SULSELSATU.com, MAKASSAR – Badan Karantina Indonesia (Barantin) memastikan sistem layanan karantina terus berjalan optimal untuk mendukung daya saing komoditas perikanan Indonesia di pasar global.
Hal itu tersebut ditegaskan Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, saat meninjau langsung proses produksi dan pelayanan karantina di PT Bogatama Marinusa (PT BOMAR), salah satu eksportir udang terbesar di Kota Makassar, Jumat (7/8/2026).
Kepala Barantin turut didampingi Tenaga Ahli Utama Barantin dan Inspektur Barantin. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan produksi dan sertifikasi ekspor berlangsung sesuai standar kesehatan, keamanan pangan, sanitasi, serta ketertelusuran yang dipersyaratkan negara tujuan ekspor.
Selain itu, Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam menjaga kelancaran ekspor, sekaligus meningkatkan daya saing komoditas perikanan Indonesia di pasar internasional.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding, keberhasilan produk udang Indonesia menembus pasar internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas hasil budidaya, tetapi juga oleh sistem karantina yang mampu menjamin setiap komoditas memenuhi standar global.
“BOMAR merupakan salah satu perusahaan perikanan di Sulawesi Selatan yang membangun ekosistem budidaya dan pengolahan udang dengan standar yang sangat tinggi. Saya datang untuk melihat langsung bagaimana sistem itu berjalan. Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri udang dunia apabila pengelolaannya dilakukan secara tepat,” ujar Karding.
Dalam peninjauan tersebut, Karding mengamati secara langsung seluruh rangkaian proses produksi, mulai dari pengolahan (breaded process) hingga proses pengemasan (packing). Ia menilai standar mutu yang diterapkan perusahaan telah memenuhi standar ekspor internasional.
“Tugas kami memastikan seluruh komoditas perikanan yang diperdagangkan, baik antarwilayah maupun antarnegara, benar-benar sehat, aman, serta memiliki mutu dan kualitas yang terjaga. Standar yang diterapkan BOMAR merupakan standar ekspor dunia,” katanya.
CEO PT Bogatama Marinusa, Tigor Chendarma, mengatakan layanan karantina menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas ekspor perusahaan.
Menurutnya, proses sertifikasi yang cepat dan kredibel memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan negara tujuan sekaligus menjaga kepercayaan mitra dagang internasional.
“Layanan karantina bukan sekadar persyaratan administrasi, tetapi menjadi jaminan bahwa setiap produk yang kami kirim telah memenuhi standar kesehatan dan keamanan sesuai ketentuan negara tujuan. Kepastian layanan yang cepat sangat membantu menjaga kelancaran ekspor serta mempertahankan kepercayaan mitra dagang kami,” ujar Tigor.
Sementara itu, Kepala Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah, menegaskan bahwa pelayanan karantina memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran arus ekspor dari Sulawesi Selatan.
Setiap komoditas yang akan dikirim ke luar negeri, kata dia, wajib melalui pemeriksaan kesehatan dan pemenuhan persyaratan teknis sebelum sertifikat karantina diterbitkan.
“Komitmen kami memastikan setiap komoditas yang diekspor telah memenuhi seluruh persyaratan karantina sehingga dapat diterima negara tujuan tanpa hambatan. Kami juga terus meningkatkan kualitas layanan agar proses sertifikasi berlangsung cepat, akurat, dan memberikan kepastian kepada pelaku usaha,” ujarnya.
Data Karantina Sulawesi Selatan menunjukkan, sepanjang Semester I Tahun 2026, PT BOMAR telah mengekspor sebanyak 859,4 ton udang dengan nilai mencapai Rp148,2 miliar. Rinciannya terdiri atas 765.132 kilogram udang vaname senilai Rp122,5 miliar serta 94.292 kilogram udang windu senilai Rp25,7 miliar.
Komoditas tersebut diekspor ke sejumlah negara tujuan, di antaranya Jepang, Vietnam, dan Tiongkok, setelah melalui tindakan karantina dan penerbitan 69 sertifikat karantina sebagai syarat ekspor.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar