SULSELSATU.com, MAKASSAR – Dewan Pengurus Wilayah Ahlulbait Indonesia (DPW ABI) Sulawesi Selatan menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Sekretariat Al Muntazar, Makassar, pada Sabtu (14/2/2026).
FGD tersebut mengusung tema bertajuk “Pemetaan Potensi Ekonomi ABI Sulawesi Selatan” dan dihadiri sejumlah pengurus dan pelaku usaha jamaah secara luring, dan dihadiri 20 peserta secara daring.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis organisasi untuk mentransformasikan data survei menjadi gerakan ekonomi riil yang berbasis komunitas.
Ketua DPW ABI Sulsel, Dr. Imran Latief saat membuka acara menekankan pentingnya menindaklanjuti hasil survei dengan pendekatan yang sesuai karakteristik lokal dan diterjemahkan dengan nuansa dan iklim Sulawesi Selatan sebagai penguatan ekonomi.
FGD dipandu oleh Syamsu Alam selaku fasilitator, dalam pengantarnya, ia menekankan pentingnya pemetaan potensi ekonomi berbasis komunitas (jemaah) sebagai fondasi pengembangan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan berorientasi sosial.
Dalam pemaparannya ia juga menyebut ABI kini tengah memulai langkah strategis untuk mengembangkan komunitas secara saintifik.
Mengutip kata-kata Mahatma Gandhi, ia mengingatkan bahwa setiap gerakan pembaharuan awalnya sering diragukan sebelum akhirnya diterima dan diadopsi.
““First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then you win,” ungkapnya.
Berdasarkan hasil survei pemetaan ekonomi yang sebelumnya dipaparkan oleh DPP ABI, terungkap lima sektor potensial di Sulawesi Selatan.
Sektor pendidikan dinilai paling konsisten sebagai tulang punggung modal manusia. Selain itu, sektor pertanian dan perkebunan terintegrasi di wilayah seperti di Pinrang, Soppeng, Bone, Luwu Utara, dan Takalar.
Potensi lain yang menjadi pembeda struktural Sulsel dibanding rata-rata nasional adalah sektor perikanan dan kelautan, serta sektor kesehatan yang memiliki skor potensi tinggi pada kelompok profesional, bahkan melampaui rata-rata nasional di beberapa daerah (Gowa, Bone, Barru)
Terakhir, sektor jasa profesional strategis seperti keuangan, hukum, dan IT di Makassar dan Parepare juga menunjukkan potensi besar untuk menjadikan Sulsel sebagai pusat jasa di Kawasan Timur Indonesia.
Menanggapi paparan tersebut, salah satu peserta, Santi menyoroti pentingnya mentalitas dalam memulai usaha.
“Modal moneter hanyalah pendukung, sementara modal utamanya adalah integritas, kejujuran, dan daya tahan. Konsep Utama dalam berbisnis lebih pada “The Power of Kepepet”, diman dorongan untuk bertindak dan berinovasi saat berada dalam tekanan,” ungkpanya.
Sementara itu, praktisi bisnis lainnya, Baihaqi mengingatkan agar komunitas belajar dari kegagalan masa lalu akibat kurangnya pembacaan data potensi suplai dan permintaan. Pandangan itu juga disampaikan oleh Akbar, pentingnya melihat aktivitas ekonomi ini harus menjadi bagian dari gerakan ideologi.
Ia menyarankan perlunya pemetaan mendalam untuk melihat kesesuaian karakter jamaah, baik dari kalangan pionir maupun pewaris, dengan model bisnis yang akan dijalankan.
Dari sisi peluang pasar global, peserta bernama Fahmi yang berpengalaman di bidang ekspor kopi menekankan pentingnya standarisasi produk dan kepercayaan.
“Produk yang berkualitas dan memiliki karakter kuat pasti akan menemukan pasarnya sendiri, baik itu kopi Robusta untuk pasar Timur Tengah maupun Arabika untuk pasar Eropa,” ungkapnya.
Menutup kegiatan, Ketua Departemen Ekonomi ABI Sulsel, Andi Wello menegaskan bahwa FGD ini bukanlah kegiatan sesaat, melainkan akan berlanjut hingga beberapa periode kepengurusan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar