SULSELSATU.com – Perjalanan Fadly menjadi petani kopi dimulai pada tahun 2010. Di Desa Nonong, ia memulainya dengan sebuah keyakinan sederhana bahwa tanah Batui menyimpan potensi yang belum terjamah.
Ia merintis “Kopi Batui Oishii” bukan sekadar untuk berbisnis, melainkan untuk membuktikan bahwa petani lokal bisa mandiri.
Namun, realita seringkali lebih keras dari impian. Fadly harus berjibaku dengan keterbatasan alat, dan biaya produksi yang menggerogoti.
Baca Juga : YBM PLN UIP Sulawesi Berikan Layanan Khitan Gratis dan Santunan untuk 50 Anak
Menanam Harapan di Bawah Menara*
Tahun 2024 menjadi titik balik yang monumental. PLN UIP Sulawesi hadir bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menjadi katalisator perubahan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan “Bantuan Pengembangan Usaha Petani Kopi Batui”.
Fokus utamanya adalah membangun ekosistem dari hulu, dimana populasi pohon kopi ditingkatkan, hingga ke hilir, dimana teknologi modern memangkas biaya produksi.
Tujuan besarnya jelas, yaitu menjadikan Batui sebagai ikon daerah, memenuhi permintaan kopi dari pasar lokal hingga mancanegara, serta membuka lapangan kerja baru. Bagi Fadly, bantuan ini adalah jawaban yang telah lama ia nantikan.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Salurkan 13 Hewan Kurban pada Iduladha 1447 H
“Melalui program ini, PLN membantu kami membangun fondasi usaha dari awal, mulai dari membuka lahan perkebunan, menyiapkan tempat pembibitan dan bibit kopi, hingga melengkapi kebutuhan kebun dan rumah produksi. Dukungan itu membuat kami semakin yakin bahwa usaha kopi di Batui memiliki masa depan yang besar,” tuturnya.
Transformasi dengan Alat yang Lebih Modern
Di tahun 2025 Kopi Batui bukan lagi sekadar produk rumahan, ia telah naik kelas. Pelatihan barista hingga pendampingan pemasaran membuat produk ini mampu menembus pasar yang lebih luas dan modern.
Fadly mengakui bahwa dukungan PLN pada tahun kedua menjadi pengungkit penting dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
Baca Juga : Bertahun-Tahun Menumpang Listrik, Rumah Ibu Daeng Kanang Kini Terang Berkat PLN
“2025, kami menerima berbagai bantuan yang mendukung proses pascapanen dan pengolahan kopi, seperti grader, mesin sortasi biji kopi elektrik, mesin konveyor, alat sortasi biji kopi berkapasitas 20 kilogram, alat ukur kadar air biji kopi, serta berbagai pelatihan. Bantuan ini membuat proses produksi menjadi lebih efisien, kualitas kopi lebih terjaga, dan kepercayaan diri kami untuk bersaing di pasar yang lebih luas semakin meningkat,” ungkapnya.
Berbekal dukungan tersebut, Kopi Batui Oishii terus berkembang, baik dari sisi kualitas produk maupun kapasitas usaha.
Apa yang dahulu berawal dari mimpi sederhana seorang petani kopi, kini perlahan menjelma menjadi usaha yang mampu membawa nama Batui semakin dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Baca Juga : Program Pemanfaatan FABA PLN UIP Sulawesi Raih Penghargaan TOP CSR Awards 2026
Berdiri Tegak di Ajang Penghargaan
Dedikasi PLN UIP Sulawesi dan kegigihan para petani di Batui pun menuai apresiasi tinggi. Program ini berhasil menyabet penghargaan Platinum dalam ajang Nusantara CSR Awards 2025 sebagai apresiasi atas pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Inovasi ini juga meraih predikat Gold dalam ajang Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) 2025 dari Universitas Hasanuddin Makassar.
Menuju Langkah Mandiri yang Kokoh
Kini, di tahun 2026, perjalanan pendampingan ini memasuki babak akhir yang manis. Fokus utama di tahun ini adalah memantapkan kapasitas produksi dan menstabilkan manajemen bisnis agar Kopi Batui Oishii memiliki fondasi yang tangguh.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Ajak Pegawai Terapkan Gaya Hidup Sehat Lewat Wellness League
Dengan sarana produksi yang modern dan sistem yang telah matang, usaha ini kini siap dilepas untuk berdiri sendiri.
General Manager PLN UIP Sulawesi I Gusti Made Aditya San Adinatha mengungkapkan, kesuksesan ini adalah cerminan bahwa PLN tidak pernah mematahkan potensi usaha yang ada di area pembangunan, justru sebaliknya.
“Keberhasilan Kopi Batui menunjukkan bahwa pembangunan jaringan transmisi 150 kV dapat berjalan selaras dengan aktivitas dan potensi lokal. Infrastruktur kelistrikan yang andal membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk berkembang, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.
Fadly telah membuktikan bahwa dengan kolaborasi yang tepat, sebuah komunitas bukan hanya bisa bertahan, tetapi bisa melesat dan menjadi kebanggaan daerah.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar