SULSELSATU.COM, MALILI – Di kawasan pertambangan, air bukan sekadar bagian dari siklus alam. Air juga menjadi salah satu aspek yang harus dikelola secara cermat, terutama ketika hujan membawa material dari area terbuka menuju saluran pengendapan.
Atas dasar itu, pengelolaan air menjadi bagian penting dalam aktivitas operasional PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Menjaga kualitas air, berarti menjaga keberlanjutan.
“Air ini harus kita jaga kualitasnya. Komitmen PT Vale menjaga air, berarti penambangan pun akan berkelanjutan,” beber Supervisor Mine Infrastruktur PT Vale Indonesia Aris Kallolangi dalam sebuah kegiatan di wilayah penambangan di Luwu Timur, ahir Agustus 2026 lalu.
Baca Juga : PT Vale Integrasikan Pengelolaan Alam dan Inovasi Rendah Karbon untuk Perkuat Ketahanan Energi
Aktivitas pertambangan, terutama yang melibatkan pembukaan lahan, penggalian, dan pemindahan material, dapat mengubah kondisi permukaan tanah.
Area yang terbuka lebih mudah berinteraksi dengan air hujan. Ketika hujan turun, air dapat mengalir melewati permukaan tanah, membawa partikel tanah, sedimen, maupun material lain menuju saluran air.
Air limpasan seperti ini umumnya terlihat lebih keruh karena membawa padatan tersuspensi. Dalam konteks pertambangan, air tersebut perlu dikelola agar material yang terbawa tidak langsung dialirkan ke lingkungan tanpa melalui proses pengendalian dan pemantauan.
Baca Juga : Program Pangan dan Kemaritiman PT Vale Raih Dua Gold Awards InTechSEA 2026
Selain membawa material padat, air limpasan dari area operasional tambang juga berpotensi berinteraksi dengan material yang terdapat di permukaan maupun lapisan tanah. Kondisi tersebut membuat pengelolaan air tidak cukup hanya mengandalkan pengendapan alami, tetapi juga membutuhkan sistem yang dapat mengendalikan parameter kualitas air sesuai ketentuan lingkungan yang berlaku.
Salah satu parameter yang menjadi perhatian adalah total suspended solids (TSS) atau total padatan tersuspensi. Kandungan TSS menggambarkan jumlah material padat yang terbawa dan berada dalam air. Semakin banyak material yang tersuspensi, semakin keruh pula air yang terlihat secara kasatmata.
Dalam pengelolaan air pertambangan, parameter lain seperti kromium heksavalen atau Cr6+ juga dapat menjadi perhatian, tergantung karakteristik material dan proses yang berlangsung di wilayah operasional. Karena itu, air yang berasal dari kawasan tambang perlu diarahkan melalui sistem pengelolaan, diolah sesuai kebutuhan, serta diuji sebelum diteruskan ke tahapan berikutnya.
Baca Juga : Catut Nama Adat untuk Palang Seba-seba, Gusti Riadi Terancam Hukuman 14 Tahun
Sistem Berlapis
Di wilayah operasional PT Vale, pengelolaan air dilakukan melalui jaringan saluran dan kolam pengendapan. Air dari area operasional diarahkan menuju titik-titik pengumpulan agar material yang terbawa dapat dipisahkan secara bertahap.
Sistem tersebut didukung oleh kolam pengendapan atau sediment pond. Kolam ini memberikan ruang bagi partikel padat untuk mengendap dengan bantuan gravitasi sebelum air diteruskan ke proses berikutnya.

Seorang petugas tampak melintas di kawasan Lamella Gravity Settler (LGS). Teknologi ini digunakan PT Vale Indonesia untuk menjernihkan air limpasan tambang sebelum dialirkan ke Danau Matano. Foto: Sri Wahyu Diastuti / Sulselsatu.com
Baca Juga : Direktur Keamanan PT TRK Pimpin Blokade Total PSN Pomalaa, Tantang dan Maki Aparat TNI
Supervisor Hydrology and Compliance PT Vale Indonesia Andi Burhanuddin menyebut, PT Vale memiliki 126 kolam pengendapan untuk mendukung sistem pengelolaan air di wilayah operasionalnya.
Namun, pada kondisi tertentu, pengendapan konvensional membutuhkan ruang yang besar dan waktu yang cukup agar partikel padat dapat turun secara optimal. Kebutuhan inilah yang kemudian mendorong penggunaan teknologi pengolahan air dengan rancangan yang lebih kompak, Lamella Gravity Settler atau LGS.
Lamella Gravity Settler merupakan sistem yang memisahkan partikel padat tersuspensi dari cairan melalui proses sedimentasi. Teknologi ini menggunakan susunan pelat-pelat miring yang disebut lamella plate.
Baca Juga : PT Vale Perkuat Mitigasi Karhutla di Seluruh Wilayah Konsesi
Pelat-pelat tersebut disusun sejajar di dalam unit pengolahan. Ketika air yang mengandung material tersuspensi mengalir melalui sistem, partikel padat akan mengendap pada permukaan pelat.
Material itu kemudian bergerak turun menuju bagian penampungan lumpur, sedangkan air yang telah melalui proses pemisahan bergerak ke bagian atas untuk diteruskan ke tahapan berikutnya.
Susunan pelat miring membuat proses pengendapan berlangsung lebih efisien. Partikel tidak harus menempuh jarak panjang menuju dasar seperti pada kolam pengendapan biasa. Pelat menyediakan permukaan tambahan bagi material untuk mengendap dalam ruang yang relatif lebih terbatas.
Karena memanfaatkan gaya gravitasi dan tidak bergantung pada banyak komponen bergerak, teknologi lamella banyak diterapkan dalam sistem pengolahan air bersih maupun air limbah. Dalam sektor pertambangan, teknologi ini dapat digunakan untuk membantu memisahkan material padat dari air yang berasal dari kegiatan operasional.
Di PT Vale, LGS menjadi bagian dari rangkaian pengelolaan air yang mencakup pengaliran, pengendapan, pengolahan, serta pemantauan kualitas air.
Andi Burhanuddin menyebut fasilitas LGS yang dioperasikan perusahaan memiliki kapasitas pengolahan hingga 4.000 meter kubik air per jam. Kapasitas tersebut menunjukkan kemampuan fasilitas dalam menangani air dalam volume besar sebagai bagian dari sistem pengelolaan air tambang.
Menurut Andi, efektivitas LGS juga memiliki perbandingan 1:10 jika dibandingkan dengan pond konvensional.
Perbandingan tersebut menjadi salah satu aspek yang membedakan LGS dari sistem pengendapan biasa. Meski demikian, ukuran efektivitas 1:10 perlu dipahami berdasarkan parameter teknis yang digunakan, apakah berkaitan dengan kapasitas pengolahan, kebutuhan lahan, waktu pengendapan, atau aspek operasional lainnya.
Dengan desain pelat miring, LGS memungkinkan proses pemisahan material tersuspensi dilakukan dalam fasilitas yang relatif kompak. Teknologi ini bukan berarti menghilangkan seluruh zat yang terdapat dalam air, melainkan menjadi bagian dari proses pengolahan untuk membantu mengendalikan parameter kualitas air tertentu.
Pengelolaan air tambang tidak berhenti ketika air melewati fasilitas pengendapan atau LGS. Air yang telah diolah tetap perlu dipantau melalui pengujian parameter kualitas air untuk memastikan hasilnya sesuai dengan baku mutu lingkungan yang berlaku.
Karena itu, LGS perlu dipahami sebagai salah satu bagian dari sistem yang lebih luas. Teknologi tersebut bekerja bersama jaringan saluran, kolam pengendapan, proses pengolahan, pengujian laboratorium, dan pemantauan berkala.
Pendekatan berlapis menjadi penting karena kualitas air tidak hanya ditentukan oleh satu fasilitas. Kondisi cuaca, debit air, karakteristik material, serta proses operasional dapat memengaruhi air limpasan yang harus dikelola.
Andi juga menyampaikan bahwa fasilitas serupa direncanakan dibangun di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Rencana tersebut menunjukkan bahwa teknologi pengelolaan air menjadi salah satu pendekatan yang dipertimbangkan dalam pengembangan wilayah operasional perusahaan.
Menjaga Air, Menjaga Matano
Pentingnya pengelolaan air di kawasan pertambangan tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Danau Matano. Danau ini berada di tengah bentang alam industri nikel PT Vale, sehingga kualitas air di sekitarnya menjadi bagian penting dari keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Danau Matano dikenal sebagai danau terdalam di Asia Tenggara, dengan kedalaman mencapai 590 meter. Danau ini membentang sepanjang sekitar 28 kilometer, dengan lebar maksimal 8 kilometer.
Di permukaan, Matano menyajikan lanskap yang sulit diabaikan. Airnya tampak hijau dan jernih. Pada sejumlah bagian, dasar danau bahkan dapat terlihat dari permukaan. Fauna endemik yang hidup di dalamnya, seperti ikan louhan dan kepiting gori, menambah kekhasan ekosistem perairan tersebut.

Pengunjung saat menikmati wisata Danau Matano sambil naik kayak (Sri Wahyu Diastuti / Sulselsatu.com)
Di sekeliling danau, pepohonan hijau tumbuh rimbun. Perpaduan air yang bening, vegetasi, dan kehidupan fauna menjadikan Matano bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga memiliki daya tarik bagi masyarakat dan wisatawan.
Salah satu titik yang memperlihatkan hubungan antara kelestarian danau dengan kehidupan ekonomi warga adalah Laa Waa River Park, objek wisata yang dikelola pemuda Desa Matano melalui Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes.
Menurut Ketua Pengelola Desa Wisata Matano, Amsal, pengelolaan resmi Laa Waa River Park dimulai pada 2020. Sebelum dikelola masyarakat, lokasi tersebut telah sering dikunjungi wisatawan, tetapi belum memiliki pengawasan dan pengelolaan yang memadai. Akibatnya, kawasan itu sempat terbengkalai dan dipenuhi sampah.
“Kami terpikir, kenapa tidak kita buat objek wisata sebagai penghasilan, dan membuka lapangan kerja,” kata Amsal.
Sejak dikelola secara resmi, Laa Waa River Park dikembangkan sebagai ruang wisata berbasis masyarakat. Pengunjung dapat menikmati suasana Danau Matano melalui kegiatan berenang, berkemah, maupun menggunakan fasilitas rekreasi air yang tersedia.
Amsal menyebut pengunjung datang dari berbagai daerah. Bahkan, wisatawan dari Inggris dan Kanada pernah berkunjung ke lokasi tersebut. Ia menegaskan, wisatawan asing itu bukan tamu atau petinggi PT Vale, melainkan pengunjung yang datang untuk menikmati kawasan wisata.
Pada akhir pekan, jumlah pengunjung dapat mencapai lebih dari 100 orang. Pengelola menyediakan fasilitas berkemah, seperti tenda, karpet, dan kompor, dengan paket sewa sekitar Rp100 ribu. Sementara itu, tiket masuk dipatok Rp10 ribu per orang.
Pengunjung juga dapat mencicipi masakan berbahan bungkang gori, kepiting yang hidup di Danau Matano. Dari aktivitas wisata tersebut, pengelola mengaku dapat memperoleh keuntungan bersih hingga Rp7 juta per bulan.
Pengembangan Laa Waa River Park merupakan bagian dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat atau PPM PT Vale. Program tersebut turut mendukung pengembangan ekonomi lokal melalui pariwisata berbasis masyarakat. Atas pencapaian yang dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, program ini memperoleh penghargaan kategori Silver dalam ISDA.
Kisah Laa Waa River Park menunjukkan bahwa Danau Matano memiliki nilai yang melampaui keindahan lanskapnya. Danau ini menjadi ruang hidup bagi fauna, tempat masyarakat membangun aktivitas wisata, sekaligus sumber peluang ekonomi lokal.
Karena itu, pembahasan mengenai air limpasan tambang pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang saluran, kolam pengendapan, atau teknologi pengolahan. Ia juga berkaitan dengan bagaimana air yang berada di sekitar kawasan industri tetap dikelola secara bertanggung jawab, sehingga fungsi ekologis dan sosial perairan dapat terus dipertahankan.
Dalam konteks tersebut, LGS menjadi salah satu bagian dari upaya pengelolaan air PT Vale. Teknologi ini penting bukan semata karena kapasitas pengolahannya, melainkan karena air yang dikelola memiliki hubungan langsung dengan lingkungan di sekitarnya.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar