Logo Sulselsatu

PT Vale Indonesia dan Huayou Teguhkan Komitmen Kepemimpinan Nikel Global Indonesia di COP30

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Senin, 17 November 2025 11:52

 PT Vale dan Huayou di COP30. Foto: Istimewa.
PT Vale dan Huayou di COP30. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com – Pada forum perubahan iklim terbesar di dunia, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) menyampaikan narasi kuat mengenai perjalanan Indonesia menuju masa depan rendah karbon.

PT Vale menegaskan posisi Indonesia bukan hanya sebagai pemasok utama nikel global, namun sebagai pemimpin dalam pengembangan mineral kritis berkelanjutan.

Baca Juga : Dari Air Limpasan Tambang ke Air Terolah, Menelusuri Peran LGS PT Vale

Dalam sesi talk show “Emerging Technologies to Respond to Climate Change” di Paviliun Indonesia pada COP30, PT Vale memaparkan bagaimana teknologi, praktik pertambangan yang bertanggung jawab, serta kemitraan hilirisasi strategis, khususnya dengan Huayou Indonesia, membentuk babak baru ekosistem baterai kendaraan listrik.

Sesi tersebut mempertemukan panel terkemuka yang mewakili rantai nilai industri nikel Indonesia.

Diskusi dibuka oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui sambutan video dari Hanifah Dwi Nirwana selaku Plt. Deputi Bidang Pengelolaan Limbah, Limbah B3, dan Bahan Berbahaya, yang menekankan komitmen Indonesia memperkuat tata kelola lingkungan sebagai fondasi transformasi industri.

Baca Juga : PT Vale Integrasikan Pengelolaan Alam dan Inovasi Rendah Karbon untuk Perkuat Ketahanan Energi

Hal tersebut dilanjutkan oleh Amsor selaku Direktur Pengelolaan Limbah B3 dan Non-B3, yang menyoroti pentingnya integritas regulasi, peningkatan transparansi, serta keselarasan dengan standar keberlanjutan internasional untuk mewujudkan agenda industri hijau nasional.

Dari sisi industri, Budiawansyah selaku Direktur dan Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale memaparkan ambisi iklim perusahaan secara lugas.

Ia menekankan, operasi PT Vale di Sorowako tengah menjalani transformasi teknologi signifikan untuk mencapai penurunan emisi absolut 33 persen pada 2030 serta penurunan intensitas karbon produk nikel sebesar 50 persen, target ambisius yang didorong oleh inovasi seperti heat recovery, pemanfaatan off-gas, optimalisasi ore dewatering, serta elektrifikasi infrastruktur pemrosesan.

Baca Juga : Program Pangan dan Kemaritiman PT Vale Raih Dua Gold Awards InTechSEA 2026

Inisiatif ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasi yang diproyeksikan menghasilkan penghematan energi dan penurunan CO₂ yang signifikan setiap tahun.

Bagi Budiawansyah, dekarbonisasi bukan slogan, tetapi mandat organisasi. “Pesan kami di COP30 sangat jelas,” ujarnya.

“Pertumbuhan yang bertanggung jawab dan selaras iklim merupakan pilar strategi kami. Melalui inovasi dan kolaborasi, termasuk kemitraan hilirisasi strategis dengan Huayou, kami berkomitmen menghadirkan nikel rendah karbon yang memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan global, jelas Budiansyah.

Baca Juga : Catut Nama Adat untuk Palang Seba-seba, Gusti Riadi Terancam Hukuman 14 Tahun

Sentimen serupa disampaikan oleh Director of Public Affairs Huayou Indonesia Stevanus yang menegaskan bagaimana inovasi teknologi Huayou tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga mengurangi emisi karbon secara signifikan.

“Inovasi teknologi baru sedang kami implementasikan pada proses hidrometalurgi lanjutan—mulai dari waste heat recovery yang dapat memenuhi lebih dari 70 persen kebutuhan listrik proyek, self-flow ore slurry, solidifikasi CO₂, elektrifikasi, hingga pemanfaatan kembali limbah. Dengan itu semua, kami dapat menurunkan lebih dari 2 tCO₂e per ton nikel,” ujar Stevanus.

Ia menambahkan, kemitraan PT ValeHuayou mencerminkan misi bersama untuk mempercepat pemrosesan material baterai yang lebih bersih dan efisien.

Baca Juga : Direktur Keamanan PT TRK Pimpin Blokade Total PSN Pomalaa, Tantang dan Maki Aparat TNI

“Dengan menggabungkan inovasi hidrometalurgi Huayou dan fondasi ESG PT Vale, kami turut menempatkan Indonesia sebagai tolok ukur global bagi material baterai rendah karbon,” jelasnya.

Pandangan panel semakin diperkaya oleh Aladin Sianipar selaku Vice President HSE Harita Nickel yang menekankan pentingnya sirkularitas dan pemanfaatan ulang limbah dalam perjalanan dekarbonisasi industri.

Bersama-sama, para pembicara menyampaikan pesan kuat: industri nikel Indonesia tengah menjalani salah satu transformasi terbesar dalam sejarahnya, digerakkan oleh kolaborasi antara pemerintah, pelaku hulu, pengolah midstream, dan pemimpin teknologi hilir.

Pada kesempatan yang sama, PT Vale juga menegaskan kemajuan ESG perusahaan melalui pemaparan Sustainalytics ESG Risk Rating terbaru sebesar 23,7, skor terbaik sepanjang sejarah perusahaan, yang menempatkan PT Vale di jajaran teratas kategori global diversified metals & mining.

Capaian ini memperkuat kredibilitas PT Vale sebagai pemasok nikel yang bertanggung jawab dalam sektor yang semakin disorot atas dampak lingkungannya.

PT Vale menegaskan bahwa kepercayaan global hanya dapat diwujudkan melalui konsistensi, melalui pelaporan yang transparan, tata kelola yang kuat, disiplin operasional, serta investasi jangka panjang yang selaras dengan ekspektasi iklim global.

Dari Belém, Brasil, ribuan kilometer dari Sorowako, Bahodopi, Pomalaa, dan Morowali, lokasi yang menjadi inti kepemimpinan nikel Indonesia, kehadiran PT Vale di COP30 membawa pesan tegas: mineral kritis Indonesia sedang membentuk masa depan dekarbonisasi global, dan Indonesia bertekad memimpin dengan ambisi sekaligus akuntabilitas.

Melalui kemitraan strategis, jalur pemrosesan berbasis energi bersih, serta komitmen kuat terhadap keunggulan ESG, PT Vale berkontribusi pada transformasi ekosistem nikel, di mana inovasi mendorong pencapaian iklim dan Indonesia menjadi kekuatan strategis yang bertanggung jawab dalam transisi energi bersih dunia.

Menutup diskusi, para panelis memberikan pesan optimistis dan visioner. Keberhasilan Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik tidak akan ditentukan hanya oleh cadangan sumber daya atau volume produksi, tetapi oleh nilai yang diinternalisasikan dalam pembangunan industrinya: keberlanjutan, transparansi, keunggulan teknologi, dan kolaborasi yang kuat.

Kemitraan PT Vale dan Huayou kini menjadi model bagaimana pelaku industri dapat bekerja bersama untuk menghadirkan dampak positif bagi iklim, memperkuat posisi Indonesia di panggung global pada saat pasokan mineral kritis yang bertanggung jawab menjadi kebutuhan yang semakin mendesak.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Ekonomi23 September 2026 23:25
HIMA BISDIG FEB UNM Kunjungi BI Sulsel Lewat Company Visit Analytica Journey 2.0
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Himpunan Mahasiswa Bisnis Digital (HIMA BISDIG), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Makassar melaksanakan...
Makassar23 September 2026 20:43
Kalla 10K 2026 Gandeng PASI, 4.500 Pelari Siap Ramaikan Pantai Losari
SULSELSATU.com,cMAKASSAR – Kalla 10K 2026 siap digelar di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada 10–11 Oktober 2026 mendatang. Sebanyak 4.500 pese...
Politik23 September 2026 15:27
Isu Appi Pindah Partai Menguat, Demokrat Sulsel Pilih Tunggu Sikap Resmi
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Partai Demokrat Sulawesi Selatan mulai membuka ruang bagi Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi di tengah m...
OPD23 September 2026 15:22
Andi Tenri Indah Desak Kepastian Gaji ASN Dinsos Sulsel hingga Akhir Tahun
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Persoalan kecukupan anggaran untuk pembayaran gaji aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Sela...