Logo Sulselsatu

Cerita di Balik Tren Solo Date: Sendiri Bukan Berarti Kesepian

Muh Jahir Majid
Muh Jahir Majid

Minggu, 08 November 2026 18:00

istimewa
istimewa

SULSELSATU.com, MAKASSAR – Tidak semua keinginan harus menunggu orang lain untuk bisa diwujudkan. Terkadang, seseorang hanya ingin menonton film yang baru tayang, mencoba kafe yang menarik perhatian, atau duduk sejenak sambil menyelesaikan pekerjaan. Namun, rencana sederhana itu bisa saja tertunda karena teman yang hendak diajak sedang sibuk atau tidak memiliki waktu luang.

Bagi Ade Rezkiawan Embas, kondisi tersebut bukan lagi alasan untuk mengurungkan niat. Ia sudah terbiasa pergi sendiri, mulai dari menonton film di bioskop hingga menjelajahi kafe-kafe baru. Aktivitas yang belakangan populer dengan istilah solo date itu justru menjadi salah satu cara Ade menikmati waktu luangnya.

Kebiasaan tersebut mulai terbentuk sejak pandemi Covid-19. Ketika pembatasan aktivitas membuat ruang pertemuan dengan orang lain semakin terbatas, Ade perlahan terbiasa melakukan berbagai hal secara mandiri.

Awalnya, keputusan untuk pergi sendiri bukan karena sengaja ingin mencoba pengalaman baru. Ada sebuah film yang ingin ditontonnya, tetapi saat itu tidak ada teman yang bisa diajak ke bioskop.

“Ada film yang keluar saat itu dan kebetulan tidak ada teman yang bisa diajak nonton. Jadinya saya nonton sendiri,” cerita Ade.

Pengalaman tersebut menjadi awal dari kebiasaannya melakukan berbagai aktivitas tanpa harus ditemani orang lain. Dari yang semula hanya karena tidak menemukan teman untuk pergi, kini Ade justru menikmati kesempatan untuk menentukan kegiatannya sendiri.

Mencari kafe baru menjadi salah satu aktivitas yang paling sering dilakukannya. Dalam seminggu, ia bisa melakukan solo date satu hingga dua kali, tergantung waktu dan kegiatan yang sedang dijalani.

Bagi Ade, persoalan waktu menjadi salah satu pertimbangan utama ketika memutuskan pergi sendiri. Keinginan mengunjungi suatu tempat terkadang muncul secara spontan, sementara mengajak teman berarti harus lebih dulu mencocokkan jadwal.

“Lebih mempertimbangkan waktu saat mengajak orang lain. Kadang tiba-tiba kepikiran mau nonton atau ke kafe, tetapi waktunya belum tentu pas dengan teman yang diajak,” ungkapnya.

Dengan pergi sendiri, ia tidak perlu menunggu kepastian jadwal orang lain. Ade bisa langsung menentukan tempat yang ingin dikunjungi dan mengatur sendiri waktu keberangkatannya.

Meski sekarang sudah terbiasa, bukan berarti pengalaman awalnya tanpa rasa canggung. Datang ke tempat yang umumnya dikunjungi bersama teman atau pasangan sempat membuatnya merasa berbeda. Namun, perasaan itu perlahan hilang setelah aktivitas tersebut dilakukan berulang kali.

“Awalnya canggung, tetapi lama-lama terbiasa. Sekarang lebih tenang, bisa fokus, dan biasa saja,” katanya.

Alih-alih merasa kehilangan teman untuk berbincang, Ade justru menemukan banyak hal yang bisa dikerjakan ketika berada di luar rumah seorang diri. Kunjungan ke kafe, misalnya, tidak selalu berakhir dengan duduk sambil menikmati minuman.

Ada kalanya ia membuka laptop untuk mengikuti kelas gratis melalui Coursera. Pada kesempatan lain, ia bermain gim, mengedit desain menggunakan Canva, atau sekadar menonton video di YouTube.

“Banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Kadang saya mencoba mengambil kelas gratis dari Coursera, bermain gim, mengedit Canva, atau membuka YouTube,” tuturnya.

Kebiasaan itu juga mengubah cara Ade mempersiapkan waktu luang. Sebelum berangkat, ia biasanya sudah memiliki gambaran mengenai kegiatan yang ingin dilakukan, berapa lama akan berada di lokasi, dan kapan waktunya kembali.

“Ketika menuju lokasi untuk solo date, saya lebih bisa mengatur kegiatan apa yang akan dilakukan di sana, jam berapa selesainya, dan apa saja yang mau dikerjakan,” jelasnya.

Kebebasan menentukan agenda tersebut menjadi salah satu hal yang paling dinikmati Ade. Ia bisa saja tiba-tiba tertarik mengunjungi tempat baru tanpa harus berdiskusi atau menyesuaikan pilihan dengan orang lain.

Kendati demikian, menikmati waktu sendiri tetap membutuhkan perencanaan, terutama soal anggaran. Ade biasanya menyiapkan sekitar Rp100 ribu untuk sekali solo date. Bahkan, ia mengaku terkadang lebih sering menyisihkan uang khusus untuk kegiatan tersebut.

Ponsel juga tidak sepenuhnya ditinggalkan selama menjalani aktivitas. Ade tetap mengambil foto, tetapi berusaha mengurangi penggunaan perangkat tersebut agar bisa lebih menikmati suasana di tempat yang dikunjungi.

“Saya jelas mengurangi penggunaan ponsel, tetapi tetap foto-foto. Lumayan juga untuk diunggah sebagai kontribusi di Google Maps supaya bisa mencari poin,” ujarnya.

Di balik kebiasaan yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu sendiri, Ade ternyata pernah mendapatkan pengalaman yang tidak direncanakan. Salah satu momen paling berkesan terjadi pada 2023 ketika ia mengunjungi sebuah kafe.

Saat itu, tujuannya sederhana. Ia hanya ingin duduk, membuka laptop, dan menyelesaikan pekerjaan. Namun, sebuah pertemuan membuat kunjungan tersebut menjadi pengalaman yang jauh lebih berkesan.

Di kafe itu, Ade bertemu seorang pria paruh baya yang mengalami masalah pada laptopnya. Ia kemudian membantu pria tersebut hingga keduanya terlibat percakapan dan saling mengenal.

Pertemuan itu berlanjut dengan obrolan mengenai kehidupan, keluarga, hingga berbagai pengetahuan yang dibagikan oleh pria tersebut. Ade yang awalnya datang seorang diri untuk bekerja justru pulang dengan pengalaman dan relasi baru.

“Pernah pada 2023 saya ke kafe sendirian. Niatnya cuma duduk, membuka laptop, dan bekerja. Tiba-tiba bertemu bapak-bapak yang laptopnya bermasalah, lalu saya bantu,” kenangnya.

“Dari situ akhirnya berkenalan dan mendengarkan cerita beliau tentang kehidupan, keluarga, serta ilmu yang bisa dibagikan. Hal itu membuat saya sadar bahwa kita juga bisa berkenalan dengan orang baru ketika pergi sendiri. Akhirnya, saya mendapat relasi baru,” lanjut Ade.

Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap aktivitas yang dilakukan seorang diri. Pergi tanpa teman ternyata tidak selalu berarti membatasi interaksi sosial. Justru, ada kesempatan untuk bertemu orang-orang baru di luar lingkaran pertemanan yang selama ini dikenal.

Di lingkungan sekitarnya, kebiasaan Ade juga mendapat respons yang biasa saja. Tidak banyak yang mempermasalahkan keputusannya untuk sering bepergian sendiri. Beberapa orang bahkan terkadang bertanya atau meminta rekomendasi kafe dan tempat yang nyaman untuk duduk sendiri.

Meski begitu, Ade tidak selalu memaksakan diri untuk menjalankan setiap rencana. Ia pernah membatalkan agenda solo date, bukan karena takut atau tidak nyaman datang sendirian, melainkan karena waktu yang tersedia terlalu singkat.

“Lebih ke masalah waktu. Kalau solo date tetapi waktunya cuma 40 menit, menurut saya tidak cukup dan tidak worth. Jadi, lebih baik agendanya dibatalkan saja,” jelasnya.

Bagi Ade, menikmati waktu sendiri juga tidak harus selalu dilakukan dengan mengunjungi kafe atau menonton film. Ada banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan tanpa perlu menunggu orang lain, seperti berkendara sendiri, berlari sore, bersepeda, hingga mengunjungi museum.

Ia menyarankan siapa pun yang ingin mencoba solo date untuk memulainya dari tempat yang membuat mereka nyaman. Kafe dengan suasana tenang atau tempat yang menyediakan ruang untuk bekerja bisa menjadi pilihan bagi pemula.

Selain memilih lokasi, penting juga untuk menentukan kegiatan yang ingin dilakukan agar waktu yang tersedia bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Pertama, cari lokasi yang menurutmu nyaman untuk solo date, seperti kafe yang hening atau cocok untuk working space. Kedua, waktu yang digunakan usahakan dibuat seproduktif mungkin,” sarannya.

Namun, Ade mengingatkan agar orang yang baru mencoba tidak terlalu terbebani dengan anggapan bahwa pergi sendiri merupakan sesuatu yang aneh. Aktivitas tersebut bisa disesuaikan dengan minat masing-masing dan tidak harus mengikuti gambaran solo date yang sering terlihat di media sosial.

“Ketiga, nikmati waktunya dan kegiatannya. Solo date tidak hanya ke kafe atau nonton. Bisa juga riding sendirian, lari sore sendiri, bersepeda, atau ke museum sendiri,” katanya.

“Keempat, tidak perlu merasa tidak nyaman. Kamu punya hak untuk menikmati waktumu sendirian tanpa ada orang lain,” lanjutnya.

Bagi Ade, ada perbedaan antara menikmati kesendirian dan merasa kesepian. Menurutnya, ukuran kedua hal itu bukan ada atau tidaknya orang di sekitar, melainkan apakah waktu sendiri itu terasa sebagai pilihan yang menyenangkan atau sebagai beban.

“Menurutku, menikmati waktu sendiri adalah melakukan kegiatan produktif tanpa melibatkan orang lain, sedangkan kesepian lebih kepada tidak ada teman. Keduanya mungkin terlihat serupa dari luar, tapi ada pengalaman yang berbeda bagi orang yang menjalaninya,” pungkasnya.

Salsabila Nurul Qholby (NIM: 06220240006)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Penulis : Andi Baso Mappanyompa
Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Makassar08 November 2026 17:58
DPPPA Makassar Gelar Festival Perempuan dan Anak, Gaungkan Anti Kekerasan
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar menggelar Festival Perempuan dan Anak dalam ...
Nasional08 November 2026 15:08
BRInita BRI jangkau 16 Provinsi, Hasilkan 31,7 Ton Sayur dan Buah
Program BRI Bertani di Kota (BRInita) yang dikembangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui BRI Peduli telah menghasilkan lebih dari 31,7 t...
Olahraga08 November 2026 14:55
Darmawangsyah Muin Harap Kontingen Gowa Masuk Sepuluh Besar Porprov Sulsel XVIII
Bupati Gowa Darmawangsyah Muin berharap kontingen Kabupaten Gowa mampu menambah perolehan medali dan masuk sepuluh besar....
News08 November 2026 12:12
PELNI Raih Penghargaan Konektivitas Maritim Nasional
PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Persero meraih penghargaan Excellence in National Maritime Connectivity dalam ajang CNN Indonesia Awards 2026 ...