SULSELSATU.com, MAKASSAR – PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi terus mempercepat pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di Sulawesi Selatan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kawasan industri, dan kebutuhan listrik masyarakat dalam jangka panjang.
Senior Manager Perencanaan PLN UIP Sulawesi Misdjan Endang Subrata mengatakan, pengembangan sistem kelistrikan di Sulsel memiliki dua proyek yaitu proyek non-EBT dan EBT.
Proyek non-EBT yang dihadirkan kapasitas dominan bersumber dari teknologi gas, uap, dan mesin gas untuk menjamin stabilitas beban dasar listrik di wilayah Sulbagsel.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Ajak Warga Kaluku Bodoa Siaga Kekeringan dan Kebakaran
Sementara untuk proyek Energi Baru Terbarukan (EBT), PLN UIP Sulawesi komitmen pengembangan energi bersih yang bersumber dari potensi hidro (PLTA) di Susel.
Hal tersebut disampaikan Misdjan dalam kegiatan Media Gathering PLN UIP Sulawesi di Kantor PLN UIP Sulawesi, Kamis (18/6/2026).
Menurut dia, saat ini PLN menyiapkan sejumlah proyek strategis dengan total kapasitas pembangkit mencapai 1.184,5 megawatt (MW) yang terdiri dari pembangkit EBT dan pembangkit non-EBT.
Baca Juga : PLN Inventarisasi Lahan SUTET Wotu–Bungku untuk Perkuat Sistem Kelistrikan Sulawesi
“Dari total proyek tersebut, pembangkit energi terbarukan menyumbang kapasitas sekitar 264,5 MW. Beberapa proyek yang menjadi fokus antara lain PLTA Bakaru 2 dan PLTA Pokko yang memanfaatkan potensi energi air di Sulsel,” kata Misdjan.
Sementara itu, proyek non-EBT dengan kapasitas sekitar 920 MW masih menjadi penopang utama keandalan sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel).
Beberapa proyek yang disiapkan antara lain PLTGU/GM/GG Sulbagsel di Bantaeng, MPP Indonesia 1 di Punagaya, serta PLTMG Selayar.
Baca Juga : PLN Siapkan PLTMG Selayar 10 MW untuk Perkuat Kelistrikan Wilayah Kepulauan
Selain pembangunan pembangkit, PLN juga mengembangkan jaringan transmisi sebagai tulang punggung sistem kelistrikan Sulawesi.
Untuk Koridor Backbone Selatan, PLN menyiapkan pembangunan jaringan transmisi sepanjang lebih dari 745 kilometer sirkuit (kms) yang menghubungkan Palopo, Bakaru, Sidrap, Daya Baru, hingga Bantaeng.
Beberapa ruas utama yang masuk dalam proyek tersebut yakni Palopo–Bakaru 2, Sidrap–Daya Baru, dan Daya Baru–Bantaeng. Seluruh segmen ditargetkan beroperasi pada 2028 hingga 2029.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Perkuat Kesiapsiagaan Kaltana Kaluku Bodoa Hadapi Kekeringan dan Kebakaran
Di sisi lain, PLN juga mengembangkan Koridor Backbone Selatan–Tengah–Tenggara dengan total panjang jalur sekitar 968,1 kms. Koridor ini menghubungkan wilayah Wotu, Bungku, Andowia hingga Kendari.
“Pembangunan transmisi ini penting untuk memperkuat interkoneksi sistem Sulawesi sehingga distribusi listrik menjadi lebih andal dan efisien,” kata Misdjan.
Sejumlah Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) juga disiapkan untuk mendukung sistem tersebut, di antaranya GITET Palopo, Bakaru, Sidrap, Daya Baru, Wotu, Bungku, Andowia, Kendari, hingga Bantaeng.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Kembangkan Bank Sampah Pelita Bangsa, Dorong Ekonomi Sirkular di Makassar
Menurut Misdjan, pengembangan infrastruktur kelistrikan menjadi bagian dari upaya PLN mendukung investasi dan hilirisasi industri yang terus berkembang di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia.
Melalui berbagai proyek tersebut, PLN menargetkan sistem kelistrikan Sulawesi Selatan semakin kuat, mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, serta mendukung agenda transisi energi nasional menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
General Manager PLN UIP Sulawesi I Gusti Made Aditya San Adinatha mengatakan, Sulawesi itu memiliki wilayah unik, sangat dekat dengan energi terbarukan. Ada banyak PLTA.
“Dengan potensi ini, dibutuhkan tol listrik untuk menghubungkan energi. Pemerataan akses listrik juga menjadi salah satu fokus kerja. Masyarakat yang bisa merasakan listrik berkualitas akan mampu menggerakkan ekonomi,” ujarnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar