Logo Sulselsatu

Tak Hanya Nanas, Komisariat HMI Hukum UMI Desak Kejati Usut Program Pisang Cavendish

ridwan ridwan
ridwan ridwan

Rabu, 11 Maret 2026 16:53

istimewa
istimewa

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Penetapan dan penahanan sejumlah tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi proyek pengadaan bibit nanas di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2024 mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa hukum.

Tim Penyidik Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan pada Senin (9/3/2026) telah menahan lima orang tersangka dalam perkara tersebut. Salah satu tersangka yang ditahan diketahui merupakan mantan Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan berinisial BB.

Kasus ini bermula dari proyek pengadaan bibit nanas dengan total nilai anggaran sekitar Rp60 miliar. Dalam proses penyidikan, penyidik menduga adanya praktik penggelembungan harga (mark-up) serta indikasi pengadaan fiktif yang berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara hingga sekitar Rp50 miliar.

Menanggapi perkembangan tersebut, Ketua Komisariat HMI Hukum Universitas Muslim Indonesia (UMI), Syarif, menegaskan bahwa penegakan hukum dalam perkara ini harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak boleh tebang pilih.

“Kami menghormati langkah Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dalam menetapkan tersangka dalam kasus ini. Namun penanganan perkara tersebut harus dilakukan secara objektif, transparan, dan tidak boleh tebang pilih,” ujar Syarif.

Menurutnya, dalam proyek pengadaan dengan nilai anggaran yang besar, biasanya melibatkan berbagai pihak, termasuk pihak swasta atau pengusaha yang menjadi bagian dari proses pengadaan.

“Kami meminta agar Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan mendalami secara teliti seluruh pihak yang terlibat dalam proyek ini, termasuk para pengusaha atau pihak swasta yang diduga memiliki keterkaitan dengan proses pengadaan tersebut. Penanganan perkara ini harus dilakukan secara objektif, transparan, dan tanpa tebang pilih dalam menetapkan tersangka,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa proses penyidikan harus mampu menelusuri seluruh alur pengadaan secara komprehensif sehingga tidak ada pihak yang luput dari proses hukum.

“Semua pengusaha yang terlibat harus didalami secara teliti. Jangan sampai penegakan hukum hanya berhenti pada pihak tertentu, sementara pihak lain yang diduga turut menikmati proyek justru luput dari proses hukum. Prinsip keadilan mengharuskan setiap pihak yang memiliki keterkaitan untuk diperiksa secara objektif berdasarkan alat bukti yang ada,” tegasnya.

Syarif juga menilai bahwa kasus yang berkaitan dengan penggunaan anggaran publik harus ditangani secara serius karena menyangkut kepentingan masyarakat luas.

“Kami berharap Kejaksaan mampu mengungkap perkara ini secara terang dan menyeluruh sehingga seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan,” katanya.

Selain Nanas, Pisang Juga Perlu Diatensi

Lebih lanjut, Syarif juga mendorong agar aparat penegak hukum tidak hanya berhenti pada pengusutan proyek pengadaan bibit nanas, tetapi juga menelusuri program-program lain yang memiliki keterkaitan pada periode kebijakan yang sama.

Menurutnya, pada tahun 2023 Bahtiar Baharuddin sempat gencar mengampanyekan program budidaya pisang Cavendish di Sulawesi Selatan dengan target menjadikan daerah ini sebagai salah satu sentra produksi pisang terbesar di Indonesia.

“Kami juga mendorong agar Kejaksaan turut mencermati dan menelusuri berbagai program pertanian lain yang dijalankan pada periode tersebut, termasuk program pengembangan pisang Cavendish. Jika terdapat indikasi penyimpangan dalam pengelolaan anggaran maupun pelaksanaan program, maka hal tersebut juga perlu ditelusuri secara transparan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa langkah tersebut penting untuk memastikan seluruh kebijakan yang menggunakan anggaran publik dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan administrasi.

“Kami berharap proses penegakan hukum berjalan secara komprehensif sehingga semua pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap penggunaan anggaran negara dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tutup Syarif. (*)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Makassar02 November 2026 21:18
Pelindo Distribusikan Air Bersih ke 8 Kelurahan di Makassar
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 menyalurkan bantuan air bersih kepada warga di delapan kelurahan yang tersebar di Kecamatan Tallo dan Ujun...
Olahraga02 November 2026 19:04
Fazzio Youth Festival 2026 Berakhir, Ini Daftar Pemenangnya
Sejumlah sekolah di Makassar berhasil meraih gelar juara dalam Fazzio Youth Festival (FYF) 2026 yang digelar PT Suracojaya Abadimotor (SJAM) di GOR Un...
Makassar02 November 2026 16:52
Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.300 Triliun, OJK Siapkan Strategi Penguatan
Industri keuangan syariah Indonesia terus menunjukkan perkembangan di tengah ketidakpastian ekonomi global....
Ekonomi02 November 2026 16:25
PLN Bantu 25 Perempuan Pesisir Paotere Kembangkan Usaha Kerajinan Sisik Ikan
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi (UIP Sulawesi) membantu meningkatkan kapasitas usaha Kelompok Perempuan Pesisir Paotere melalui progr...