Logo Sulselsatu

Ahli PBB Tegaskan Girik Bukan Bukti Kepemilikan Lahan

Asrul
Asrul

Rabu, 23 Februari 2022 18:55

istimewa
istimewa

SULSELSATU.com, TANGERANG – Ahli pajak bumi dan bangunan (PBB) Budi Nurtjahyono menegaskan bukti kepemilikan tanah yang sah dan diakui negara adalah sertifikat, bukan girik.

“Girik bukan bukti kepemilikan tanah, hanya menunjukkan siapa pembayar pajak,” ujar Budi di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang saat menjadi saksi dalam perkara sengketa kepemilikan lahan antara Tonny Permana dan Ahmad Ghozali.

Diketahui, sengketa antara Tonny Permana dan Ahmad Ghozali terkait dengan lahan di Salembaran Jaya, Kosambi, Kabupaten Tangerang. Dalam perkara ini, Tonny Permana memegang sertifikat hak milik (SHM) sedangkan Ahmad Ghozali hanya memiliki girik atau surat bukti penguasaan.

Baca Juga : Ahli Soroti Sprindik Lama dan Alat Bukti Berulang, Penetapan Tersangka Kedua Bahtiar Dinilai Cacat Hukum

Belakangan diduga dokumen girik yang digunakan oleh Ahmad Ghozali diduga palsu dan akta jual beli (AJB) tahun 2011. Namun, Ahmad Ghozali tetap mengklaim lahan seluas sekitar 2 hektare di pantai utara Tangerang itu adalah miliknya.

Dalam perkara ini, Ahmad Ghozali diduga melakukan perusakan, penyerobotan dan pemalsuan dukomen lahan milik Tonny Permana.

“(Sertifikat) adalah yang tertinggi (sebagai bukti kepemilikan) di Republik ini, tidak ada yang lain,” kata Budi, Selasa (22/2/2022).

Baca Juga : Ahli Sebut Kasus Pengadaan Bibit Nanas Tak Berkaitan dengan Jabatan Pj Gubernur Sulsel

Budi menjelaskan, berdasarkan Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor Register 34/K/Sip/1960, bisa ditegaskan dan dijadikan yurisprudensi bahwa girik hanya menunjukkan siapa pembayar pajak, bukan sebagai bukti kepemilikan tanah.

“Girik sama sekali bukan bukti kepemilikan. Dia (girik) hanya menunjukkan siapa pembayar pajak, dimana dia berada tanahnya, siapa namanya. Saya katakan sah (girik), karena bayar pajak. Tapi kalau itu (girik) bukti kepemilikan, ya bukan bukti kepemilikan. Bukti kepemilikan adalah sertifikat tanah,” tegas dia.

Menurut Budi pemilik yang sah atas lahan tersebut adalah Tonny Permana, berdasarkan SHM sejak 1997. Girik yang dimiliki Ahmad Ghozali tidak bisa membatalkan sertifikat.

Baca Juga : Ditetapkan Tersangka, Penasehat Hukum Korban Minta Polisi Segera Tahan Oknum Guru Penganiaya Murid di Jeneponto.

Ia menegaskan girik juga harus dilihat apakah benar dikeluarkan Kantor Pajak Bumi. Sebab, menurut Budi, banyak kasus-kasus terkait girik itu sendiri. Budi menegaskan, format girik harus benar sesuai waktu penerbitannya.

“Tahun 1980 itu Direktorat IPEDA sudah bergabung ke Direktorat Jenderal pajak pada 1976 sehingga nama kantornya adalah Inpeksi pajak IPEDA. Stampel atau cap kantor digirik tahun 1976 adalah IPEDA, tetapi IPEDA apa itu? Daerah atau cabang atau pembaruan pengenaan atau kantor inspeksi dinas luar tingkat satu, perubahan itu ada waktu-waktunya,” ujarnya.

Budi mengatakan, blanko girik tidak pernah ada kesalahan, karena memang nasional. Namun, pejabat stempel harus sesuai kurun waktu, penulisan format girik kantor daerah atau cabang itu hanya sampai 1974. “Yang ada hanya kantor inspeksi dan kantor dinas luar tingkat 1,” kata Budi.

Baca Juga : 20 Motor Berknalpot Brong di Manggala Makassar Disita Polisi

Selain itu Budi menekankan jika blanko girik bunyinya ‘daerah atau cabang’ stempelnya juga harus berbunyi ‘daerah atau cabang, tidak boleh dicampur aduk. Kalau blanko sudah lewat waktu tidak bisa dipakai. “Jika format girik tidak sesuai dengan blanko nasional, maka girik tersebut tidak benar atau cacat,” tegas saksi.

Dalam persidangan, pengacara Tonny Permana selaku penggugat, Hema AM Simanjuntak menilai keterangan saksi ahli membantu untuk mengungkap fakta. Yakni, bahwa girik tidak sebanding untuk menggugat kepemilikan sertifikat.

“Kami akan memberi kesempatan kepada majelis hakim untuk menyimpulkan, namun kami sangat senang karena tujuan kami menghadirkan Pak Budi sebagai ahli goalnya tercapai menurut kami,” katanya.

Baca Juga : Bupati Gowa Husniah Tersangka Korupsi PBG Tak Ditahan Karena Dianggap Kooperatif

Sementara, kuasa hukum Ahmad Ghozali, Alfi Rully menanyakan kepada Budi perihal peningkatan status kepemilikan lahan dari Letter C dan Girik menjadi sertifikat. Atas pertanyaan tersebut, Budi menjelaskan hal tersebut memang dimungkinkan sesuai dengan peraturan, dimana girik atau bukti lainnya hanya sebatas bukti awal.

“Sebagai bukti awal iya. Kalau di penjelasan PP Nomor 24 Tahun 1997 ayat 1 huruf K menyatakan, salah satu bunyi tertulis berupa girik dan beberapa lainnya,” ujar Budi.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Hukum05 November 2026 23:08
Dikawal LBH Anak Rakyat, Santunan Rp150 Juta Ahli Waris Awak Kapal Tuntas Dibayar
SULSELSATU, MAKASSAR – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anak Rakyat sukses mengawal pemenuhan santunan sebesar Rp150 juta kepada ahli waris almarhum ...
Politik05 November 2026 21:18
Bedah Pemikiran Tjokroaminoto dan Ali Shari’ati, PKB Rumuskan Sosialisme ala Indonesia
SULSELSATU.com, MAKASSAR — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mulai mengkaji konsep sosialisme Islam sebagai salah satu gagasan untuk membangun sistem ...
Bisnis05 November 2026 19:45
Kalla Transport & Logistics Raih Tiga Penghargaan Toyota
Kalla Transport & Logistics meraih tiga penghargaan dalam ajang Facing Depot Annual Meeting & Logistic Partner Annual Meeting 2026 yang disele...
Ekonomi05 November 2026 19:01
OJK Luncurkan Tiga Pedoman Produk Perbankan Syariah
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan tiga pedoman produk perbankan syariah untuk memperkuat pembiayaan sektor riil, termasuk kebutuhan usaha dan r...