Logo Sulselsatu

Berpengalaman di Jateng, Rencana Konkret Ganjar Jadikan Indonesia Lumbung Pangan Dinantikan

Asrul
Asrul

Senin, 25 September 2023 12:46

Bakal Calon Presiden RI, Ganjar Pranowo (Int)
Bakal Calon Presiden RI, Ganjar Pranowo (Int)

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso meminta bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo menyusun program terperinci untuk membangun ketahanan pangan nasional. Menurut Andreas, strategi Ganjar terkait pangan yang diungkap dalam sejumlah forum publik masih sekadar retorika.

“Siapa pun nanti presidennya memiliki tugas penting untuk menggenjot produksi pangan karena ketimpangan antara yang kita ekspor dan impor itu semakin melebar. Ada beberapa hal yang teramat penting yang jarang disentuh,” ucap Andreas saat dihubungi, Senin (25/9/2023).

Dalam forum kebangsaaan di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI), belum lama ini, Ganjar mengungkap tiga strategi utama untuk meningkatkan ketahanan pangan. Pertama, aktivasi birokrasi untuk memantau ketersediaan suplai dan permintaan. Kedua, menggenjot sentra produksi bahan pokok. Ketiga, menyeimbangkan neraca ekspor-impor pangan.

Baca Juga : Bukan Sekadar Lomba Masak, Festival Mustika Rasa PDIP Sulsel Bawa Pesan Kedaulatan Pangan

Andreas menilai strategi-strategi itu perlu dielaborasi lebih rinci. Secara khusus, ia menyoroti niat Ganjar menggenjot sentra produksi bahan pokok. Menurut dia, hingga kini belum ada presiden yang sukses menggenjot produksi sehingga Indonesia memiliki kedaulatan pangan.

Salah satu indikasi, kata Andreas, ialah impor gandum yang terus membengkak dari tahun ke tahun. “Total kebutuhan pangan kita sekitar 28% itu gandum. Perhitungan saya, di usia seratus tahun Indonesia merdeka, impor pangan kita hampir 50% nanti bisa tergantikan gandum,” kata Andreas.

Diversifikasi pangan ke gandum itu, lanjut Andreas, tak menguntungkan bagi masyarakat. Pasalnya, harga gandum semakin lama semakin mahal. Rata-rata harga gandum dunia hingga akhir kuartal II-2022 berada di kisaran US$392,4 per ton atau setara dengan Rp5,8 juta.

Baca Juga : PDIP Sulsel Pererat Solidaritas Melalui Momentum Kurban

“Pergeseran dari beras ke gandum persoalan serius yang harus diselesaikan. Di tahun 1970-an, persentase pangan gandum hanya 4 %. Tahun 2010 itu sudah 18,3%. Tahun 2021 kemarin itu sudah 28 persen,” ucap Andreas.

Andreas juga mempertanyakan langkah-langkah konkret Ganjar untuk menyeimbangkan neraca impor-ekspor pangan. Tak hanya gandum, saat ini Indonesia juga mengimpor sejumlah komoditas pangan penting untuk memenuhi kebutuhan domestik.

“Gandum 100% impor, kedelai 70% impor, dan gula 70% kita impor. Setiap presiden pasti, entah apa namanya, mendorong swasembada pangan atau pajale (padi, jagung, dan kedelai). Tapi, apa hasilnya? Semakin lama impor kita semakin tinggi. Itu yang terjadi,” kata Andreas.

Baca Juga : 45 Ekor Sapi Kurban ARW Disebar ke Sulsel, Kalimantan dan Jakarta

Jika ditotal, menurut Andreas, nilai impor komoditas pangan Indonesia dari 2008 hingga 2018 naik sekitar tiga kali lipat, yakni dari 8 juta ton menjadi 27,6 juta ton. “Masuk akal apa enggak dalam tempo 10 tahun naik segitu,” kata Andreas.

Pemenuhan kebutuhan pangan domestik memang jadi salah satu perhatian Ganjar saat jadi Gubernur Jawa Tengah (Jateng). Tak lama setelah menemani Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau panen raya padi Ambal, Kabupaten Kebumen, Jateng, Maret lalu, Ganjar sempat berkicau di Twitter soal niat Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Di Jateng, Ganjar sendiri tergolong berhasil membangun kemandirian pangan. Tercatat, kini ada 282 desa mandiri pangan di provinsi tersebut. Pada 2019, Jateng bahkan sempat jadi lumbung padi terbesar nasional dengan produksi 9,65 ton gabah kering giling (GKG). Jateng baru tergeser oleh Jatim pada 2021.

Baca Juga : PDIP Sulsel Cari Ketua PAC yang Militan dan Dekat dengan Rakyat

Sepanjang 2020-2021, peningkatan ekspor komoditas pertanian Jateng tercatat sebesar Rp8,3 triliun, atau tertinggi di seluruh Indonesia jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya. Ekpor komoditas Jateng bahkan sampai ke Mesir, Italia, Jepang, dan Korea Selatan. Capaian itu diganjar penghargaan Abdi Bakti Tani Tahun pada 2021.

Pada era Ganjar, Jateng juga memunculkan tren pertanian organik yang ramah lingkungan. Itu ditandai dengan lahirnya petani-petani milenial. Dari sekitar 3 juta petani di Jateng saat ini, 33,7% di antaranya ialah petani dari kalangan milenial yang tergolong melek teknologi.

Apa pun program yang bakal disusun Ganjar dan bacapres lainnya, Andreas berharap petani tidak dipinggirkan. “Kalau petani dikorbankan ya sudah produksi pangan akan semakin menurun. Impor semakin lama akan semakin meningkat,” ucap Andreas.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Politik19 Juli 2026 10:21
IAS Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Sulsel, Siap Susun Kepengurusan Baru
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ilham Arief Sirajuddin (IAS) resmi terpilih sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan melalui Musyawarah Daerah ...
OPD19 Juli 2026 09:38
Dorong Keterbukaan Informasi, Andi Tenri Indah Raih Penghargaan di Forum Pimpinan Redaksi Multimedia Indonesia
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ketua Komisi E DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Hj. Andi Tenri Indah, ditetapkan sebagai penerima Pemred Award 2026 pa...
Politik18 Juli 2026 20:01
Bahlil Lahadalia Soroti Musda Golkar Sulsel yang Sempat Digelar di Jakarta
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia menegaskan keinginannya agar Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar tidak ...
Opini18 Juli 2026 13:18
OPINI: Menata Golkar Sulsel Menuju Pemilu 2029
Oleh: Usman Marham, Ketua DPD II Partai Golkar Pinrang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan seharusnya tidak berhenti sebagai agen...