SULSELSATU.com, MAKASSAR – Anggota DPRD Kota Makassar dari Fraksi NasDem, H. Ruslan Lallo, menggelar kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Angkatan IV Tahun Anggaran 2026 bersama Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar di Hotel Karebosi Premier, Jumat (5/6/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Mursyid dari Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar serta Irwan yang membahas pengembangan sektor pertanian dan perikanan, khususnya implementasi program urban farming sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di Kota Makassar.
Ruslan Lallo Gelar Pengawasan Pemerintahan Daerah,
Dalam sambutannya, Ruslan Lallo menyebut wilayah Lakang dan Wala-Walaya merupakan salah satu basis masyarakat yang selama ini aktif terlibat dalam berbagai program pembangunan daerah. Karena itu, ia berharap kegiatan pengawasan tersebut dapat menjadi ruang dialog antara masyarakat dan pemerintah.
“Pada kesempatan ini saya berharap masyarakat memaksimalkan forum pengawasan ini untuk menyampaikan berbagai masukan terkait program pemerintah, khususnya program urban farming yang saat ini menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kota Makassar,” kata Ruslan.
Menurutnya, kegiatan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah bukan sekadar agenda formal DPRD, melainkan sarana untuk memastikan program-program pemerintah benar-benar berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Politisi dengan tagline ‘Ajjiamo’ itu menjelaskan, program urban farming merupakan pengembangan dari konsep pemberdayaan lorong yang sebelumnya dikenal melalui program lorong wisata. Jika sebelumnya fokus pada penghijauan dan tanaman produktif di lingkungan permukiman, maka urban farming hadir dengan cakupan yang lebih luas.
“Kalau dulu kita mengenal lorong wisata dengan berbagai tanaman produktif dan tanaman obat, sekarang urban farming lebih lengkap karena mencakup pertanian, perikanan, hingga peternakan. Karena itu masyarakat perlu memahami program ini secara utuh,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan, termasuk kebutuhan pendampingan, sarana pendukung, maupun usulan pengembangan program.
Menurut Ruslan, masukan dari masyarakat akan menjadi bahan evaluasi sekaligus rekomendasi kepada Pemerintah Kota Makassar agar program urban farming dapat berjalan lebih efektif.
Sementara itu, Mursyid, menjelaskan bahwa urban farming pada dasarnya merupakan konsep pertanian perkotaan yang dirancang sebagai solusi atas semakin terbatasnya lahan pertanian di wilayah perkotaan.
Ia mengatakan, pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan pertanian. Sebaliknya, lahan produktif semakin berkurang karena beralih fungsi menjadi kawasan permukiman, perkantoran, dan infrastruktur lainnya.
“Urban farming atau pertanian perkotaan lahir sebagai jawaban atas kondisi tersebut. Ketika lahan pertanian semakin terbatas, sementara kebutuhan pangan terus meningkat, maka masyarakat harus memiliki alternatif untuk tetap menghasilkan pangan secara mandiri,” jelasnya.
Menurut Mursyid, kawasan Lakang menjadi salah satu wilayah yang masih memiliki karakteristik pertanian yang cukup kuat di Kota Makassar. Selain berstatus sebagai kawasan konservasi, wilayah tersebut juga masih memiliki lahan produktif yang dapat mendukung pengembangan sektor pertanian dan perikanan.
Ia berharap keberadaan lahan pertanian yang tersisa dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung program urban farming yang sedang dikembangkan Pemerintah Kota Makassar.
Pada kesempatan yang sama, Irwan menjelaskan bahwa Kelurahan Lakang memiliki potensi besar dalam sektor pertanian karena sebagian wilayahnya masih berupa areal persawahan.
Ia menyebut luas wilayah Kelurahan Lakang mencapai hampir 200 hektare, dengan sebagian besar berupa lahan pertanian dan persawahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
“Potensi pertanian di Lakang cukup besar. Area persawahannya masih tersedia dan masyarakat juga memiliki pengalaman bertani secara turun-temurun. Hanya saja tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketersediaan air yang sangat bergantung pada musim hujan,” katanya.
Menurut Irwan, kondisi tersebut menyebabkan sebagian lahan pertanian hanya dapat digarap satu kali dalam setahun. Karena itu, program urban farming dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program urban farming tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
“Ketahanan pangan bukan hanya tugas petani atau pemerintah. Semua elemen masyarakat harus terlibat. Tanpa partisipasi masyarakat, program ini akan sulit berkembang secara maksimal,” ujarnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar