SULSELSATU.com, MAKASSAR – Penelitian mengenai kapal tradisional Phinisi di Bulukumba menekankan pentingnya dokumentasi visual dalam upaya menjaga pengetahuan maritim masyarakat pesisir Sulawesi Selatan. Penelitian tersebut dilakukan oleh Muh. Alif Alim Arifki melalui program Dana Abadi Kebudayaan atau Dana Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan.
Penelitian lapangan dilakukan di kawasan Tanah Beru, salah satu sentra pembangunan kapal Phinisi di Bulukumba. Dalam prosesnya, Alif dan tim mendokumentasikan berbagai tahapan pembangunan kapal, termasuk ritual di dalamnya, hingga aktivitas para Panrita Lopi atau pembuat kapal tradisional di galangan.
Selain merekam proses teknis pembangunan kapal, dokumentasi juga diarahkan pada kehidupan sosial masyarakat pesisir yang selama ini tumbuh bersama tradisi maritim. Menurut Alif, sebagian besar pengetahuan mengenai pembuatan Phinisi diwariskan secara langsung melalui praktik di lapangan.
“Pengetahuan membuat Phinisi selama ini hidup di tengah masyarakat pesisir. Mereka belajar dengan melihat, mendengar, lalu ikut terlibat langsung dalam pekerjaan di galangan kapal. Karena itu, banyak pengetahuan yang sebenarnya belum terdokumentasikan secara formal,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, proses pembangunan Phinisi menyimpan berbagai unsur budaya yang berkembang di masyarakat pesisir, mulai dari keterampilan konstruksi kapal, pola kerja kolektif, hingga nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, publik lebih sering mengenal Phinisi sebagai kapal tradisional yang telah mendunia, sementara proses sosial dan budaya di balik pembuatannya masih jarang diketahui secara luas.
“Di balik kapal yang terlihat megah itu ada proses panjang yang melibatkan banyak orang. Ada pengetahuan tentang kayu, teknik konstruksi, pembagian kerja, sampai hubungan masyarakat pesisir dengan tradisi yang mereka jaga dari generasi ke generasi,” kata Alif.
Pemuda kelahiran 1998 silam ini menilai, dokumentasi visual memiliki peran penting dalam merekam detail-detail kehidupan di galangan kapal yang selama ini jarang tercatat. Melalui pendekatan fotografi dokumenter, penelitian tersebut berupaya menghadirkan gambaran mengenai ruang kerja, aktivitas masyarakat, dan suasana pesisir tempat tradisi Phinisi tumbuh.
“Yang ingin direkam bukan cuma bentuk kapalnya, tetapi juga kehidupan di sekitarnya. Ada ekspresi para pekerja, suasana galangan, hingga proses-proses kecil yang sebenarnya menjadi bagian penting dari tradisi pembuatan Phinisi,” ujarnya.
Hasil penelitian tersebut nantinya akan disusun dalam bentuk buku fotografi dokumenter yang memuat potret pembangunan kapal Phinisi dan kehidupan masyarakat di kawasan Tanah Beru. Dokumentasi itu diharapkan dapat menjadi arsip visual sekaligus bahan edukasi mengenai warisan budaya maritim Sulawesi Selatan.
Menurut Alif, keberadaan arsip visual menjadi penting di tengah perubahan sosial yang terjadi di kawasan pesisir. Ia berharap dokumentasi tersebut dapat membantu menjaga ingatan kolektif mengenai tradisi pembuatan Phinisi yang masih bertahan hingga saat ini.
“Tradisi ini masih hidup sampai sekarang dan masih dikerjakan oleh masyarakat pesisir. Karena itu penting untuk mendokumentasikannya secara serius agar generasi berikutnya tetap bisa memahami bagaimana pengetahuan maritim ini diwariskan,” pungkas Alumni Teknik Perkapalan Universitas Hasanuddin ini.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar