Logo Sulselsatu

Mappalili Jelang Musim Tanam, Taufan Pawe : Tradisi Yang Harus Dijaga

Andi Fardi
Andi Fardi

Rabu, 13 Oktober 2021 20:16

istimewa
istimewa

SULSELSATU.com, Parepare — Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Bugis. Kata Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi.

Tradisi tersebut terbilang unik dan memiliki makna pengharapan yang masih terus dipertahankan hingga saat ini oleh Sanggar Tani Galung Lompoe.

Acara Mappalili tahun ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (PKP) Wildana, dan Camat Bacukiki Kota Parepare, Saharuddin, di Kelurahan Lemoe, Rabu (13/10/2021).

Usai kegiatan Mappalilili, Kepala Dinas PKP Wildana, yang didampingi Camat Bacukiki, Saharuddin mengatakan, Mappalili ini merupakan salah satu acara yang rutin dilaksanakan tiap tahun, dan menjadi warisan budaya yang sudah turun temurun dilaksanakan sebagai permohonan dan mengharapkan Keberkahan dari Allah SWT agar musim padi tahun ini dapat melimpah.

“Ada kebersamaan di dalamnya, kekompakan, gotong royong dan semua terangkum dalam kegiatan Mappalili ini yang hampir semua Kelompok Tani di Kota Parepare ada berkumpul di acara ini,”Jelas Wildana.

Namun karena masih dalam Kondisi Pandemi Covid, Setiap Kelompok Tani (KTNA) hanya diundang sebanyak 3 orang.

Wildana berharap, agar acara mappalili ini tetap dilestarikan sebagai aset budaya sosial bagi masyarakat petani, khususnya di Kota Parepare.

Senada disampaikan Camat Bacukiki, Saharuddin, Acara Mappalili ini mengandung makna bahwa keberadaan warga yang hadir dalam acara ini mulai dari keliling sawah dengan beriringan semua komponen masyarakat untuk ikut di dalamnya menandakan bahwa disini harus ada kebersamaan, ada kegotong royongan dan kerjasama.

“Sehingga sesulit apapun pekerjaan yang dihadapi nantinya para petani ini, kita bersatu padu, mulai dari tingkat RT/RW ke bawah kelompok tani, stakeholder, SKPD terkait, kita menyatu di dalamnya sehingga permasalahan masyarakat bisa ditangani secepatnya,”pungkas Saharuddin yang merupakan Putra Asli Bacukiki ini.

Tradisi Mappalili ini dipimpin oleh pemimpin adat ataupun imam yang biasa memimpin doa. Kegiatan diawali dengan penggunaan alat bajak sawah mengelilingi areal sawah. Kemudian dilanjutkan dengan ritual mengelilingi areal sawah yang dipimpin oleh pemimpin adat/imam diikuti oleh para petani serta aparatur sipil yang turut serta mengambil bagian. Di separuh perjalanan, pemimpin adat/imam diikuti oleh petani kemudian berhenti untuk melafalkan doa. Doa berisi harapan agar hasil panen melimpah, mencukupi kebutuhan penduduk, lalu dilanjutkan lagi berjalan sejauh satu putaran areal sawah.

Sebelumnya, Wali Kota Parepare, Taufan Pawe meminta agar masyarakat tetap menjaga dan melestarikan budaya dan kearifan lokal, seperti halnya tradisi Mappalili jelang musim tanam.

“Tradisi Mappalili seperti ini harus kita jaga dan lestarikan. Sama halnya dengan tudang sipulung yang merupakan kearifan lokal yang terjaga sampai sekarang,” ujar dia.

SULSELSATU.com, Parepare — Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang dipegang oleh masyarakat Bugis. Kata Mappalili adalah tanda untuk mulai menanam padi.

Tradisi tersebut terbilang unik dan memiliki makna pengharapan yang masih terus dipertahankan hingga saat ini oleh Sanggar Tani Galung Lompoe.

Acara Mappalili tahun ini dihadiri Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan (PKP) Wildana, dan Camat Bacukiki Kota Parepare, Saharuddin, di Kelurahan Lemoe, Rabu (13/10/2021).

Usai kegiatan Mappalilili, Kepala Dinas PKP Wildana, yang didampingi Camat Bacukiki, Saharuddin mengatakan, Mappalili ini merupakan salah satu acara yang rutin dilaksanakan tiap tahun, dan menjadi warisan budaya yang sudah turun temurun dilaksanakan sebagai permohonan dan mengharapkan Keberkahan dari Allah SWT agar musim padi tahun ini dapat melimpah.

“Ada kebersamaan di dalamnya, kekompakan, gotong royong dan semua terangkum dalam kegiatan Mappalili ini yang hampir semua Kelompok Tani di Kota Parepare ada berkumpul di acara ini,”Jelas Wildana.

Namun karena masih dalam Kondisi Pandemi Covid, Setiap Kelompok Tani (KTNA) hanya diundang sebanyak 3 orang.

Wildana berharap, agar acara mappalili ini tetap dilestarikan sebagai aset budaya sosial bagi masyarakat petani, khususnya di Kota Parepare.

Senada disampaikan Camat Bacukiki, Saharuddin, Acara Mappalili ini mengandung makna bahwa keberadaan warga yang hadir dalam acara ini mulai dari keliling sawah dengan beriringan semua komponen masyarakat untuk ikut di dalamnya menandakan bahwa disini harus ada kebersamaan, ada kegotong royongan dan kerjasama.

“Sehingga sesulit apapun pekerjaan yang dihadapi nantinya para petani ini, kita bersatu padu, mulai dari tingkat RT/RW ke bawah kelompok tani, stakeholder, SKPD terkait, kita menyatu di dalamnya sehingga permasalahan masyarakat bisa ditangani secepatnya,”pungkas Saharuddin yang merupakan Putra Asli Bacukiki ini.

Tradisi Mappalili ini dipimpin oleh pemimpin adat ataupun imam yang biasa memimpin doa. Kegiatan diawali dengan penggunaan alat bajak sawah mengelilingi areal sawah. Kemudian dilanjutkan dengan ritual mengelilingi areal sawah yang dipimpin oleh pemimpin adat/imam diikuti oleh para petani serta aparatur sipil yang turut serta mengambil bagian. Di separuh perjalanan, pemimpin adat/imam diikuti oleh petani kemudian berhenti untuk melafalkan doa. Doa berisi harapan agar hasil panen melimpah, mencukupi kebutuhan penduduk, lalu dilanjutkan lagi berjalan sejauh satu putaran areal sawah.

Sebelumnya, Wali Kota Parepare, Taufan Pawe meminta agar masyarakat tetap menjaga dan melestarikan budaya dan kearifan lokal, seperti halnya tradisi Mappalili jelang musim tanam.

“Tradisi Mappalili seperti ini harus kita jaga dan lestarikan. Sama halnya dengan tudang sipulung yang merupakan kearifan lokal yang terjaga sampai sekarang,” ujar dia.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Otomotif18 September 2026 19:11
Hyundai STARGAZER Cartenz di Makassar Mulai Rp247,3 Juta, Dilengkapi Fitur Smart Cruise Control
Hyundai STARGAZER Cartenz dan STARGAZER Cartenz X hadir sebagai pilihan kendaraan keluarga dengan teknologi bantuan berkendara, kenyamanan kabin, sert...
OPD18 September 2026 18:30
RDP Tuntas, Komisi D DPRD Makassar Rekomendasikan Penutupan RSIA Paramount
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Komisi D DPRD Kota Makassar telah merampungkan rekomendasi terkait kasus meninggalnya seorang bayi di RSIA Paramount....
OPD18 September 2026 18:24
Komisi D DPRD Sulsel Soroti Pembangunan Koperasi Merah Putih di Lahan Terminal Pinrang
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Komisi D DPRD Sulawesi Selatan menyoroti pembangunan Koperasi Merah Putih di atas lahan Terminal Pinrang yang disebut...
OPD18 September 2026 18:22
Komisi A DPRD Sulsel Bakal Konsultasi ke BKN, Soroti Guru PPPK, Banyaknya Plt hingga TPP ASN
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Komisi A DPRD Sulawesi Selatan berencana melakukan konsultasi ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) untuk memperjelas sej...