SULSELSATU.com, JAKARTA – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mengawali tahun 2026 dengan kinerja positif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hingga kuartal I 2026, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain pertumbuhan pendapatan, Telkom mencatat EBITDA sebesar Rp18 triliun dengan margin EBITDA 48,3 persen. Sementara laba bersih tercatat Rp4,3 triliun dan laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun.
Baca Juga : Telkom Bukukan Laba Rp17,8 Triliun pada 2025, Total Shareholder Return Capai 35,7 Persen
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan, capaian tersebut menjadi modal awal yang positif bagi perusahaan dalam menjalankan agenda transformasi bisnis TLKM 30.
“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya,” ujar Dian.
Dari sisi operasional, arus kas perusahaan juga tumbuh 3,1 persen menjadi Rp17,3 triliun. Kinerja tersebut ditopang program efisiensi biaya dan peningkatan disiplin penagihan.
Baca Juga : TelkomGroup Perkuat Akses Digital Papua Pegunungan Lewat Community Gateway Wamena
Pada segmen konsumer (B2C), Telkomsel membukukan pendapatan sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut didorong oleh bisnis digital serta peningkatan kualitas jaringan yang tercermin dari kenaikan trafik data sebesar 2,3 persen.
Telkomsel juga mencatat kenaikan Average Revenue Per User (ARPU) sebesar 6,4 persen menjadi Rp45.100 per pelanggan. Peningkatan ini didukung strategi penyederhanaan produk, disiplin harga, dan penguatan pengalaman pelanggan.
Baca Juga : TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk, Hubungkan Indonesia dan Papua Nugini
“Industri telekomunikasi masih prospektif karena konektivitas dan internet saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat,” kata Dian.
Bisnis Infrastruktur Tumbuh 6,8 Persen
Kinerja positif juga ditunjukkan segmen B2B Infrastructure yang tumbuh 6,8 persen menjadi Rp2,4 triliun.
Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan Mitratel. Anak usaha Telkom itu mencatat pendapatan Rp2,3 triliun dengan margin EBITDA tetap tinggi di level 82,7 persen.
Baca Juga : Telkom Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Kartini BISA Fest
Sepanjang kuartal I 2026, Mitratel menambah jaringan fiber optik sepanjang 1.080 kilometer sehingga total kepemilikannya mencapai 58.279 kilometer.
Sementara itu, bisnis data center melalui NeutraDC dan NeuCentrIX juga terus diperkuat seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital dan kecerdasan buatan (AI).
Fokus Transformasi dan Efisiensi
Pada kuartal pertama tahun ini, Telkom mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp4,9 triliun atau sekitar 13,2 persen dari pendapatan.
Baca Juga : TelkomGroup Dukung PP TUNAS, Perkuat Ruang Digital Aman bagi Anak
Mayoritas investasi digunakan untuk pengembangan infrastruktur pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan bisnis internasional.
Perseroan juga melanjutkan sejumlah agenda transformasi, termasuk divestasi AdMedika Group yang ditargetkan rampung pada semester I 2026 serta pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal III 2026.
Menurut Dian, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi Telkom untuk memperkuat monetisasi aset dan memperbesar kontribusi bisnis B2B di masa depan.
“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis,” ujar Dian.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar