Logo Sulselsatu

MK Ingatkan Aparat, Karya Jurnalistik Tak Bisa Langsung Dipidanakan

Asrul
Asrul

Senin, 19 Januari 2026 14:40

ilustrasi. (int)
ilustrasi. (int)

SULSELSATU.com, JAKARTAMahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi yang diajukan Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) terhadap Pasal 8 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Putusan ini menegaskan bahwa perlindungan hukum bagi wartawan harus dimaknai secara jelas untuk mencegah kriminalisasi terhadap kerja jurnalistik.

Putusan tersebut dibacakan dalam sidang pengucapan Putusan Nomor 145/PUU-XXIII/2025 yang digelar MK dan disiarkan melalui kanal YouTube Mahkamah Konstitusi RI, Senin (19/1/2026).

Baca Juga : Dikhawatrikan Mandek Tim KAJ Pertanyakan Kasus Kekerasan Jurnalis

“Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian,” ujar Ketua MK Suhartoyo saat membacakan amar putusan.

MK menyatakan frasa “perlindungan hukum” dalam Pasal 8 UU Pers bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 sepanjang tidak dimaknai secara bersyarat.

Mahkamah menegaskan bahwa penerapan sanksi pidana dan/atau perdata terhadap wartawan dalam menjalankan profesinya secara sah hanya dapat dilakukan setelah mekanisme hak jawab dan hak koreksi ditempuh, serta dugaan pelanggaran kode etik jurnalistik diperiksa dan diupayakan penyelesaiannya oleh Dewan Pers sebagai bagian dari prinsip restorative justice.

Baca Juga : LBH Pers Makassar Tuntut Kasus Kekerasan Pers Dilanjutkan Lewat Praperadilan

Dalam pertimbangan hukumnya, Hakim Konstitusi Guntur Hamzah menilai norma Pasal 8 UU Pers selama ini bersifat deklaratif dan tidak memberikan kejelasan mengenai bentuk perlindungan hukum yang konkret bagi wartawan.

“Norma tersebut tidak memberikan konsekuensi perlindungan hukum yang nyata. Jika tidak dimaknai secara jelas, pasal ini justru berpotensi langsung menjerat wartawan tanpa terlebih dahulu melalui mekanisme yang telah diatur dalam UU Pers,” kata Guntur.

Karena itu, Mahkamah memandang perlu memberikan pemaknaan konstitusional agar setiap tindakan hukum terhadap wartawan yang berkaitan dengan karya jurnalistik wajib mengedepankan mekanisme perlindungan pers.

Baca Juga : Gerindra Minta Waktu Kaji Putusan MK Soal Pemilu Terpisah, Singgung Semangat UUD 1945

Menurut MK, gugatan, laporan, atau tuntutan hukum yang bersumber dari produk jurnalistik tidak serta-merta dapat langsung diproses melalui jalur pidana atau perdata. Penyelesaiannya harus terlebih dahulu mengacu pada mekanisme dalam UU Pers dengan melibatkan pertimbangan Dewan Pers.

Meski demikian, putusan ini tidak diambil secara bulat. Tiga Hakim Konstitusi, yakni Saldi Isra, Daniel Yusmic P. Foekh, dan Arsul Sani, menyampaikan pendapat berbeda atau dissenting opinion. Ketiganya berpendapat permohonan uji materi seharusnya ditolak.

Menanggapi putusan tersebut, Ketua Umum Iwakum Irfan Kamil menilai putusan MK sebagai penegasan sikap konstitusi dalam menjaga martabat profesi wartawan sekaligus kemenangan bagi kebebasan pers di Indonesia.

Baca Juga : Putusan MK Hapus Format Pemilu Serentak, Pengamat Unhas: Koreksi atas Beban Demokrasi yang Terlalu Berat

Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa profesi wartawan tidak boleh diperlakukan secara sewenang-wenang. Perlindungan hukum terhadap kerja jurnalistik kini dipertegas sebagai mandat konstitusional dalam negara demokratis,” ujar Irfan usai sidang di Gedung MK.

Ia menyoroti praktik selama ini di mana sengketa pemberitaan kerap langsung dibawa ke ranah pidana atau perdata, meskipun UU Pers telah menyediakan mekanisme penyelesaian yang lebih beradab.

“Banyak persoalan jurnalistik yang seharusnya diselesaikan melalui hak jawab, hak koreksi, dan Dewan Pers, justru langsung dipidana. Putusan ini menegaskan kembali jalur yang benar,” katanya.

Baca Juga : Fahri Bachmid: Putusan MK Soal Pemilu Pisah, Perpanjangan Masa Jabatan DPRD Jadi Opsi Konstitusional

Irfan menegaskan bahwa putusan MK bukan berarti menjadikan wartawan kebal hukum. Sebaliknya, Mahkamah justru memperjelas batas antara kebebasan pers dan tanggung jawab profesional.

“Kalau wartawan bekerja tidak profesional, melanggar kode etik, atau menyalahgunakan profesinya, tentu tetap harus dimintai pertanggungjawaban. Tapi mekanismenya harus tepat, proporsional, dan sesuai dengan hukum pers,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa perlindungan konstitusional hanya berlaku bagi kerja jurnalistik yang dilakukan dengan itikad baik dan untuk kepentingan publik.

“Yang dilindungi adalah kerja jurnalistiknya, bukan orangnya. Wartawan bukan kebal hukum, tetapi juga tidak boleh dihukum secara serampangan,” kata Irfan.

Irfan berharap putusan MK ini menjadi pedoman bagi aparat penegak hukum agar tidak lagi keliru menggunakan pasal-pasal pidana umum dalam menangani perkara yang berkaitan dengan karya jurnalistik.

“Mahkamah sudah memberi rambu yang jelas. Tugas kita bersama memastikan rambu itu dipatuhi dalam praktik penegakan hukum,” pungkasnya.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Ekonomi19 September 2026 20:06
OJK Siapkan Aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Mulai 2027
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan dua Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang menjadi dasar pengaturan dan pengawasan Bursa Mineral dan Ko...
Makassar19 September 2026 16:59
Haka Auto Ajak Komunitas Makassar Uji Efisiensi BYD M6 DM dan Teknologi V2L
PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto) mengajak komunitas otomotif di Makassar merasakan langsung teknologi kendaraan elektrifikasi BYD melalui rangkaian keg...
Olahraga19 September 2026 16:35
Honda DBL 2026 Resmi Bergulir, Asmo Sulsel Siapkan Games dan Promo
Kompetisi Honda DBL with Kopi Good Day 2026 South Sulawesi resmi bergulir setelah Opening Party digelar di GOR UMI Makassar, Jumat (18/9/2026)....
News19 September 2026 13:49
Pelindo Dorong Transformasi Green Port, Luncurkan OPS di Tanjung Priok
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo meluncurkan layanan Onshore Power Supply (OPS) di Dermaga Serbaguna Nusantara, Terminal PNP Dermaga 004,...