SULSELSATU.com, BARRU – Dinas Kesehatan Kabupaten Barru menyebut penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih jadi salah satu momok menakutkan setiap musim hujan tiba. Sepanjang dua tahun terakhir, pemerintah menemukan sedikitnya 57 kasus DBD di Barru.
“Untuk di tahun 2018 ada 44 kasus dan 2019 ada 13 kasus. Semuanya tersebar di hampir wilayah di Barru,” kata Kepala Seksi P2P Dinkes Barru, Misbahuddin kepada Sulselsatu.com, Senin (6/1/2020).
Misbah kemudian merinci sejumlah wilayah yang rawan terjangkit penyakit DBD. Di antaranya,
wilayah Takklasi, Kelurahan Lalolang dan Tanete, Mangkoso, Lapakaka dan Labuange, wilayah Puskesmas Padongko Perunggu, Sumpang Binangae, Limpomajang, dan Lisu Tanete Rilau.
Baca Juga : Musim Hujan Tiba, Dinkes Barru Imbau Warga Waspada Penyakit DBD
Meski demikian, tren kasus DBD mengalami penurunan setahun terakhir. Ia pun mengimbau agar warga tetap waspada dengan menerapkan pola hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan.
“DBD ini hampir tiap tahun ada karena wilayah yang rawan selalu muncul kasus demam berdarah. Ini turut disebabkan pada ke pola sanitasi warga. Kita ketahui jika jentik nyamuk Aedes Aegypti itu hanya ada berada pada dalam rumah. Maka perlu adanya keaktifan warga untuk melakukan pembersihan bak air yang terdapat dalam rumahnya,” kata Misbah.
Sebelumnya, Sekretaris Dinkes Barru Muhammad Sukri mengimbau agar kelompok kerja operasional penanggulangan DBD atau menggalakkan kader Jumantiknya (Juru Pemantau Jentik) bisa bekerja maksimal.
“Ini perlu diketahui warga, ciri-ciri penyakit DBD bisa kita lihat dari demam tinggi 2-5 hari, tanda bintik-bintik merah di kulit dan mimisan, syok yang ditandai oleh kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan penderita tampak gelisa segera bawa ke Puskesmas terdekat atau Rumah Sakit,” kata dia.
Penulis: Asriadi Rijal
Editor: Awang Darmawan
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar