SULSELSATU.com, MAKASSAR – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo meluncurkan layanan Onshore Power Supply (OPS) di Dermaga Serbaguna Nusantara, Terminal PNP Dermaga 004, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Fasilitas listrik darat berkapasitas 500 kVA tersebut memungkinkan kapal yang sedang bersandar menggunakan pasokan listrik dari darat.
Dengan demikian, penggunaan auxiliary engine atau mesin bantu kapal dapat dikurangi selama kapal berada di dermaga.
Baca Juga : Komisi V DPR Tinjau Layanan Pelabuhan Makassar
Peluncuran layanan OPS turut dihadiri perwakilan Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, KSOP Utama Tanjung Priok, Polres Pelabuhan Tanjung Priok, INSA, PT PLN (Persero), serta jajaran manajemen Pelindo Group.
Kepala KSOP Utama Tanjung Priok Capt. Heru Susanto mengatakan, penerapan OPS di Tanjung Priok dapat menjadi contoh bagi pengembangan pelabuhan yang lebih ramah lingkungan.
“Kami yakin implementasi OPS di Pelabuhan Tanjung Priok dapat menjadi best practice dan menjadi bagian dari transformasi pelabuhan di Indonesia menuju pelabuhan yang lebih hijau, efisien, berdaya saing dan berkelanjutan,” ujar Heru.
Baca Juga : Trafik Penumpang Pelindo Regional 4 Naik 12,9 Persen hingga Agustus, Capai 6,02 Juta Orang
Pengoperasian OPS menjadi salah satu langkah Pelindo dalam mendorong Tanjung Priok menuju konsep green port.
Penggunaan listrik darat dapat mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) selama kapal bersandar sekaligus menekan running hours mesin bantu kapal.
Dampaknya mencakup pengurangan kebutuhan pemeliharaan mesin, emisi gas buang, kebisingan, dan getaran di area dermaga.
Baca Juga : Pelindo Marine Perkuat Kompetensi Perajin Batik Kriya Punden Hadapi Industri 5.0
Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar mengatakan, pengembangan OPS merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pelabuhan yang lebih hijau, efisien, dan siap menghadapi perkembangan standar industri maritim global.
“OPS bukan sekadar menggantikan sumber listrik kapal dari genset menjadi listrik darat. Ini merupakan langkah konkret dalam transformasi Pelabuhan Tanjung Priok menuju green port, dengan menghadirkan energi yang lebih efisien, lebih bersih, dan lebih andal. Kami ingin membangun ekosistem pelabuhan yang tidak hanya semakin produktif, tetapi juga semakin berkelanjutan,” ujar Achmad.
Pengembangan OPS juga didukung PT PLN (Persero) melalui penyediaan ekosistem kelistrikan untuk mendukung transisi energi di kawasan pelabuhan.
Baca Juga : Laba Bersih PJM Grup Tumbuh 69 Persen hingga Agustus 2026
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyediakan pasokan listrik yang andal bagi kapal sekaligus mendukung efisiensi kegiatan kepelabuhanan.
“PLN siap mendukung transformasi sektor kepelabuhanan melalui penyediaan pasokan listrik yang andal untuk kapal sandar. Lewat kolaborasi ini, kami ingin mendorong produktivitas melalui penghematan para pelaku usaha di bidang maritim dan mengoptimalkan aktivitas pelabuhan, sekaligus menekan emisi yang dihasilkan,” ujarnya.
Potensi Emisi Turun 75 Persen
OPS bekerja dengan skema shore-to-ship power. Saat kapal bersandar dan terhubung dengan fasilitas OPS, kebutuhan listrik seperti hotel load, reefer, pompa, dan kebutuhan operasional lainnya dapat dipasok dari jaringan listrik darat.
Baca Juga : Pelindo Regional 4 Perkuat Keamanan Pelabuhan melalui Sertifikasi PFSO
Dengan skema tersebut, auxiliary engine kapal dapat dimatikan selama menggunakan OPS.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan, penerapan OPS diperkirakan dapat mengurangi emisi gas buang kapal hingga 75 persen.
Emisi lokal dari cerobong kapal, seperti nitrogen oksida (NOx), sulfur oksida (SOx), dan partikulat, juga dapat dihilangkan selama kapal sepenuhnya menggunakan pasokan listrik darat.
Dari sisi efisiensi, pengukuran terhadap dua kapal uji menunjukkan potensi penghematan biaya energi sekitar 40–64 persen dibandingkan penggunaan genset kapal. Besaran penghematan bergantung pada jenis mesin dan bahan bakar yang digunakan.
Berkurangnya running hours mesin bantu juga berpotensi menekan kebutuhan pemeliharaan serta memperpanjang interval overhaul mesin.
Dalam pengoperasiannya, Pelindo menugaskan PT Energi Pelabuhan Indonesia (EPI) untuk mengelola layanan OPS.
EPI mengelola jaringan distribusi listrik internal kawasan pelabuhan sekaligus memastikan kesiapan dan keandalan pasokan listrik dari darat ke kapal.
Direktur Utama PT EPI Andriyuda Siahaan mengatakan, fasilitas OPS di Dermaga 004 telah melalui Site Acceptance Test (SAT) dan berhasil diuji coba pada kapal niaga pada Juli 2026.
“Sebagai operator, PT EPI memastikan keandalan pasokan listrik dan kesiapan teknis layanan di dermaga. OPS juga membuka pengembangan layanan energi yang lebih terukur bagi pengguna jasa berdasarkan konsumsi listrik dan tingkat layanan yang dibutuhkan,” ujar Andriyuda.
Peluncuran di Tanjung Priok menjadi tahap awal pengembangan layanan OPS secara lebih luas. Setelah tahap pilot dan komersialisasi di Dermaga 004, Pelindo akan mengembangkan layanan tersebut secara bertahap ke terminal lain dengan kapasitas yang disesuaikan dengan kebutuhan kapal.
Dalam roadmap pengembangan, Pelindo menargetkan pengembangan OPS di Tanjung Priok hingga 24 unit pada 2027. Dalam jangka panjang, model tersebut direncanakan direplikasi ke terminal multipurpose, dermaga umum, serta pelabuhan lainnya.
Roadmap indikatif pengembangan secara nasional menargetkan hingga 123 unit OPS pada 2050.
“Dari Tanjung Priok, kami ingin membangun fondasi untuk memperluas solusi transisi energi ke terminal dan pelabuhan lainnya di Indonesia. Pelabuhan masa depan harus semakin produktif dan efisien, sekaligus mampu tumbuh dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” pungkas Achmad.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar