Logo Sulselsatu

Cerita Petani Merica dari Loeha Raya, Membangun Harapan Ruang Hidup dan Masa Depan yang Inklusif

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Kamis, 24 April 2025 17:39

Salah satu petani merica dari Loeha Raya. Foto: Istimewa.
Salah satu petani merica dari Loeha Raya. Foto: Istimewa.

SULSELSATU.com — Di balik rimbunnya kebun merica yang menyelimuti perbukitan Loeha Raya, tersembunyi cerita tentang perjuangan, ketahanan, dan harapan akan masa depan yang lebih inklusif.

Konflik wacana antara pelestarian lingkungan dan kebutuhan ekonomi masyarakat memang nyata, namun ada juga suara-suara yang lebih tenang—yang mengajak duduk bersama, bukan saling menunjuk.

Fatmawati, warga Loeha yang kini menjalankan usaha kecil di bidang kuliner, mengenang bagaimana tiga tahun lalu ia masih berdiri di garis yang menolak aktivitas tambang.

Baca Juga : Dari Rumah ke Pasar Digital, Shopee Bantu IRT Makassar Mandiri Secara Ekonomi

Namun, waktu dan pengalaman mengajarkannya bahwa membangun masa depan bukan hanya tentang menolak, tapi juga tentang membuka pintu dialog.

“Ada waktunya kita bicara keras, tapi ada waktunya kita mendengarkan. Saya melihat PT Vale membuka ruang untuk keterlibatan perempuan, untuk UMKM, dan saya ingin itu tumbuh. Saya ingin anak saya punya lebih banyak pilihan pekerjaan daripada yang saya punya dulu,” ujar Fatmawati.

Antara Lada dan Lapangan Kerja
Tidak bisa dipungkiri, merica adalah nadi ekonomi Loeha. Namun, seperti yang disampaikan Buana, seorang petani sekaligus ibu rumah tangga dari Desa Loeha, hasil dari kebun merica tidak selalu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga.

Baca Juga : KUR BRI Tembus Rp103,81 Triliun hingga Juni 2026, UMKM Terus Didorong Naik Kelas

“Ladang saya tidak besar, dan harga merica fluktuatif. Kadang saya harus menjual ayam atau pinjam ke tetangga kalau anak sakit. Saya berharap, kalau ada tambang, kami bisa ikut serta dan tidak sekadar jadi penonton,” katanya.

Buana, yang dulunya aktif dalam gerakan penolakan, kini memilih sikap yang lebih kolaboratif.

“Kami bukan melupakan perjuangan, tapi kami juga butuh solusi. Kalau ada ruang untuk masyarakat terlibat, kenapa tidak kita manfaatkan?,” ujarnya.

Baca Juga : Kedok APL Mulai Terbongkar, Gakkum Buru Jaringan Mafia Perambahan Hutan Lindung Loeha

Tidak semua hal tentang industri tambang berjalan mulus. Bahkan warga seperti Fatmawati dan Buana mengakui akan tetap bersuara bila ada kebijakan yang merugikan masyarakat. Namun mereka juga percaya bahwa solusi tidak lahir dari konfrontasi tanpa akhir.

Sebaliknya, pendidikan dan pemberdayaan menjadi kunci. Inisiatif untuk mendukung UMKM perempuan, program pelatihan untuk generasi muda, hingga upaya membangun infrastruktur sosial seperti posyandu dan sekolah menjadi bukti bahwa pembangunan bisa bersifat manusiawi jika dilakukan bersama.

“Yang kami butuhkan bukan belas kasih, tapi kemitraan yang adil,” ujar Fatmawati sambil menatap hamparan kebun kecilnya.

Baca Juga : PT Vale dan Masyarakat Adat di Wonua Mekongga Satukan Persepsi Jaga Keberlanjutan Sosial-Ekonomi

Menanam Harapan di Tanah Sendiri
Di tengah beragam suara, satu hal yang pasti: masyarakat Loeha Raya adalah penjaga tanah mereka sendiri. Mereka tahu kapan harus berkata cukup, tapi juga tahu kapan harus membuka ruang baru untuk harapan.

Bagi mereka, masa depan tidak harus menjadi pilihan antara lada atau tambang, antara tradisi atau teknologi—tapi tentang bagaimana semua pihak bisa bekerja sama menjaga keseimbangan.

Dan mungkin, dari Loeha Raya, kita belajar bahwa keberlanjutan sejati dimulai dari kesediaan untuk saling mendengarkan.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Hukum14 Agustus 2026 20:46
Bupati Gowa Makin Terancam, 3 Kasus yang Menyeret Namanya Naik Status di Kepolisian Selain Usulan Pemakzulan
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Bupati Gowa, Husniah Talenrang (HT) semakin terancam. Selain menunggu putusan Mahkamah Agung (MA) terkait usulan pema...
Bisnis14 Agustus 2026 20:10
Dari Rumah ke Pasar Digital, Shopee Bantu IRT Makassar Mandiri Secara Ekonomi
Ibu rumah tangga di tengah perkembangan teknologi digital kini bisa mendapatkan peluang baru untuk membangun usaha sendiri. Dari rumah, IRT kini bisa ...
Bisnis14 Agustus 2026 19:41
Pegadaian Hadirkan ATM Emas di Makassar, Cetak Emas Fisik dalam 3 Menit
PT Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) VI Sulselbarra Maluku menghadirkan ATM Emas di Makassar. Inovasi ini memungkinkan nasabah mencetak saldo emas dig...
Bisnis14 Agustus 2026 19:17
Transformasi Emas di Era AI, Pegadaian Perkuat Layanan Digital di Sulawesi dan Maluku
PT Pegadaian Kantor Wilayah (Kanwil) VI Sulselbarra Maluku terus mendorong transformasi layanan keuangan berbasis teknologi. Langkah tersebut dilakuka...