Logo Sulselsatu

Sekolah Ramah Anak Harus Jadi Budaya

Asrul
Asrul

Selasa, 05 November 2019 13:37

Sekolah Ramah Anak Harus Jadi Budaya

SULSELSATU.com, MAKASSARSekolah Ramah Anak (SRA) harus jadi budaya, bukan hanya dalam rangka lomba. Itu simpulan dari pertemuan antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Komite Sekolah Kompleks Borong, Kepala sekolah dan guru-guru SD Inpres Borong dan SDN Borong serta perwakilan orang tua siswa, pada Senin (4/11/2019). Pertemuan ini diadakan sebagai persiapan Lomba Peningkatan Peran Keluarga Menuju Ketahanan dan Kesejahteraan (P2K3) Tingkat Provinsi Sulsel.

Kepala SD Inpres Borong, Muslih S.Pd, M.Pd berharap sekolahnya bisa jadi bagian dari SRA. Untuk itu, Muslih berkomitmen untuk memenuhi ketentuan yang jadi indikator SRA. Sementara Ketua Komite SD Kompleks Borong, Drs H. Marzuki mengapresia pertemuan yang dilakukan, apalagi menghadirkan sejumlah orang tua dari kedua sekolah.

“Hadirnya orang tua supaya kita semua paham apa itu SRA,” kata Marzuki saat membuka pertemuan.

Baca Juga : Adnan-Kio ajak Masyarakat Barombong Komitmen Wujudkan Sekolah Ramah Anak

Hj Faridah, Kasubid Pengarusutamaan Anak DP3A Kota Makassar, mengingatkan bahwa untuk membangun komitmen SRA harus dimulai dari deklarasi yang dilakukan bersama oleh semua pemangku kepentingan.

Sponsored by MGID

Baso Temmanengnga, yang hadir sebagai pemateri SRA dari DP3A, menjelaskan bahwa dalam mewujudkan SRA, ada banyak aspek yang mesti diperhatikan. Antara lain, perlu ada komitmen tertulis yang dibuat oleh pimpinan sekolah. Perlu juga program-program yang mendukung SRA. Misalnya, proses belajar mengajar yang ramah.

“Jangan atas nama disipilin lalu dilakukan kekerasan terhadap anak,” demikian Baso mengingatkan.

Baca Juga : Dwiyanti Basli Buka Sosialisasi Sekolah Ramah Anak TP PKK Selayar

Selanjutnya, perlu juga pendidik dan tenaga kependidikan yang terlatih dan paham Konvensi Hak Anak (KHA) dan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA). Dengan begitu, mereka mampu menangangi persoalan anak di sekolah. Karena anak berhak mendapat perlindungan selama berada di lingkungan sekolah, dan di masyarakat pada umumnya. Disampaikan, perlu ada kebijakan khusus dalam penanganan persoalan anak, di mana hal itu tidak merugikan anak.

Ditambahkan untuk bisa menjadi SRA, perlu ada sarana dan prasarana yang mendukung. Ruangan perlu disetting tersendiri. Bila perlu anak-anak yang mengatur sendiri bagaimana penataan ruang belajarnya. Misalnya, kalau anak-anak lebih nyaman dengan model lesehan dan menggunakan karpet, bisa saja dilakukan sepanjang itu menurut kesepakatan dan aspirasi anak.

Toilet juga perlu diperhatikan. Jangan dibedakan antara guru dan siswa tapi berdasarkan jenis kelamin. Ini sesuai prinsip non-diskriminatif. Perlu ada panggung kreasi untuk pengembangan bakat dan minat anak. Perhatian juga perlu diberikan pada colokan listrik agar memperhatikan keamanan dan keselamatan anak.

Baca Juga : Dwiyanti Basli Buka Sosialisasi Sekolah Ramah Anak TP PKK Selayar

“Intinya, sekolah harus bersih, aman, nyaman dan indah, serta harus inklusi. Suasana nyaman itu sudah bisa terlihat sejak murid masuk ke sekolah,” tambahnya.

Baso Temmanengnga, menyarankan perlunya kesepakatan bersama oleh kedua kepala sekolah bahwa kawasan SD Kompleks Borong merupakan SRA. Setelah itu dibentuk gugus tugas dan pembuatan papan informasi yang menunjukkan bahwa sekolah yang berada di Kecamatan Manggala, Makassar itu sebagai SRA.

Muhammad Hatta, Kasi Ketahanan dan Kualitas Keluarga DP3A, sekaligus Koordinator Lomba P2K3 Kota Makassar menambahkan bahwa tahun ini Kelurahan Borong ditunjuk mewakili Makassar untuk Lomba P2K3 Tingkat Provinsi Sulsel. Salah satu indikator dalam penilaian adalah sekolah yang sudah harus SRA.

Baca Juga : Dwiyanti Basli Buka Sosialisasi Sekolah Ramah Anak TP PKK Selayar

Rusdin Tompo, aktivis anak yang hadir dalam pertemuan mengatakan mewujudkan SRA itu bukan sekadar di atas kertas dan pembangunan fisik saja. Lebih dari itu adalah soal mindset dan perubahan perilaku. Paling tidak, menurutnya, deklarasi dan penandatangan sudah menunjukkan kemauan untuk jadi SRA.

Terpisah, Kepsek SDN Borong, Dra Hj Hendriati Sabir, M.Pd, menyatakan kesiapan sekolahnya mengadakan kegiatan Outdoor Classroom Day (OCDay) pada tanggal 7 November 2019 ini. Pihak sekolah akan menggandeng beberapa pihak dalam kegiatan, seperti pegiat literasi, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Radio Republik Indonesia (RRI).

“SRA itu butuh pendekatan multi-stakeholder,” katanya.(rls)

Baca Juga : Dwiyanti Basli Buka Sosialisasi Sekolah Ramah Anak TP PKK Selayar

Editor: Hendra Wijaya

 

Sponsored by ADVERTNATIVE

 Komentar

 Terbaru

Video20 Januari 2022 00:14
VIDEO: DPRD Sulsel Wacanakan Pembentukan Pansus Wakil Gubernur
SULSELSATU.com, MAKASSAR – DPRD Sulsel mewacanakan akan membentuk Panitia Khusus atau Pansus Wakil Gubernur Sulsel sisa masa jabatan 2018-2023. ...
OPD19 Januari 2022 23:01
Bertemu Mendikbudristek, Al Hidayat Minta Kuota Guru PPPK Ditambah
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Anggota DPRD Kota Makassar Al Hidayat Syamsu bertemu dengan Mendikbudristek Nadiem Makarim di Jakarta, Rabu (19/1/202...
Video19 Januari 2022 22:43
VIDEO: Momen Risma Hendak Bersimpuh ke DPR RI untuk Sampaikan Permohonan Maaf
SULSELSATU.com – Menteri Sosial, Tri Rismaharini menyampaikan permohonan maaf ke Komisi VIII DPR RI. Permohonan maaf itu dilakukan atas sikap ja...
Sponsored by MGID
Nasional19 Januari 2022 22:18
Jawab Tren Kebutuhan Masyarakat, Tahun 2022 Gojek Fokus pada Dua Hal Pengembangan
SULSELSATU.com, JAKARTA – Mewujudkan komitme terus menjadi andalan mobilitas masyarakat di tengah pandemi, Gojek melakukam berbagai inovasinya d...