung penghijauan lahan.
Baca Juga : PT Vale Dukung Kolaborasi Multipihak untuk Kelola Danau Matano Berkelanjutan
Harun menjelaskan, keberadaan nursery juga berkaitan langsung dengan siklus pertambangan yang diikuti proses reklamasi setelah kegiatan penambangan selesai.
“Dalam siklus pertambangan, PT Vale menerapkan reklamasi yaitu penanaman kembali setelah masa penambangan. Contohnya, pusat pembibitan ini dulunya area tambang namun sekarang sudah kembali hijau,” jelasnya.
Taman Kehati Sawerigading Wallacea yang dulunya adalah lahan bekas tambang pertama PT Vale pada 1969 menuju 1970 silam. Kini, tumbuh menjadi kawasan hijau yag berubah menjadi satu ekosistem yang membentuk lingkungan bagi berbagai jenis flora dan fauna.
Baca Juga : Dari Air Limpasan Tambang ke Air Terolah, Menelusuri Peran LGS PT Vale
Taman Kehati, Bukti Lahan Bekas Tambang Kembali Hijau
Taman Kehati Sawerigading Wallacea memiliki luas sekitar 71,8 hektare dan dikembangkan dengan fungsi konservasi, edukasi, serta rekreasi dan edukasi.
Kawasan ini menjadi bagian dari upaya PT Vale menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk melihat secara langsung proses pemulihan lingkungan.
Keberadaan berbagai jenis tanaman itu membuat Taman Kehati tidak sekadar menjadi kawasan hijau, tetapi berkembang menjadi ruang yang mendukung terbentuknya ekosistem keanekaragaman hayati.
Perubahan itu semakin terlihat dari keberadaan satwa yang ikut menjadi bagian dari kawasan konservasi.
Taman Kehati menjadi lokasi penangkaran rusa timor serta pengembangan habitat bagi kupu-kupu lokal dan endemik. Fasilitas penangkaran Rusa PT Vale ini merupakan hasil kerja sama dengan balai besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulselbar.
Ke depan, kawasan tersebut juga diarahkan menjadi ruang penangkaran kupu-kupu endemik serta tempat untuk berbagai jenis burung. Salah satunya kupu-kupu endemik Cytosia Myrina. Langkah pertama yang dilakukan PT Vale adalah menanam sejumlah pohon yang menjadi makanan kupu-kupu.
“Untuk menghadirkan kupu-kupu, misalnya, PT Vale menanam berbagai jenis tumbuhan yang menjadi sumber makanan dan tempat hidupnya,” ujar Harun lebih lanjut.
Harun menjelaskan, konsep serupa diterapkan dalam pengembangan tanaman lokal dan endemik di Taman Kehati. Nantinya, Taman Kehati tidak hanya memperkaya vegetasi, tetapi juga menyediakan makanan dan habitat sehingga ekosistem dapat berkembang secara alami.
Taman Kehati sebelumnya telah diumumkan sebagai taman edukasi yang dibuka untuk umum mulai 29 Juli 2023 lalu. Semua kalangan bisa masuk, melihat fasilitas Taman Kehati.
Siswa SDN 279 Rante Angin membawa pembelajaran tentang lingkungan dari ruang kelas ke kawasan bekas tambang yang telah dihijaukan.
Sebanyak 42 siswa kelas 4 hingga 6 bersama 10 guru mengunjungi Taman Kehati untuk mempelajari pengelolaan lingkungan secara langsung.
Mereka tidak hanya melihat pepohonan dan satwa, tetapi juga belajar memilah sampah serta mempraktikkan teknik stek untuk memperbanyak tanaman.
Kegiatan tersebut memperlihatkan fungsi lain dari Taman Kehati sebagai ruang edukasi mengenai keberlanjutan lingkungan.
Anak-anak dapat melihat bahwa proses menghijaukan lahan membutuhkan tahapan panjang, mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan hingga terbentuknya lingkungan yang dapat dihuni berbagai makhluk hidup.
Kepala SDN 279 Rante Angin Sungi mengatakan, kunjungan tersebut diharapkan dapat membawa pengetahuan baru bagi siswa untuk diterapkan di sekolah dan lingkungan tempat tinggal mereka.
“Kami ingin anak-anak belajar bagaimana perusahaan mengelola lingkungan, hal ini yang akan dibawa kembali ke sekolah dan desa untuk dikembangkan. Anak-anak perlu belajar cara mencintai lingkungan sejak dini,” katanya.
Keberadaan Taman Kehati memperlihatkan bahwa penghijauan lahan bekas tambang bukan sekadar mengubah warna tanah menjadi hijau.
Lebih dari itu, proses tersebut diarahkan untuk menghadirkan kembali vegetasi yang kemudian menjadi bagian dari rantai kehidupan di dalam suatu kawasan.
Selama 2025, PT Vale melakukan konservasi dan penanaman kembali 72.296 pohon lokal, endemik, dan dilindungi, meningkat sekitar 6 persen dibandingkan 2024.
Upaya konservasi satwa liar juga dilakukan PT Vale melalui pengelolaan spesies dalam program konservasi. Terdapat 18 rusa Timor (Cevrus timorensis) dan 1 anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dalam pengelolaan konservasi yang mencerminkan upaya berkelanjutan PT Vale untuk melindungi spesies prioritas konservasi dan mendukung populasi fauna asli yang lestari.
Hal tersebut menjadi penting karena keberhasilan revegetasi pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya pohon yang ditanam.
Indikator lainnya adalah ketika kawasan mulai mampu menyediakan ruang bagi tumbuhan, serangga, burung, dan satwa lain untuk hidup secara berdampingan. PT Vale menempatkan nursery sebagai salah satu titik awal dari proses tersebut.
Bibit yang tumbuh di nursery menjadi modal untuk mengisi lahan reklamasi dan rehabilitasi, sementara Taman Kehati memperlihatkan bagaimana vegetasi yang telah tumbuh dapat berkembang menjadi kawasan dengan fungsi ekologis yang lebih luas.
Direktur External Relations PT Vale Endra Kusuma mengatakan, Taman Kehati memang disiapkan sebagai sarana pembelajaran publik mengenai pengelolaan lingkungan.
“Kami ingin ada sarana belajar untuk publik terkait pengelolaan lingkungan. Di sini, masyarakat bisa melihat bagaimana komitmen perusahaan melakukan pertambangan berkelanjutnya,” ujarnya.
Kawasan tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperlihatkan perjalanan pemulihan lahan kepada masyarakat.
Dari area yang pernah digunakan untuk kegiatan pertambangan, kini terdapat pepohonan, nursery, penangkaran rusa, habitat kupu-kupu, hingga ruang edukasi yang saling terhubung dalam satu kawasan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar