SULSELSATU.com, MAKASSAR — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti menyampaikan empat pesan penting saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) PP Muhammadiyah di Hotel Four Points Makassar, Jumat (13/2/2026).
Keempat pesan itu menegaskan arah penguatan sekolah Muhammadiyah agar lebih substantif, kolaboratif, dan berdampak nyata.
Di hadapan Pengurus Majelis Dikdasmen-PNF Muhammadiyah se-Indonesia, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa forum nasional tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan harus menghasilkan kerja nyata yang terukur.
Baca Juga : Unismuh Makassar Gelar Jalan Sehat Semarak Milad ke-63, Ribuan Peserta Ikut Meriahkan
Pesan pertama yang ditekankan Abdul Mu’ti adalah pentingnya tindak lanjut konkret setelah forum berakhir. Ia mengingatkan agar Rakernas tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan dokumentasi kegiatan.
Menurut dia, semangat dan gagasan besar yang mengemuka selama forum harus diterjemahkan dalam rencana aksi yang dijalankan di daerah. Keberhasilan Rakernas, tegasnya, bukan diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari program yang benar-benar berjalan dan memberi dampak pada sekolah.
Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan sebagian organisasi yang berhenti pada laporan administratif dan unggahan dokumentasi, tanpa memastikan keberlanjutan program.
Baca Juga : Pelantikan Pejabat Struktural Unismuh Jadi Momentum Penguatan I-GIFT dan Budaya Amanah
Pesan kedua berkaitan dengan pentingnya sinergi antara Kemendikdasmen dan Majelis Dikdasmen-PNF Muhammadiyah sebagai mitra strategis. Abdul Mu’ti menilai Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan yang luas dan pengalaman panjang dalam mengelola sekolah.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat menjadi kunci dalam memperluas akses serta meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah.
Ia menegaskan, tantangan pendidikan nasional tidak bisa diatasi oleh pemerintah sendiri. Diperlukan dukungan dan partisipasi aktif organisasi kemasyarakatan untuk mempercepat perbaikan kualitas layanan pendidikan.
Baca Juga : Dua Profesor Jepang Akan Berkuliah Tamu di Unismuh, Buka Peluang Riset dan Pertukaran Mahasiswa
Pesan ketiga adalah menjadikan Rakernas sebagai ruang saling menginspirasi dan berbagi praktik baik. Abdul Mu’ti mendorong peserta untuk memanfaatkan forum nasional sebagai sarana konsolidasi pengalaman dan inovasi yang telah berhasil diterapkan di daerah.
Menurut dia, berbagi praktik baik antarwilayah dapat mempercepat pemerataan mutu pendidikan. Sekolah yang telah berhasil dalam tata kelola, penguatan literasi, atau inovasi pembelajaran dapat menjadi rujukan bagi daerah lain.
Dengan demikian, Rakernas tidak hanya menjadi forum perumusan kebijakan, tetapi juga wahana pertukaran gagasan dan solusi konkret terhadap persoalan pendidikan di lapangan.
Baca Juga : Asesor LAM-PTKes Visitasi S1 Kebidanan dan Profesi Bidan Unismuh Makassar
Pesan keempat menyentuh aspek budaya organisasi. Abdul Mu’ti mengingatkan agar kegiatan seremonial tidak mendominasi agenda kerja. Ia menilai seremoni tetap penting, tetapi tidak boleh mengurangi fokus pada kerja substantif dan program berkelanjutan.
Secara tidak langsung, ia menekankan pentingnya indikator kinerja yang jelas dan terukur. Keberhasilan organisasi pendidikan, menurut dia, harus dinilai dari capaian program dan dampaknya terhadap kualitas pembelajaran, bukan dari frekuensi kegiatan formal.
Penegasan ini menjadi refleksi bagi pengelola sekolah Muhammadiyah untuk memperkuat tata kelola, menyusun target yang terukur, serta memastikan setiap program memiliki hasil yang dapat dievaluasi.
Baca Juga : Unismuh Makassar dan Kemendiktisaintek Perkuat Ekosistem Publikasi Ilmiah
Rakernas Majelis Dikdasmen-PNF PP Muhammadiyah 2026 membahas penguatan tata kelola, peningkatan mutu, serta kolaborasi strategis dalam membangun sistem pendidikan yang berkemajuan.
Melalui empat pesan tersebut, Abdul Mu’ti berharap sekolah Muhammadiyah semakin kokoh sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nasional, tidak hanya kuat secara tradisi, tetapi juga unggul dalam implementasi dan kinerja nyata di lapangan.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar