SULSELSATU.com, BARRU – Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) meluncurkan kurikulum program Baca Tulis Al Quran (BTQ) tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Barru di Aula Dinas Pedididikan, Rabu (5/10/2022)
Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Kemenag, Barru Muhlis Hakim mengatakan, perumusan kurikulum BTQ yang akan diterapkan bagi pelajar menjadi catatan sejarah sendiri bagi dunia pendidikan.
“Sedari awal perencanaan ini kami sebagai bidang yang mewadahi keberadaan guru agama Islam selalu kami support dengan sangat besar. Pembentukan kurikulum BTQ ini menjadi penguatan karakter pelajar kita dimasa depan,” kata Muhlis.
Hal ini kata Muhlis, peluncuran kurikulum BTQ ini sebagai bukti akan kualitas guru agama dalam peningkatan SDM dan juga mendorong untuk para pelajar bisa terus belajar membaca dan menulis Al-Qur’an.
Ketua Dewan Pendidikan Barru, Kamaruddin Hasan mengatakan jika data mengemukakan ada 64 persen orang tidak tahu mengaji.
“Hal ini harus menjadi perhatian bersama dalam mengatasi masalah ini, dan hari ini kita bisa melihat sendiri guru agama kita berhasil meluncurkan kurikulum BTQ. Semoga dengan adanya kurikulum ini bisa lebih meningkatkan daya baca al quran pelajar kita,” apresiasi Kamaruddin.
Sementara itu, Kepala Kemenag Barru, Jamaruddin menyebut jika pihaknya akan terus memberikan perhatian kepada guru agama Islam sebagai pelopor pertama yang mengajarkan nilai-nilai agama pelajar yang ada di SD dan SMP.
“Kementerian Agama punya dua fungsi yakni agama dan pendidikan. Melalui Kasi PAIS kita harapkan guru agama Islam kita bisa meningkatkan daya baca Al Quran pelajar kita. Sehingga dengan adanya kurikulum BTQ ini bisa mengurangi angka ketidaktahuan baca al quran yang dipaparkan tadi oleh ketua dewan pendidikan kita dan saya yakin guru agama kita bisa menjawab tantangan itu,” sebutnya.
Merespon program kurikulum ini, Kepala Dinas Pendidikan Barru Andi Adnan menghimbau para kepala sekolah agar memberikan ruang seluas-luasnya kepada guru agama untuk menerapkan kurikulum BTQ ini.
“Bukan hanya itu, tapi juga kami harapkan memberikan fasilitas pendukung akan berlangsungnya proses BTQ ini. Terutama pada pembagian muatan lokal saya harap pembagiaanya bisa 1 jam bahasa daerah dan 1 jam untuk penerapan BTQ ini dan kita semua harus benar-benar mendukung keberadaan kurikulum ini,” dukungan penuh Adnan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar