SULSELSATU.com, MAKASSAR – Poros Pemuda Indonesia (PPI) menggagas Deklarasi Pemuda dan Mahasiswa Sulsel Cinta Damai menyikapi insiden perusakan rumah ibadah di Kelurahan Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Hadir sebagai narasumber antara lain, Wakil Sekretaris Tanfiziah NU Kota Makassar Bambang S Pratomo, Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Sulsel Muhammad Farid, Ketua HMI Cabang Gowa Raya Ardiansyah, Gerakan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia (GMKI) Makassar Risal Dwi Putra, tokoh agama DR Abdul Wahid, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fathur, Perhimpunan Ummat Budha Indonesia Hema Jayo, serta Ketua Poros Pemuda Indonesia Sulsel (PPI) Taqwa Bahar.
Tokoh agama, Abdul Wahid menjelaskan insiden perusakan rumah ibadah seperti yang terjadi di Kelurahan Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, merupakan sebuah kesalahpahaman dan tidak harus dibesar-besarkan sehingga merusak nilai kesatuan dan persatuan bangsa.
“Saya rasa kejadian di Minahasa Utara sudah menjadi menu diskusi di berbagai tempat. Untuk itu diperlukan konsensus yang meredam atau memberikan solusi supaya keragaman ini terus terjaga. Seperti yang dilakukan Poros Pemuda Indonesia selama ini sebagai garda terdepan menjaga keberagaman,” ujar Abdul Wahid di Warkop Alira, Makassar, Sabtu (1/2/2020).
Apalagi, Abdul Wahid melihat salah satu pemicu terjadinya perusakan rumah ibadah tersebut adalah kesalahpahaman. Untuk itu, dia mengajak kepada seluruh pihak agar tidak terlalu berlebihan merespon apalagi dengan mengeluarkan statement yang bisa merusak bangsa.
“Kita tidak perlu reaktif, apalagi kalau tidak tahu masalah. Mari kita dudukkan persoalan ini secara objektif dan proporsional. Apalagi ini negara hukum, ayo kita serahkan ke pihak berwajib untuk menyelesaikan,” terang Abdul Wahid.
Sementara itu, Wakil Sekertaris Tanfiziah Nahdlatul Ulama Kota Makassar Bambang Sampurno Pratomo menegaskan apapun peristiwa yang bisa menggangu keutuhan negara sangat penting untuk senantiasa dinetralisir di masyarakat. Seluruh pihak harus memberikan pencerahan.
“Ada pihak tertentu yang ingin mengganggu harmonisasi bangsa ini melalui kejadian di Minahasa Utara. Ini harus segera dinetralisir agar tidak memperlebar kesalahpahaman,” sebutnya.
Adapun perwakilan Gerakan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia (GMKI) Makassar Risal Dwi Sapoetra, merasa sangat terhormat diundang dalam forum deklarasi damai yang digelar Poros Pemuda Indonesia (PPI).
“Kehadiran kita dalam acara hari ini punya semangat dan visi yang sama dalam merawat kebhinekaan. Kami sudah berkoordinasi dengan orang disana (Minahasa Utara) rupanya sudah diamankan dan ditangani pihak berwajib,” katanya.
Penulis: Asrul
Editor: Awang Darmawan
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar