Logo Sulselsatu

Volatilitas Saham pada Emerging Markets, “Momok” Bagi Investor Retail

Redaksi
Redaksi

Senin, 25 Mei 2026 11:22

Dosen FEB UNM, Andi Hermanto . Ist
Dosen FEB UNM, Andi Hermanto . Ist

SULSELSATU.com – Cuitan tokoh tertentu/pemimpin negara mengakibatkan pasar di negera berkembang (emerging markets) kebakaran jenggot. Anak gen z dan melenial tentusepakat menyebut bahwa kicauan itu membuat IHSG “Merah Merona”

Itu adalah fakta, sebuah kondisi yang nyata di sekitar kita bahwa cuitan Donald Trumpt terkait politik/ekonomi/geopolitik seketika membuat pasar negera berkembang khususnya Indonesia turut ambruk berakibat pada volatilitas pada saham di hampir semua sektor.

Di era digital yang begtitu pesat, informasi yang bertebaran dan bertabrakan saat ini menjadi kunci kenapa itu bisa terjadi, kenapa IHSG mengalami penurunan. Tentu,bagi masyarakat umum, turun/naiknya Indeks Harga Saham Gabungan mungkin sekadar deretan angka merah-hijau yang menjenuhkan bahkan membosankan.

Namun, perlu kita sadari, bahwa dinamika pasar saham adalah cerminan langsung dari ketidakpastian ekonomi yang dampaknya bisa merembes/berdampak perlahan hingga ke warung kopi dan UMKM di sekitar kita.

Pasar saham, khususnya di negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia, ibarat sistem saraf yang sangat sensitif/cepat menanggai sesuatu, beperti wanita yang datang bulan.

Fakta lainnya juga menunjukkan bahwa pasar keuangan di kawasan emerging markets memang lebih rentan terhadap guncangan global dibandingkan negara maju, penelitian kami yang berjuudl Analisis Volatilitas Pasar Saham pada Emerging Markets yang terbit pada Jurnal Jurnal Riset Rumpun Ilmu Ekonom (JURRIE) pada 2026-04-30.

Dimana guncangan di satu sisi dunia bisa menyebar hingga meningkatkan transmisi risiko antarnegara seolah tanpa batas. Inilah yang sering membuat bursa saham kita terkesan mudah “kagetan.”

Dalam kacamata lain pergerakan pasar, ada fenomena yang disebut sebagai volatility clustering atau pengelompokan ketidakstabilan. Dimana ketika terjadi sebuah kepanikan massal (panic Selling) di pasar akibat berita buruk, periode ketidakstabilan itu cenderung akan saling memicu dan diikuti oleh gelombang volatilitas tinggi.

Seeperti saat kita tengah mengendarai sebuah kendaraan yang padat akan kendaraan, saat satu kendaraan yang melakukan pengereman mendadak tentu itu bisa memicu kemacetan panjang. Ini seperti sebuah kondisi kepanikan itu lahir, dan bahkan kepanikan memicu kepanikan baru. Masalah utamanya adalah efek kejut ini, atau kita tarik ke pasar saham, ini kondisi yang sangat awet, atau terjadinya cukup berkepanjangan.

Dari hasil riset yang kami lakukan, bahwa data historis pergerakan saham di negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia menunjukkan bahwa guncangan volatilitas memiliki efek jangka panjang. Ketika pasar dihantam sentimen negatif yang ekstrem, guncangan tersebut tidak segera hilang, atau menguap, melainkan bertahan dalam rentang waktu yang relatif lama sebelum akhirnya bisa kembali ke kondisi keseimbangan normalnya.

Fakta empiris kita dapat melihat IHSG masih berada di kondisi volatilitas per hari ini, tanggal (25/05/2026).

Jika diamatai polanya secara jangka panjang, probabilitas terjadinya penurunan harga saham secara ekstrem atau mendadak anjlok justru jauh lebih sering terjadi dibandingkan dengan probabilitas harga melonjak drastis. Ini menjadi alarm bahwa risiko pasar selalu mengintai kita sebagai investor “Unyu-unyu”.

Lalu, apa makna dari semua rollercoaster finansial (Volatilitas) pada kondisi Markets saat ini.

Bagi para milenial (FOMO Investor) dan investor ritel yang baru terjun berinvestasi, jangan mudah terkena/terpengaruh pada Fear of Missing Out (FOMO).

Mengingat pasar kita memiliki persistensi volatilitas yang tinggi, jangan mengambil keputusan finansial hanya bermodal ikut-ikutan influencer di media sosial tanpa analisis yang matang/mendalam

Kemudian, diversifikasi adalah harga mati. Mengingat volatilitas tinggi bukan sekadar angka statistik, melainkan representasi dari tingkat ketidakpastian ekonomi, menyimpan seluruh dana (aset) dalam satu jenis investasi (keranjang investasi) adalah sebuah kekeliruaan. Melakukn diversifikasi pada intrumen lain itu sangat penting..

Pada akhirnya, investasi di pasar keuangan ibarat mengarungi selat yang selalu dihantui oleh badai/cuaca buruk. Kita tidak punya kontrol dalam menghentikan badainya, namun kita punya kontrol untuk selalu bisa membangun kapal yang lebih kokoh dari hantaman badai.

 

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Makassar16 Juni 2026 19:18
Kalla Toyota Gelar Car Meet di Makassar, Hadirkan Fitra Eri hingga Om Mobi
Kalla Toyota kembali menghadirkan kegiatan bagi pecinta otomotif melalui acara Car Meet yang akan berlangsung di Kalla Toyota Urip Sumoharjo, Makassar...
Video16 Juni 2026 18:52
VIDEO: Gempa M6,7 Guncang Palu, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
SULSELSATU.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah. Kejadian pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WIB. Gem...
News16 Juni 2026 17:31
Kemenekraf, Indosat, dan Adobe Kolaborasi Dorong Kreator Indonesia Ubah Kreativitas Jadi Peluang
Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat), dan Adobe berkolaborasi untuk mendukung perkembangan ekonomi kreatif In...
Pendidikan16 Juni 2026 16:05
PLN UIP Sulawesi Dukung Pendidikan Inklusif Bagi Anak Disabilitas di SLB Negeri 1 Sidrap
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi memberikan dukungan kepada SLB Negeri 1 Sidrap melalui penyediaan sarana pembelajaran edukatif ...