Logo Sulselsatu

PT Vale Catat Laba US$43,6 Juta Triwulan Pertama 2026, Produksi Nikel 13.620 Ton

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Rabu, 29 April 2026 20:19

Nursery PT Vale di Morowali. Foto: Istimewa.
Nursery PT Vale di Morowali. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com, MAKASSARPT Vale Indonesia Tbk mencatat kinerja keuangan yang solid pada triwulan pertama 2026 meski produksi dan pengiriman nikel matte mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$43,6 juta atau naik 85 persen dibanding triwulan IV 2025 yang sebesar US$23,6 juta.

EBITDA juga meningkat 29 persen menjadi US$80,1 juta dari sebelumnya US$61,9 juta. Sementara pendapatan tercatat sebesar US$252,7 juta.

Baca Juga : PT Vale Tingkatkan Layanan Kesehatan Morowali Lewat Service Excellence Program

Produksi nikel matte pada triwulan pertama 2026 mencapai 13.620 metrik ton, lebih rendah dibanding triwulan IV 2025 sebesar 17.052 ton dan periode yang sama tahun lalu sebesar 17.027 ton.

Penjualan nikel matte juga turun menjadi 13.727 ton dari sebelumnya 18.418 ton pada triwulan IV 2025.

Penurunan produksi ini disebut sejalan dengan rencana perusahaan, termasuk optimalisasi pemeliharaan terjadwal dan pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan selesai pada semester I 2026, serta dampak dari persetujuan RKAB 2026.

Baca Juga : Pekerja Perempuan di PT Vale Terus Bertambah, Capai 12,37 Persen pada 2026

Meski demikian, PT Vale tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target produksi setahun penuh sebesar 67.645 ton.

Selain produksi nikel matte, 2026 menjadi fase penting bagi PT Vale karena mulai mengoperasikan tiga blok tambang secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.

Di Blok Bahodopi, volume penjualan bijih nikel saprolit mencapai 886.094 wet metric ton (wmt), sementara di Blok Pomalaa volume penjualan bijih nikel limonit tercatat 88.983 wmt.

Baca Juga : PT Vale Tegaskan Hilirisasi Hijau dan Pemberdayaan UMKM di HUT Sultra

Penjualan pertama limonit dari Pomalaa pada awal 2026 menjadi tonggak penting dalam diversifikasi bisnis perusahaan.

PT Vale juga mencatat harga rata-rata nikel matte sebesar US$14.213 per metrik ton, naik 15 persen dibanding triwulan IV 2025 yang sebesar US$12.308 per ton. Kenaikan harga ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan pendapatan perusahaan.

Dari sisi biaya, biaya tunai per unit penjualan nikel matte tercatat sebesar US$10.382 per ton, sedikit lebih tinggi dari US$9.573 per ton pada triwulan sebelumnya, terutama akibat kenaikan harga input komoditas.

Baca Juga : PT Vale Raih Pinjaman Sindikasi Berbasis ESG Senilai US$750 Juta

Sementara itu, biaya tunai bisnis bijih nikel tetap stabil, yakni US$21 per ton untuk Bahodopi dan US$13 per ton untuk Pomalaa, termasuk royalti dan logistik.

Untuk konsumsi energi, volume HSFO tercatat 267.927 barel dengan harga rata-rata US$76,65 per barel. Konsumsi diesel mencapai 14.142 kiloliter dengan harga rata-rata US$0,82 per liter, sedangkan konsumsi batu bara mencapai 90.378 ton dengan harga rata-rata US$127,97 per ton.

Pada 23 April 2026, PT Vale juga menandatangani Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$750 juta. Fasilitas pinjaman sindikasi berbasis ESG ini menjadi yang pertama di industri pertambangan Asia Tenggara.

Baca Juga : Partisipasi Perempuan di Industri Tambang Naik, PT Vale Catat Peningkatan Setiap Tahun

Selama triwulan pertama 2026, perusahaan menggelontorkan belanja modal sebesar US$139 juta untuk mendukung operasional berkelanjutan dan proyek pertumbuhan strategis.

Per 31 Maret 2026, posisi kas dan setara kas perusahaan tercatat sebesar US$220,1 juta, turun dari US$376,4 juta pada akhir 2025.

CEO dan Presiden Direktur PT Vale Bernardus Irmanto mengatakan, perusahaan tetap mampu menjaga margin positif dan disiplin keuangan di tengah tantangan operasional.

“Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dan lingkungan operasional yang tidak pasti, kami terus menunjukkan kemampuan kami untuk mempertahankan margin positif dan disiplin keuangan,” kata Bernardus.

Ia menambahkan, dimulainya penjualan limonit dari Blok Pomalaa menjadi langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan keberlanjutan bisnis perusahaan ke depan.

“Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial kami melalui dimulainya penjualan limonit dari blok Pomalaa, yang menandai langkah penting dalam memperkuat diversifikasi pendapatan dan meningkatkan keberlanjutan bisnis kami ke depan,” ujarnya.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Video29 April 2026 23:33
VIDEO: Prabowo Bantah Isu Indonesia Gelap, Sarankan yang Ingin Kabur Pindah ke Yaman
SULSELSATU.com – Presiden Prabowo Subianto menanggapi pihak yang menyebut Indonesia gelap dengan tegas. Prabowo mengatakan orang yang berkoar te...
Video29 April 2026 20:28
VIDEO: Prabowo Targetkan Perbaikan 70 Ribu Sekolah pada 2026
SULSELSATU.com – Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan perbaikan 70 ribu sekolah pada 2026. Hal itu disampaikan saat meninjau renovasi SMAN 1 Cil...
Makassar29 April 2026 20:14
Sekda Makassar Minta KORPRI Aktif Dukung Pengelolaan Sampah dan Smart City
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ketua Dewan Pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Makassar, Andi Zulkifly, menegaskan pentingnya profesi...
Video29 April 2026 19:48
VIDEO: Kapolda Sulsel Raih Penghargaan IKPA 2025 dari Kapolri
SULSELSATU.com – Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., menerima penghargaan prestisius dari Kapolri atas c...