SULSELSATU.com, MAKASSAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar telah melonggarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Hal tersebut bisa dilihat dari mulai ramainya sejumlah pusat perbelanjaan yang ada di Kota Makassar.
Keputusan tersebut mengundang keprihatinan dari para tenaga medis. Pengorbanan mereka sebagai garda terdepan melawan Covid-19 seperti sia-sia. Apalagi, sudah banyak tenaga medis yang meninggal dunia akibat terjangkit virus ini.
Pada acara live streaming KataNone yang dipandu Irman Yasin Limpo, malam tadi, dua tenaga medis yang akhirnya harus berstatus positif Covid-19, angkat bicara. Keduanya adalah perawat yang bekerja di salah satu rumah sakit besar di Makassar, dan kini menjalani proses karantina.
Baca Juga : Perdana, KataNone Live Podcast Mulai Tayang Malam Ini
Narasumber pertama, Miss F, mengakui, bekerja sebagai perawat, resiko terpapar virus tersebut sangat tinggi. Awalnya, ia tidak merasakan apapun dan masih bekerja seperti biasa. Setelah dilakukan tes massal di rumah sakit tempat ia bekerja, hasil rapid test menunjukkan positif. Saat menjalani pemeriksaan lanjutan, test swab, hasilnyapun ternyata positif.
“Saya curiganya mulai terpapar saat merawat pasien Covid-19, dimana APD belum lengkap dan masih pakai jas hujan. Saya curiganya dari situ. Karena menurut dokter infeksinya sudah lama dan dalam tahap menunggu virusnya melemah sendiri,” tuturnya.
Meski tanpa gejala, menurut Miss F, justru mereka yang berstatus OTG adalah yang paling berbahaya. Mereka bisa menularkan kepada siapa saja, karena mereka merasa aman.
“Jadi sebenarnya yang paling bahaya itu yang OTG. Mereka paling banyak menularkan karena mereka pikir mereka aman,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah tegas, sehingga mata rantai penyebaran Covid-19 ini bisa diputus. Miss F juga sangat menyayangkan sikap Pemkot Makassar yang seakan melonggarkan aturan PSBB.
“Tentu saja menyayangkan. Kasihanilah kami tenaga medis. Sekarang saja PSBB, tapi banyak yang tidak sadar. Semakin hari semakin banyak terkonfirmasi positif,” bebernya.
Ia juga menceritakan betapa tersiksanya para tenaga medis menggunakan hazmat seraya merawat pasien. “Kami dibatasi jam kerja selama empat hingga lima jam. Kenapa? Karena didalam hazmat itu panasnya luar biasa, harus tahan lapar, tahan haus, bahkan tahan kencing,” ungkapnya.
Selain itu, jumlah tenaga medis untuk merawat pasien Covid-19 juga terbatas. Perawat yang hamil dan menyusui tidak dibolehkan bertugas.
“Jadi, tolonglah. Kami juga punya keluarga. Berapa banyak lagi tenaga medis yang harus jadi korban supaya kita semua bisa sadar,” ujarnya, seraya mengungkap jika di rumah sakit tempatnya bekerja, total ada enam tenaga medis yang terpapar Covid-19.
Senada disampaikan narasumber kedua, yang juga merupakan perawat dan terpapar Covid-19. Awalnya, ia menderita demam dan batuk kering, namun tidak menyangka jika ia positif Covid. Apalagi, dalam bekerja ia menggunakan APD. “Pas tau, langsung nangis, kaget,” tuturnya.
Ia berharap, semua kalangan bisa menyadari betapa berbahayanya virus ini. Sehingga bisa menjaga diri. Jika terpaksa keluar rumah, harus menggunakan masker, jaga kesehatan dengan rajin mencuci tangan, serta menghindari berkumpul dan jaga jarak.
Diketahui, jumlah warga yang positif Covid-19 di Sulsel terus bertambah. Hingga kemarin, menyentuh angka 900 orang lebih. Diantaranya adalah tenaga medis. Bahkan, tim KataNone mendapatkan informasi jika ada petugas rumah sakit yang sementara hamil ikut tertular virus ini. (*)
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar