Logo Sulselsatu

Catut Nama Adat untuk Palang Seba-seba, Gusti Riadi Terancam Hukuman 14 Tahun

Redaksi
Redaksi

Sabtu, 12 September 2026 22:25

Abdul Hamid Hasyim selaku perwakilan sah ahli waris Raja Abdul Rabbie saat bertemu dengan pihak pertambangan Mind ID di Morowali. Foto: Istimewa.
Abdul Hamid Hasyim selaku perwakilan sah ahli waris Raja Abdul Rabbie saat bertemu dengan pihak pertambangan Mind ID di Morowali. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com – Rangkaian aksi pemalangan lahan di area konsesi pertambangan group Mining Industry Indonesia (MIND ID) di Seba-seba, Morowali yang selama ini diposisikan Gusti Riadi seolah perjuangan adat, kini resmi ilegal dan melanggar hukum.

Alih-alih mendapat simpati publik, manuver liar yang dimotori Gusti Riadi dan kelompoknya tersebut justru berbalik menjadi bumerang hukum yang siap menyeret mereka ke balik jeruji besi atas dugaan tindakan kriminal murni.

Kelicikan kelompok Gusti Riadi ini terbongkar setelah keluarga ahli waris sah Raja Bungku terakhir, Raja Abdul Rabbie memberikan klarifikasi keras.

Baca Juga : Muncul Bela Aliansi di Bungku Timur, Rekam Jejak Irwan Arya Disorot

Pihak keluarga secara terbuka membongkar kedok Gusti Riadi dkk yang nekat menyeret-nyeret nama besar sang Raja hanya demi melegitimasi syahwat klaim lahan sepihak tanpa pernah mengantongi izin maupun restu resmi.

Abdul Hamid Hasyim selaku perwakilan sah ahli waris Raja Abdul Rabbie menegaskan, pihak keluarga sama sekali tidak pernah mengeluarkan rekomendasi khusus, apalagi memberikan restu adat bagi Gusti Riadi untuk melakukan blokade liar di wilayah operasional PT Vale tersebut.

“Tindakan mereka sangat keliru, dan kami sangat keberatan dengan tindakan itu,” ujar pria yang akrab disapa Om Hamid ini saat ditemui di Kediaman Raja Bungku, Kelurahan Marsaoleh, Kecamatan Bungku Tengah, Jumat kemarin (11/9/2026).

Baca Juga : Sepekan Tak Bekerja Akibat Akses Diblokade, Karyawan Awak Mas Turun Demo

Menjual Nama Raja demi Nafsu Pribadi: Indikasi Pidana Berlapis Mengintai*
Dengan adanya pembantahan telak dari pihak Istana Bungku, pondasi argumen yang dibangun Gusti Riadi otomatis lenyap.

Tanpa adanya alas hak adat yang sah, aksi koboi memasang palang kayu di atas wilayah konsesi negara tersebut bukan lagi sekadar urusan protes biasa, melainkan murni perbuatan kriminal yang melanggar hukum negara.

Secara yuridis, tindakan Gusti Riadi yang mencatut nama besar orang lain demi keuntungan tertentu terindikasi kuat menabrak Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun penjara, serta Pasal 378 KUHP tentang Penipuan yang diancam pidana penjara paling lama 4 tahun.

Baca Juga : PT Vale Bawa 37 Produk UMKM Binaan ke Kriyanusa 2026

Tidak hanya itu, aksi sepihak mematok lahan milik pihak lain juga berpotensi besar dijerat dengan Pasal 385 KUHP tentang Penyerobotan Tanah (Stellionaat) dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.

Rentetan pasal berlapis ini menjadi bukti nyata bahwa apa yang dilakukan kelompok Gusti Riadi telah memenuhi unsur pidana yang terencana dengan total potensi ancaman akumulatif hingga 14 tahun bui.

Padahal, kontras dengan keliaran yang dipertontonkan Gusti Riadi, pihak keluarga Raja Abdul Rabbie justru memiliki pandangan yang jauh lebih maju dan mulia demi mendorong kesejahteraan masyarakat lingkar tambang melalui perputaran ekonomi daerah.

Baca Juga : Lahan Kritis Berbuah, Ekosistem Pesisir Terjaga

“Justru yang kita harapkan disini adalah investasi tumbuh, berkembang, ekonomi berputar dan masyarakat bisa menikmati pekerjaan di wilayah konsesi Vale,” tegas Om Hamid di hadapan para ahli waris yang hadir.

Bagi pihak keluarga, keberanian oknum seperti Gusti Riadi yang menjadikan nama suci Raja Abdul Rabbie sebagai klaim untuk menguasai lahan di Seba-seba adalah sebuah bentuk pelecehan terhadap tatanan adat sekaligus pembangkangan terhadap hukum negara.

“Tidak betul itu, itu melanggar hak dan hukum negara itu. Apa dasarnya melakukan tindakan seperti itu, itu tindakan yang keliru dan perlu diluruskan,” tandas Om Hamid dengan nada geram yang tak bisa disembunyikan.

Baca Juga : PT Vale Terapkan Teknologi Digital di Tambang Morowali

Klarifikasi mematikan dari pihak ahli waris ini menjadi titik terang bagi publik Bungku. Gusti Riadi kini tidak bisa lagi bersembunyi di balik jubah adat yang palsu.

Bola panas kini berada penuh di tangan aparat penegak hukum, Polres Morowali, untuk segera bertindak tegas mengusut indikasi kriminalitas ini, sebelum aksi premanisme berkedok adat tersebut merusak iklim investasi dan kedamaian masyarakat.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Politik30 Oktober 2026 08:15
Idrus Marham Tegaskan Golkar Tak Goyah Dukung Prabowo Meski Tiga Menterinya Dikritik
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham, menegaskan kritik yang disampaikan dari dal...
Otomotif29 Oktober 2026 17:56
Toyota Hadirkan T Intouch with Toyota Remote di Innova Zenix
Kalla Toyota memperkenalkan teknologi konektivitas terbaru T Intouch with Toyota Remote yang memungkinkan pemilik mengakses dan mengontrol sejumlah fu...
Aneka29 Oktober 2026 14:44
Asmo Sulsel Ingatkan Pentingnya Servis Motor Berkala
Astra Motor Sulawesi Selatan (Asmo Sulsel) mengingatkan konsumen Honda agar melakukan perawatan sepeda motor sejak awal pemakaian untuk menjaga perfor...
Bisnis29 Oktober 2026 14:11
Indosat Raup Pendapatan Rp45,8 Triliun hingga September 2026
PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison) membukukan pendapatan Rp45,8 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026....