Logo Sulselsatu

IMF Soroti Rendahnya Penerimaan Pajak RI

Asrul
Asrul

Minggu, 04 Agustus 2019 21:29

Ilustrasi. (INT)
Ilustrasi. (INT)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Rendahnya penerimaan RI menjadi sorotan Dana Moneter Internasional (IMF). Penerimaan yang masih rendah itu di sektor pajak.

Ini terkuak saat IMF merilis hasil assessment terhadap perekonomian Indonesia dalam laporan bertajuk Article IV Consultation 2019.

Secara keseluruhan, IMF menilai positif kinerja perekonomian Indonesia sepanjang 2018 yang dianggap cukup berdaya tahan di tengah tekanan eksternal.

Namun, IMF menyoroti penerimaan negara yang masih rendah, terutama dari sisi penerimaan pajak. Ini tecermin dari rasio pajak terhadap produk domestik bruto (PDB) di bawah 15 persen.

“Dewan Direktur IMF memandang pendapatan pemerintah berada di bawah negara-negara sebaya dan tidak cukup untuk membiayai tujuan-tujuan pembangunan,” terang IMF dalam laporannya dikutip Kontan, Minggu (4/8/2019).

Dalam konteks ini, IMF menilai adanya kebutuhan yang cukup kritis untuk menerapkan strategi pendapatan jangka menengah, yang menggabungkan reformasi kebijakan perpajakan dan prioritas administrasi yang baik.

Ini agar pemerintah mampu membiayai belanja prioritas dan reformasi struktural, serta mengurangi ketergantungan pada pembiayaan eksternal.

IMF menyadari, beberapa upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk memperbaiki administrasi perpajakan. Mulai dari melakukan audit atau pemeriksaan berbasis risiko, mencabut aturan kerahasiaan bank, dan mengembangkan sistem teknologi yang berkelanjutan.

Hanya saja, meski penerimaan negara mencapai Rp1.942,3 triliun atau tembus 102,5 persen dari target APBN 2018, IMF memandang pertumbuhan penerimaan Indonesia masih jauh lebih kecil dibandingkan kebutuhan untuk membiayai agenda pembangunan prioritas pemerintah.

Selain menerapkan strategi penerimaan pajak yang efektif, IMF juga menyarankan pemerintah melakukan efisiensi belanja salah satunya dengan mengurangi subsidi energi.

Caranya, memberlakukan penyesuaian harga BBM secara otomatis mengikuti pasar sambil tetap memperkuat jaring pengaman sosial untuk masyarakat kelas bawah.

Selain itu, IMF menyarankan pemerintah menghindari kebijakan-kebijakan yang berpotensi menurunkan penerimaan, di antaranya menambah insentif perpajakan.

Editor: Hendra Wijaya

 

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Ekonomi31 Oktober 2026 21:20
OJK Kolaborasi DPR RI Edukasi Keuangan Masyarakat Maros
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat bersama Anggota Komisi XI DPR RI Andi Yuliani Paris mengedukasi masyarakat Kabupaten ...
News31 Oktober 2026 19:10
Dilanda El Nino, Mesin Air Konversi LPG Hijaukan Sawah Petani
Sakir Daeng Sewang (62) baru saja pulang dari Agen Liquefied Petroleum Gas (LPG) di kampung tetangga, Rabu 28 Oktober 2026, pagi. Di dek motor tuanya,...
News31 Oktober 2026 13:41
Vale Indonesia Buka Peluang Vendor Lokal di IGP Pomalaa
PT Vale Indonesia Tbk membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat dalam rantai pasok Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa melalui sosiali...
News31 Oktober 2026 12:58
Pelindo dan Pemprov Sulsel Perkuat Kerja Sama Maritim
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Group bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan membahas penguatan kerja sama untuk meningkatkan laya...