Logo Sulselsatu

Indeks Optimisme Bank Capai 56, OJK Sebut Kinerja Perbankan Tetap Solid

Sri Wahyu Diastuti
Sri Wahyu Diastuti

Senin, 09 Maret 2026 21:13

Otoritas Jasa Keuangan (dokumen: internet)
Otoritas Jasa Keuangan (dokumen: internet)

SULSELSATU.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan menilai kondisi perbankan nasional masih solid meski dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Hal ini terlihat dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) pada triwulan I-2026.

Kepala Eksekutif Pengawas perbankan OJK Dian Ediana Rae, mengatakan hasil survei menunjukkan kinerja perbankan diperkirakan tetap kuat dengan tingkat risiko yang masih terjaga.

Survei tersebut dilakukan pada Januari 2026 dengan melibatkan 93 bank sebagai responden. Total aset bank yang ikut dalam survei ini mencapai 94,17 persen dari keseluruhan aset bank umum berdasarkan data Desember 2025.

Baca Juga : OJK Sulselbar Edukasi Warga Bone, Ingatkan Bahaya Investasi Ilegal

Optimisme itu terlihat dari Indeks Orientasi Bisnis perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 yang berada di angka 56 atau masuk zona optimistis. Nilai ini menunjukkan pelaku industri perbankan masih percaya diri terhadap prospek bisnis mereka.

Keyakinan tersebut didukung oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan serta kemampuan bank dalam mengelola berbagai risiko, termasuk potensi kenaikan inflasi dan pelemahan nilai tukar.

Meski begitu, kondisi makroekonomi global masih memberi tekanan. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) yang berada di angka 45 atau masuk zona pesimis.

Baca Juga : OJK Edukasi Keuangan Nelayan Untia Makassar

OJK mencatat ada beberapa faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya adalah potensi kenaikan inflasi yang dipicu oleh faktor musiman seperti bulan Ramadan, Idulfitri, dan perayaan Tahun Baru Imlek yang biasanya meningkatkan konsumsi masyarakat.

Selain itu, pada tahun sebelumnya pemerintah memberikan diskon tarif listrik yang tidak kembali berlaku pada awal 2026. Kondisi ini juga ikut mendorong kenaikan harga barang dan jasa.

Nilai tukar rupiah juga diperkirakan menghadapi tekanan karena tensi geopolitik global yang masih tinggi. Namun di sisi lain, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh karena meningkatnya konsumsi masyarakat pada awal tahun.

Baca Juga : OJK Sulselbar Catat 2,18 Juta Rekening Pelajar, Total Simpanan Capai Rp412,38 Miliar

Mayoritas responden survei juga menilai risiko di sektor perbankan masih terkendali. Hal ini terlihat dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) yang berada di angka 57 atau masih dalam zona optimistis.

OJK menilai kualitas kredit perbankan masih terjaga dengan baik. Selain itu, posisi devisa netto bank juga relatif aman karena aset valuta asing lebih besar dibandingkan kewajibannya.

Dari sisi likuiditas, kondisi perbankan juga diperkirakan tetap stabil. Hal ini didukung oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) serta ketersediaan alat likuid yang memadai.

Baca Juga : Temu Responden 2026, OJK Sulselbar Paparkan Program Penguatan Inklusi Keuangan di Sulsel

Masuknya dana pemerintah daerah pada awal tahun juga diperkirakan akan meningkatkan arus kas masuk (cash inflow) di sektor perbankan.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) pada triwulan I-2026 tercatat 67, yang menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan kinerja perbankan ke depan.

Pertumbuhan kredit diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya permintaan pembiayaan dari berbagai sektor ekonomi. Industri pengolahan menjadi sektor yang paling dominan dalam penyaluran kredit, dengan pertumbuhan sekitar 6,60 persen secara tahunan pada Januari 2026.

Baca Juga : OJK Sulselbar Terima 1.190 Laporan, Terbanyak Pinjaman Online Ilegal Mencapai 1.070

Selain penyaluran kredit, penghimpunan dana masyarakat juga diperkirakan meningkat. Bank terus berupaya memperkuat sumber pendanaan guna menjaga likuiditas sekaligus mendukung ekspansi kredit.

“Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa responden memiliki concern yang besar terhadap kondisi global yang terus berlangsung untuk jangka waktu yang lama (prolonged), dan bahkan memburuk, serta implikasi yang ditimbulkan terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Meskipun berbagai indikator perbankan saat ini dalam posisi yang resilience, perbankan masih sangat membutuhkan ekosistem bisnis yang vibrant untuk dapat tumbuh dengan baik,” kata Dian.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

News18 Oktober 2026 09:40
Sinyal Bahaya di Balik Panggilan Tak Dikenal
Penipuan digital dapat menyusup ke aktivitas sehari-hari, mulai dari transaksi usaha kecil hingga panggilan telepon yang tampak biasa. Di tengah ancam...
Metropolitan17 Oktober 2026 23:02
Waspada Penipuan Mencatut Nama Anggota DPRD Makassar Muchlis A Misbah
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Beredar akun WhatsApp yang mengatasnamakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar H Muchlis A Mi...
Sulsel17 Oktober 2026 20:36
OJK Sulselbar Edukasi Warga Bone, Ingatkan Bahaya Investasi Ilegal
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) memperkuat literasi keuangan masyarakat Kabupaten Bone untuk mendorong pe...
Bisnis17 Oktober 2026 19:31
Modest Fashion Week 2026 Hadir di Makassar, Metro Bidik Pasar Busana Muslim Indonesia Timur
Potensi pasar busana muslim di Makassar menjadi salah satu alasan Metro menghadirkan Modest Fashion Week 2026 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sab...