SULSELSATU.com, MAKASSAR – Botol plastik, sisa makanan, hingga dedaunan yang setiap hari dibuang rumah tangga sebenarnya masih menyimpan potensi. Jika dipilah dan dikelola dengan tepat, sampah tersebut tidak harus berakhir di tempat pembuangan akhir.
Sebagiannya dapat diolah kembali menjadi kompos, dimanfaatkan untuk budidaya maggot, atau menjadi bahan baku produk yang memiliki nilai ekonomi.
Prinsip inilah yang coba dijalankan Bank Sampah Unit (BSU) Pelita Bangsa di Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Melalui kegiatan pengumpulan dan pengolahan sampah, kelompok masyarakat ini berupaya mengubah barang buangan menjadi sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan.
Baca Juga : Griya Singgah Pasien YBM PLN Bantu Pasien Kurang Mampu dari Luar Daerah
Saat ini, BSU Pelita Bangsa memiliki 10 anggota dan 80 nasabah. Dari aktivitas tersebut, kelompok ini mengumpulkan sekitar 700 kilogram sampah setiap bulan.
Jumlah itu menunjukkan adanya keterlibatan masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan dari lingkungan tempat tinggal mereka.
Namun, mengelola sampah tidak cukup hanya dengan mengumpulkannya. Sampah perlu dipilah berdasarkan jenisnya agar dapat ditangani sesuai karakteristik dan potensi pemanfaatannya.
Baca Juga : YBM PLN Bantu Biaya Pendidikan 15 Mahasiswa Unismuh
Sampah organik, misalnya, dapat diolah menjadi kompos atau dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Sementara sampah anorganik yang masih memiliki nilai dapat dikumpulkan dan disalurkan untuk dimanfaatkan kembali.
Upaya tersebut membutuhkan sarana pengolahan yang memadai. Selama ini, BSU Pelita Bangsa masih mengandalkan peralatan sederhana untuk menjalankan aktivitasnya.
Kondisi itu kemudian mendapat dukungan dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Baca Juga : PLN Matangkan Sewa Lahan PLTMG Baubau 2
Program bertajuk “Penguatan Bank Sampah Unit Pelita Bangsa melalui Peningkatan Sarana Prasarana dan Edukasi Masyarakat Menuju Ekonomi Sirkular” tersebut menghadirkan sejumlah peralatan untuk menunjang kegiatan pengolahan sampah.
Bantuan yang diberikan meliputi mesin pencacah sampah organik, mesin jahit listrik, timbangan digital berkapasitas 100 kilogram, gerobak dorong, komposter aerob, ember tumpuk, sarana budidaya maggot, kompos bag, lemari etalase produk, serta berbagai perlengkapan pendukung lainnya.
Kehadiran peralatan tersebut diharapkan memperkuat tahapan pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. Mesin pencacah dan komposter, misalnya, dapat menunjang pengolahan sampah organik. Sarana budidaya maggot membuka peluang pemanfaatan limbah organik, sedangkan mesin jahit listrik menjadi fasilitas pendukung kegiatan produksi.
Baca Juga : PLN UIP Sulawesi Amankan 98 Persil Aset Tanah di Sultra
Ketua BSU Pelita Bangsa Rosmini mengatakan, bantuan peralatan dari PLN membuat pekerjaan pengolahan sampah menjadi lebih mudah dibandingkan sebelumnya.
“Dulu kami hanya mengolah sampah dengan sarana prasarana yang sederhana. Kini pekerjaan menjadi lebih ringan, terutama dengan adanya mesin pencacah dan mesin jahit baru dari PLN. Terima kasih banyak,” ujar Rosmini.
Dukungan PLN juga menyentuh tingkat rumah tangga. Sebanyak 60 tempat sampah diserahkan kepada 20 rumah warga. Setiap rumah menerima tiga wadah untuk membantu pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Baca Juga : PLN Buka Kanal Pengaduan Proyek PLTA Bakaru II
Pemilahan dari rumah menjadi bagian penting dalam membangun pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Ketika sampah sudah dipisahkan berdasarkan jenisnya, proses pengumpulan dan pengolahan di tingkat bank sampah dapat dilakukan dengan lebih terarah.
Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Makassar melalui Instruksi Wali Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Instruksi yang ditetapkan pada 27 Juli 2026 itu mendorong pemilahan sampah berdasarkan empat kategori, yakni organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Pemerintah juga mengarahkan pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, seperti budidaya maggot, pembuatan kompos, eco enzyme, dan biopori.
Selain itu, penguatan Bank Sampah Unit menjadi salah satu langkah untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah secara mandiri.
Senior Manager Perizinan, Pertanahan, dan Komunikasi PLN UIP Sulawesi Henry Donald Mangatas Silaen mengatakan, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan bersama dan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
“Sampah sudah menjadi persoalan besar di negara kita. Karena itu, sudah menjadi kewajiban kita bersama sebagai warga negara untuk turut mengelola dan mengurangi dampaknya. Upaya tersebut dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang kita lakukan hari ini, salah satunya melalui dukungan kepada BSU Pelita Bangsa,” ujar Donald.
Menurut Donald, dukungan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas pengolahan sampah BSU Pelita Bangsa, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah.
“Semoga melalui langkah ini, sampah tidak lagi hanya dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikelola, diolah kembali, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Dukungan terhadap pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut juga mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Melinda Aksa Munafri.
Ia berharap bantuan yang diberikan PLN dapat dimanfaatkan dengan baik dan mendorong pengembangan ekonomi sirkular di Kecamatan Rappocini.
“Mudah-mudahan bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan menjadi ekonomi sirkular di masyarakat Kecamatan Rappocini,” ungkap Melinda.
Melalui kegiatan bank sampah, masyarakat memiliki ruang untuk mengambil peran dalam mengurangi sampah sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan barang yang masih memiliki nilai.
Dukungan sarana pengolahan dari PLN menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kegiatan tersebut, sementara kebijakan pemerintah kota mendorong pemilahan dan pengolahan dilakukan sejak dari sumbernya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News






Komentar