SULSELSATU.com, MAKASSAR – Buku Aldera “Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993 – 1999” seperti membaca buku Pramudya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru yang penuh emosi, dan sejarah Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis saat jadi narasumber pada acara bedah buku Aldera “Potret Gerakan Politik Kaum Muda 1993-1999” di Hotel Claro Makassar pada Jumat (11/11/2022).
“Seperti membaca tetralogi pulau buru ananta Toer, yang penuh emosi. Seperti membaca novel politik, novel sejarah, termasuk sejarah” ungkap Hamdan Juhannis.
Baca Juga : Willy Aditya Diskusi Bersama Puluhan Aktivis Mahasiswa Lintas Kampus di Makassar
Hamdan juga mengungkapkan bahwa buku ini menjabarkan bahwa Pius Lustrilanang adalah Aldera, dan Aldera adalah Pius Lustrilanang.
Dia juga menjelaskan kata “Aldera” berasal dari bahasa ganesia, yang berarti perlawanan waspada.
Jadi, menurutnya Aldera mewakili watak orang orang Ganesia yang berwatak melawan saat memimpin.
Baca Juga : Peserta Jalan Sehat 25 Tahun Reformasi di Makassar Tumpah Ruah
“Kata Aldera, ternyata dari bahasa ganesia. Yang berarti perlawanan waspada, yang orang yang berwatak ganesia adalah seorang pemimpinan,” ungkap Hamdan.
Hamdan mengungkapkan bahwa sangat suka dengan buku tersebut, karena isi dalam buku tersebut sangat kritis tanpa basa basi dalam bercerita.
“Apa yang saya suka dalam buku ini adalah telanjang. Dalam buku ini semua diceritakan,” pujinya.
Baca Juga : Diikuti 75 Ribu Masyarakat, Jalan Sehat Peringatan 25 Tahun Reformasi Bakal Digelar di Pantai Losari
Namun, Dia juga ungkapkan ketidaksukaannya dalam buku tersebut, karena dalam buku tersebut tidak menceritakan kisah asmara Pius Lustrilanang.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar