SULSELSATU.com, MAKASSAR – Salah seorang perwakilan wartawan mencecar Executive General Manager (EGM) Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Deny Sukendar terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Kondisi tersebut membuat sejumlah SPBU di Kota Makassar dipadati kendaraan hingga menimbulkan antrean panjang selama berjam-jam.
Pertanyaan itu disampaikan saat Deny menghadiri konferensi pers di Mapolda Sulsel, Senin (14/9/2026). Salah seorang wartawan, Fauzan, mempertanyakan alasan Pertamina yang menyebut masyarakat beralih dari BBM nonsubsidi ke subsidi.
“Bahwa masyarakat berpindah dari nonsubsidi ke subsidi lah. Kenyataannya di lapangan, Pak (Deni Sukendar), yang antre Pertamax pun tidak kalah panjang dengan yang antre Pertalite, Pak,” ujar Fauzan dengan nada tegas.
Baca Juga : Polisi Sita 18,9 KL BBM Subsidi dari 17 Tersangka di Sulsel, Modus Tangki Modifikasi
Fauzan kemudian menceritakan pengalamannya saat mengantre BBM nonsubsidi. Dia mengaku harus menunggu hingga tiga jam untuk mendapatkan Pertamax Turbo.
“Saya, Pak, ngantre 3 jam untuk beli Pertamax Turbo di motor, Pak. Itu yang dibilang panic buying, Pak?” ungkapnya.
Dia juga menyoroti narasi panic buying yang sebelumnya disampaikan Pertamina dan dibenarkan pemerintah daerah. Menurutnya, narasi tersebut justru tidak diterima masyarakat.
Baca Juga : SPBU di Jalan Tun Abdul Razak Gowa Belum Berlakukan Sistem Ganjil-Genap Hari Ini
“Narasi-narasi panic buying yang diutarakan oleh Pertamina yang kemudian dibenarkan oleh pemerintah daerah, itu secara tidak langsung tidak diterima oleh masyarakat, Pak,” paparnya.
Fauzan selanjutnya mempertanyakan penyebab antrean BBM yang terjadi selama berhari-hari. Dia juga meminta Pertamina memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Pertanyaannya adalah apa penyebab dari antrean yang berhari-hari ini, dan bagaimana Pertamina menjamin hal ini tidak terjadi lagi, Pak? Karena ini bukan kejadian di Sulawesi Selatan saja, Pak, di seluruh Indonesia. Kira-kira seperti itu. Mohon penjelasan dari pihak Pertamina seperti apa.” terangnya.
Baca Juga : Perang Kelompok Pecah di Bitowa Raya Makassar, Polisi Berhasil Kendalikan Situasi
Deny kemudian merespons pertanyaan tersebut. Dia mengatakan Pertamina masih menganalisis penyebab antrean BBM yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Terima kasih, rekan-rekan Wartawan. Kami memahami kondisi dari rekan-rekan sekalian. Yang dapat kami sampaikan, ini betul tadi disampaikan Jenderal juga, Pak Kapolda, ini masih kami menganalisa bersama-sama. Tetapi memang beberapa faktor yang tadi disampaikan, ini tidak satu faktor,” ucap Deny.
Menurut Deny, antrean BBM terjadi akibat akumulasi sejumlah faktor. Di antaranya disparitas harga dan lonjakan permintaan yang terjadi secara bersamaan.
Baca Juga : Warga Antre Berjam-jam di SPBU, Polda Sulsel Selidiki Dugaan Mafia BBM
“Tetapi ini merupakan akumulasi. Jadi, dari disparitas harga, kemudian dari lonjakan demand, ini terjadi bersamaan. Dan ini juga masih kami analisa dan kami antisipasi. Jadi, kami juga mohon pengertian dari rekan-rekan sekalian, kami berupaya untuk memenuhi distribusi ke seluruh wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan. Itu saja mungkin,” tutupnya.
Untuk diketahui, sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel) belakangan ini mengalami antrean panjang di sejumlah SPBU. Khusus di Kota Makassar, antrean bahkan terjadi hingga berjam-jam.
Pemprov Sulsel kemudian memberlakukan sistem ganjil-genap untuk pengisian BBM subsidi di seluruh SPBU di Sulsel mulai 13 hingga 20 September 2026.
Baca Juga : Emas Diduga Hasil Tambang Ilegal Papua Masuk Pasar Makassar
Kebijakan tersebut tertuang dalam surat bernomor 670/2478/DESDM tentang Penanganan Antrean Panjang BBM di SPBU Wilayah Sulawesi Selatan yang diteken Plt Kepala Dinas ESDM Sulsel Kasman. Surat itu juga ditujukan kepada Executive General Manager Regional Sulawesi PT Pertamina Patra Niaga.
“Untuk mengurai antrean diberlakukan sistem pengisian berdasarkan pelat nomor kendaraan ganjil genap di seluruh SPBU di Sulawesi Selatan,” kata Kasman dalam suratnya dikutip Sulselsatu, Minggu (13/9/2026).
Sebagai informasi, panic buying merupakan tindakan membeli barang dalam jumlah jauh lebih banyak dari biasanya karena rasa takut, cemas, atau khawatir barang tersebut akan habis atau langka.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar