Logo Sulselsatu

Film Jejak Khalifah di Nusantara, KIP HMI MPO: Klaimnya Belum Meyakinkan

Asrul
Asrul

Minggu, 30 Agustus 2020 19:30

Ketua KIP PB HMI MPO Muhajir. (ist)
Ketua KIP PB HMI MPO Muhajir. (ist)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Beberapa hari terakhir ini publik dihebohkan dengan rilisnya film “Jejak Khilafah di Nusantara”. Film ini menuai pro-kontra, hingga akhirnya sempat diblokir.

Menanggapi film tersebut, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban (KIP) PB HMI MPO, Muhajir MA mengatakan, jika tujuan dari film tersebut hendak menyajikan kajian sejarah alternatif, maka seharusnya didukung dengan bukti-bukti yang kuat.

Namun setelah menonton film tersebut, Muhajir berkesimpulan, klaim bahwa kerajaan dan kesultanan di Nusantara adalah bagian dari khilafah belum meyakinkan. Bahkan ia menilai klaimnya terkesan dipaksakan. Karena kajian sejarah dalam film tersebut dinilai belum menyajikan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Tak adanya dukungan manuskrip yang kuat berupa dokumen-dokumen sejarah dari film itu. Padahal dokumen adalah bahan penting dalam penulisan sejarah. Yang terdengar dari perkataan para narasumber di film itu hanya ‘menduga’, ‘meyakini’, tapi tak bisa menyajikan data pendukung keyakinan dan dugaannya tersebut,” kata Muhajir, Minggu (30/8/20/2020).

Muhajir menambahkan, sejauh ini sejarah hanya menunjukkan adanya islamisasi di Nusantara melalui para sufi dan pedagang muslim. Islamisasi di Kerajaan Perlak dan Samudera Pasai tak terlepas dari peran mereka. Tapi apakah Samudera Pasai adalah bagian dari khilafah, hal tersebutlah yang bagi Muhajir masih problematis.

Namun Muhajir tak menampik jika dalam sejarah, ada hubungan antara kerajaan di Nusantara dan khilafah. Tapi hanya sekadar hubungan yang terkait dengan islamisasi dan diplomasi. Bukan berbaiat atau menjadi bagian dari khilafah.

“Misalnya surat menyurat Kerajaan Sriwijaya dengan Bani Umayyah yang meminta utusan untuk mengajar Islam di Sriwijaya. Tapi hanya sebatas belajar Islam. Makanya ada yang bilang abad ke-7 sudah ada islamisasi meski belum masif. Sementara hubungan Turki Utsmani dan kesultanan di Nusantara juga hanya sebatas hubungan diplomasi,” ujarnya.

Meski demikian, Muhajir tak sepakat jika film Jejak Khilafah diblokir. Karena tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.

“Sejauh tidak melanggar hukum dan tidak merugikan banyak warga negara, kenapa harus dilarang? Jika tak setuju dengan klaim dalam film tersebut, sebaiknya dihadapi dengan gagasan tandingan. Biarkan gagasan-gagasan saling berkontestasi dalam ruang demokrasi. Justru karena di situlah letak sehatnya demokrasi,” tandasnya.

Editor: Hendra Wijaya

 

 

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Nasional28 September 2026 13:10
Berlaku 1 Oktober, OJK Atur Pelaporan Insidental di Pasar Modal dan Bursa Karbon
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan OJK Nomor 9 Tahun 2026 tentang Pelaporan Insidental melalui Sistem Pelaporan OJK di sektor Pasar Mo...
Nasional28 September 2026 12:05
Direksi dan Komisaris PJM Tinjau Kesiapan Operasional STS Nipa
Jajaran Direksi dan Komisaris PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) melakukan Management Walkthrough di Pulau Nipa, Kepulauan Riau ...
Pendidikan28 September 2026 11:34
Pegadaian Bantu Perlengkapan Sekolah bagi Anak Berprestasi di Barrang Lompo
PT Pegadaian Kantor Wilayah VI Sulselbarra Maluku menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak berprestasi dan kurang mampu di SDI Barrang Lompo...
Kesehatan28 September 2026 10:42
World Heart Day 2026, Bukit Baruga Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Jantung Gratis
Memperingati World Heart Day 2026, Bukit Baruga berkolaborasi dengan Primaya Hospital Hertasning menggelar pemeriksaan dan edukasi kesehatan jantung b...