Logo Sulselsatu

Kuliah Daring Tidak Mencerdaskan

ridwan ridwan
ridwan ridwan

Jumat, 13 November 2020 14:34

istimewa
istimewa

Mahasiswa sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri dari sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mahasiswa adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi. Seperti akademi, politeknik, sekolah tinggi dan yang paling terkenal dengan kata universitas. Tidak ada perbedaan mengenai tata cara atau proses belajar mengajar antara mahasiswa dan siswa.

Namun mahasiswa saat ini di hadapkan dengan sebuah persoalan proses belajar yang tidak bisa di lakukan dengan metode tatap langsung diakibatkan di awal tahun 2020, Indonesia mulai mendapat serangan wabah Virus Corona yang berdampak pada proses kehidupan warganya.

Dalam menanggapinya, pemerintah memberi kebijakan “Work From Home” (WFH). Kebijakan ini menyebabkan perkuliahan yang dulunya tatap muka langsung menjadi melalu media.

Penggunaan media komunikasi dan informasi seperti handphone menjadi salah satu alatnya. Media belajar yang fortable dan mudah digunakan. Namun adanya aplikasi sekolah baru yang terasa asing menyebabkan banyak mahasiswa sulit menggunakannya.

Menurut Hugiono dan Poerwantana “pengaruh merupakan dorongan atau bujukan dan bersifat membentuk atau merupakan suatu efek”. Adanya perubahan sistem perkuliahan menyebabkan terbentuknya dampak positif dan negatif di kalangan mahasiswa.

Kedua dampak ini menitikberatkan pada sisi negatif. Proses belajar-mengajar yang dibatasi oleh media, akan menimbulkan masalah jika alat yang digunakan terganggu. Seperti jaringan lambat, kuota habis atau penyimpanan smartphone pengguna terbatas. Adapun keluhan yang sering tersirat dari mahasiswa, “tugas menumpuk”.

Bapak atau Ibu dosen seperti memberikan tugas dua kali lipat dari biasanya. Hal ini tidak sebanding dengan dampak positifnya. Materi perkuliahan bisa saja dapat diulang kembali dilain waktu dengan cara menyimpan atau merekam materi. Namun kembali lagi pada masalah keterbatasan penyimpanan alat belajar.

Adanya perbedaan cara interpretasi tiap mahasiswa berbeda-beda berdampak pada tingkat pemahamannya yang tidak merata. Ada mahasiswa yang hanya memahami materi dengan cepat tanpa kendala apapun. Tapi tidak sedikit dari mereka yang harus terkendala dengan media untuk memahami sebuah materi yang diberikan.

Penggunaan media tidak melulu memudahkan penggunanya. Dalam bidang komunikasi, bisa saja terjadi kesalahpahaman karena tidak adanya penjelasan langsung dari komunikator. Seperti ketika dosen menjelaskan mengenai materi mata kuliahnya melalui aplikasi tatap muka di smartphone.

Sebagian mahasiswa terkesan terganggu menyimak karena terhalang media, serta kurangnya komunikasi timbal balik bisa menyebabkan tingkat pemahaman mahasiswa menurun.

Penggunaan media dalam proses belajar juga dijelaskan dalam “Teori Dale” Dale’s Cone of Experience (Kerucut Pengalaman Dale). Menjelaskan bahwa hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung, kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal.

Menurut Dale, semakin banyak indera yang terlibat maka tingkat pemahaman seseorang terhadap sesuatu hal akan semakin tinggi. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan bermakna mengenai informasi dan gagasan dalam pengalaman, karena melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.

Mahasiswa akan semakin memahami materi yang diberikan oleh dosen jika tanpa perantara media atau langsung. Media seakan-akan membatasi ruang gerak dan komunikasi penggunanya. Mahasiswa seperti tidak menerima fungsi media di dunia pendidikan.

Feed back komunikasi mahasiswa ke dosen kurang, masalah mengenai jaringan lambat yang sampai saat ini belum ada solusinya, ataupun pengeluaran isi kantong harus lebih dari biasanya untuk mengisi kuota internet. Masalah ini sering digunakan oleh sebagian besar mahasiswa ketika malas atau memang tidak dapat mengikuti perkuliahan tepat waktu.

Akhirnya, semua masalah akibat proses perkuliahan di tengah Pandemi, berdampak pada tingkat pemahaman mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa tidak memahami materi perkuliahan selama hampir setahun ini. Mereka terpaksa mengerjakan tugas dengan bantuan google atau ilmu seadanya.

Hal ini dipicu pada alasan sebagian dosen sibuk dan jarang membalas pesan dari mahasiswa. Jadi mahasiswa harus mandiri, mencari tau sendiri dan mengeluarkan uang lebih untuk mendapat ilmu. (*)

Oleh: Fadeliyah Ikhwan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

News23 Agustus 2026 20:39
PT Vale dan Pemkab Kolaka Perbaiki 6 Rumah, Beri Hunian Layak dan Akses Kesehatan Warga
PT Vale Indonesia Tbk bersama Pemerintah Kabupaten Kolaka dan Kodim 1412/Kolaka memperbaiki enam rumah warga di Kecamatan Baula....
News23 Agustus 2026 17:33
PT Bumi Karsa Tingkatkan Kompetensi BIM untuk Dorong Transformasi Digital Konstruksi
PT Bumi Karsa memperkuat transformasi digital di sektor konstruksi melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia....
Nasional23 Agustus 2026 15:51
Bantu Korban Gempa NTT, BRI Siapkan 3 Posko dan Dapur Umum
BRI memperkuat penanganan pascabencana gempa bumi di sejumlah wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan membangun tiga posko logistik dan satu ...
Ekonomi23 Agustus 2026 15:36
Investor Pasar Modal di Sulsel Capai 766.125 SID, Tumbuh 79,28 Persen
Minat masyarakat Sulawesi Selatan terhadap investasi di pasar modal menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga Juni 2026, jumlah Single Investor Iden...