Logo Sulselsatu

Opini: Kota Makassar menuju Universal Akses Air dan Sanitasi

Asrul
Asrul

Jumat, 07 Juni 2019 19:11

Opini: Kota Makassar menuju Universal Akses Air dan Sanitasi

Oleh: Cindy Chayani Mangampang
Mahasiswa Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Pendahuluan

Air merupakan kebutuhan yang paling penting bagi setiap makhluk hidup khususnya manusia. Air dapat pula digunakan sebagai sebagai air baku konsumsi, pengairan pada pertanian, sarana rekreasi, serta industri. Demikian pentingnya air dalam kehidupan namun, sayang persediaan air sangat terbatas. Dari seluruh jumlah air yang ada di bumi 97% adalah air yang berada di lautan (air asin) sehingga air tawar yang ada di bumi hanya 3%. Air tawar ini terdiri dari 2% dalam bentuk Es, 0,9% air tanah, dan 0,09 % air tawar berasal dari danau, sungai dan uap air di atmosfir. Dengan demikian hanya tersisa 0,5 % yang bisa dimanfaatkan.

Baca Juga : OPINI: Permenaker RI Nomor 18 Tahun 2022 Malapetaka Bagi Pengusaha

Permasalahan Air dan sanitasi

Dalam proses mengalirnya air seringkali terjadi pencemaran yang di sebabkan oleh industri besar, industri keci dan limbah rumah tangga. Pencemaran juga terjadi di danau oleh kegiatan perikanan serta limbah rumah makan yang ada di sekitar danau. Ciri-ciri air yang tercemar adalah keruh, berbuih, kotor, dan berbau. Tentunya air tidak lagi aman untuk pengairan pertanian apalagi digunakan sebagai air minum. Menurut BPS beberapa pekan, sejumlah kecamatan di Makassar mengalami kekurangan air bersih akibat distribusi dari PDAM yang kurang. Kepala Bagian Humas PDAM Kota Makassar Idris Tahir mengatakan menurunnya distribusi air di beberapa wilayah di Makassar karena debit air di bendungan Lekopancing, Maros menyusut sekitar 3 meter.“Produksi air menurun oleh karena debit air baku tidak maksimal sehingga suplai ke pelanggan di sembilan kecamatan yang disebutkan diatas. Selain masalah bendungan Lekopancing, sungai Moncongloe juga terpengaruh yang disebabkan oleh intrusi air laut yang air laut pasang. Adapun kecamatan yang terkena dampak kekurangan air diantaranya, Kecamatan Tallo, Wajo, Ujung Tanah, Bontoala, Manggala, Makassar, Tamalanrea dan Biringkanaya (sumber : SULSELSATU.com )

Insiden WBD

Baca Juga : Pembangunan Gedung Pascasarjana UIN Alauddin Makassar Capai 39 Persen

Air tercemar disebabkan masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas air turun sampai tingkat tertentu yang membahayakan, mengakibatkan air tidak berfungsi lagi sesuai peruntukannya (Mukono.2011). Total Coliform dan E. Coli merupakan faktor cemaran air yang dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat. Hampir semua sumber air minum di kota besar di Indonesia khususnya di kota Makassar tercemar bakteri seperti E. Coli dan Coliform. Akibat krisis air bersih sebagian besar masyarakat menggunakan air tidak layak pakai untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini juga disebabkan oleh lemahnya pengawasan dan keengganan untuk melakukan penegakan hukum secara benar membuat masalah pencemaran air dan air bersih menjadi masalah yang semakin parah setiap tahunnya. Akibat banjir besar pada bulan januari 2019, sejumlah warga di Makassar menderita berbagai sakit seperti penyakit kulit, Ispa dan diare.

Menuju Universal Akses Air dan Sanitasi

Berdasarkan data dari World Resources Institute tahun 1998, diperkirakan pada tahun 2025 sekitar 5103 m3 orang akan terus menningkat per tahun; yang berarti pasokan air per kapita akan semakin berkurang. Pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan ketersediaan air dan perilaku masyarakat menjadi penyebab utama masalah krisis air. Sebagai kebutuhan dasar manusia dan prasyarat kehidupan yang sehat dan layak, air minum dan sanitasi menjadi salah satu prioritas pembangunan Indonesia. Komitmen ini ditunjukkan Pemerintah Indonesia dengan memasukkan pembangunan air minum dan sanitasi ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), hingga Sustainable Development Goals (SDGs). Saat ini optimalisasi pemenuhan kebutuhan air bersih di kota Makassar masih 70 hingga 80 persen sehingga sangat dibutuhkan Strategi pengendalian serta pengembangan ilmu pengetahuan terkait pengolahan air dan sanitasi lingkungan. Berdasarkan sumber gosulsel.com, ditargetkan akhir tahun 2019 Pemerintah kota Makassar akan mencapai universal air minum dan sanitasi yang layak.

Baca Juga : Opini: Inmemoriam Andi Anthon Pangerang, Budayawan Besar Sulawesi Selatan Asal Tana Luwu

Penutup

Demi mewujudkan Makassar yang bebas dari kris air bersih perlu dilakukan pengelolaan air dan sanitasi lingkungan dengan cara mengelola limbah Industri (besar maupun rumahan), bijak memakai air, membuat sanitasi yang baik, mengurangi detergen, tidak membuang sampah ke sungai, beralih ke perikanan yang berkelanjutan serta, mengelolah limbah rumah makan yang baik. Dengan terjaganya kualitas air juga akan mendukung parawisata di Makassar sehingga makin banyak wisatawan asing maupun wisatawan lokal yang menikmati keindahan alam di Makassar. Hal ini dapat terlaksana dengan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat. Bersama kita selamatkan air untuk makassar yang lebih sehat.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

 Komentar

 Terbaru

News26 November 2022 16:14
Lewat Global IT Challengen (GITC) 2022, LG Berdayakan Generasi Muda Disabilitas
LG berdayakan anak muda disablitas...
Video26 November 2022 15:58
VIDEO: Gerombolan Monyet Liar ‘Serang’ Pemukiman Warga di Bandung
SULSELSATU.com – Sebuah video memperlihatkan gerombolan monyet menyerang pemukiman Warga Kota Bandung, Jawa Barat. Dalam video terlihat sekita...
Pendidikan26 November 2022 12:25
Undang Reviewer Nasional, LP2M UNM Ajak Dosen Kembangkan Kualitas Penelitian
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengadakan kegiatan seminar has...
Makassar26 November 2022 11:43
PHRI Bike Tour 2022 Lewati Destinasi Wisata, Kesempatan Perkenalkan Pariwisata Makassar
PHRI Bike Tour hadir di Makassar, momen perkenalkan pariwisata Makassar...