SULSELSATU.com, MAKASSAR – Matahari baru saja terbit dari ufuk timur ketika Suddin Daeng Rani (63) menggelar terpal di depan rumahnya, Selasa 28 November 2023. Terpal itu ia jadikan alas untuk menjemur gabah basah.
Daeng Rani dibantu putranya, Zainal (26), mengangkat karung gabah keluar dari rumahnya menggunakan gerobak angkong. Satu demi satu.
Bapak dua anak itu baru saja memanen padinya beberapa hari lalu. Daeng Rani punya dua lahan persawahan dengan luas 4 dan 8 Are di Dusun Watu-Watu, Desa Julu Pa’mai, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).
Baca Juga : Rembuk Petambak dan Tebus Bersama Pupuk Indonesia Dukung Budidaya Perikanan di Sulsel
Ini adalah panen ketiga Daeng Rani tahun ini. Hasilnya memuaskan, melah cenderung meningkat. Padahal, padi-padi itu ia tanam dan tumbuh ketika kemarau akibat el-nino melanda sebagian wilayah di Indonesia.
“(Sawah) yang 4 Are hasilnya 8 karung gabah. Kalau yang ini (8 Are) hasilnya 12 karung gabah,” Daeng Rani menjelaskan.
Pada dua panen sebelumnya, sawah-sawah Daeng Rani ini memproduksi lebih sedikit gabah. Sawah yang luasnya 4 Are contohnya hanya 5 sampai 6 karung gabah. Sementara yang 8 Are hanya 9 karung gabah.
Baca Juga : Dukung Swasembada Pangan, Pupuk Indonesia Pastikan Stok Pupuk Bersubsidi Aman Saat Panen Raya Barru
Daeng Rani bilang, ketika kemarau, hasil panen memang cenderung lebih banyak ketimbang saat penghujan. Ini ada kaitannya dengan sinar matahari yang melimpah dan kebutuhan air yang tercukupi.
Petani di Julu Pa’mai memang tidak banyak terdampak kemarau. Hampir di tiap area persawahan ada sumur-sumur bor. Ketika padi butuh air, mereka akan memompa dengan mesin bertenaga minyak dan gas.
Sinar matahari yang melimpah ketika kemarau akan membuat fotosintesis lebih maksimal. Pemupukan pun bisa lebih baik, sebab nutrisinya tidak akan terbawa oleh air mengalir.
Baca Juga : Pupuk Indonesia Pastikan Penyaluran Pupuk Subsidi di Sulsel Sesuai Prinsip 7T
“Kalau tergenang air, padinya biasa susah tumbuh. Kalau kemarau, kita bisa kontrol airnya,” ucap Daeng Rani.
Daeng Rani menyampaikan, panen melimpah ini pun tak lepas dari ketersediaan pupuk urea bersubsidi yang diproduksi PT Pupuk Indonesia (Persero). Ia bisa mendapatkanya dengan mudah ketika butuh. Harganya tak lebih Rp150 ribu.
“Satu sak pupuk urea itu saya pakai dua atau tiga kali pemupukan untuk dua sawah ini,” beber Daeng Rani.
Baca Juga : Pupuk Subsidi di Kecamatan Amali dan Cina Bone Dipastikan Sesuai HET
Pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia memang jadi andalan petani. Ia membuat daun padi jadi tampak lebih segar, sehat, dan hijau. Meningkatkan jumlah protein pada tanaman padi, mempercepat pertumbuhan tanaman padi, lebih cepat tinggi, serta mempunyai banyak cabang dan anakan.
Daeng Rani bersyukur, stok pupuk urea milik PT Pupuk Indonesia mudah diakses. Sehingga produksi pertaniannya bisa maksimal, hingga bisa menjaga ketahanan pangan. Sebab, sebagian gabahnya juga ia jual kembali.
Pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia bukan hanya dimanfaatkan petani. Lebih dari itu, pemilik lahan perkebunan di Julu Pa’mai juga memanfaatkannya untuk tanaman pangan lain. Salah satunya oleh Sakir Daeng Sewang (59).
Baca Juga : Pupuk Subsidi Perdana Masuk Rongkong, 627 Petani Luwu Utara Kini Terdaftar
Hari itu Senin 24 November pagi, Sewang tampak bolak-balik dari rumah ke agen pengecer pupuk subsidi. Rumah Sewang juga berada di Dusun Watu-Watu, Desa Julu Pa’mai, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulsel.
Dua kali Sewang pergi pulang ke agen pupuk yang letaknya masih satu desa. Tiap datang, Sewang membawa satu karung pupuk urea bersubsidi produksi PT Pupuk Indonesia. Ia bonceng di belakang motor bebeknya.
Karung-karung pupuk tersebut lalu ia tumpuk di dekat pintu belakangnya. Rencananya, pupuk tersebut akan dipakai ketika musim tanam tiba. Pupuk itu juga akan digunakan memupuk tanaman pangan di kebunnya yang berada di desa seberang.
Sewang mengelola sejumlah petak tanah persawahan dan kebun di Watu-Watu dan desa sebelah. Hasil dari tanaman pangan yang ditanam di lahan itu dia gunakan menghidupi istri serta membesarkan dan menyekolahkan dua anaknya.
Di kebunnya di Dusun Palompong, Desa Pa’bbentengang, Kecamatan Pallangga, Sewang punya tanah seluas 24 Are.
Di lahan itu, ada berbagai tanaman buah musiman yang ia tanam, seperti rambutan. Pada waktu-waktu tertentu, ia juga menanam jagung, kacang panjang, terong, mentimun, singkong, sampai ubi jalar.
Pada tanaman-tanaman itu, Sewang mengaplikasikan pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia. Hasilnya melimpah. Musim lalu, ia bahkan bisa memanen hingga satu ton rambutan dari 14 pohon.
“Pupuk itu bikin buah lebat, daun hijau dan subur. Tahun lalu sampai 1 ton, beber Sewang.
Sewang berharap, pada tahun-tahun mendatang, stok pupuk urea subsidi yang diproduksi PT Pupuk Indonesia lebih banyak dan mudah diakses. Sehingga, produksi pertanian masyarakat lebih melimpah.
PT Pupuk Indonesia memberikan perhatian lebih ke Sulsel dengan mendistribusikan stok pupuk mencapai 188.808 ton pada Oktober 2023 lalu. Stok itu setara 233 persen dari kebutuhan bulan November yang ditetapkan pemerintah, yaitu sebesar 81,167 ton.
Distribusi Pupuk Indonesia yang lancar memudahkan petani mendapat stok untuk menjaga hasil panen. Foto: Sri Wahyu Diastuti/Sulselsatu.com
Stok tersebut jumlahnya di atas ketentuan yang diatur pemerintah. Di Sulsel, alokasi tersebut setara dengan 333 persen dari kebutuhan, dan NPK 280 persen dari alokasi bulan November.
“Begitu juga dengan stok pupuk NPK formula khusus kakao mencapai 101 persen. Pupuk-pupuk ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan petani selama satu bulan ke depan,” papar Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Pupuk Indonesia, Wono Budi di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Rabu 1 November 2023.
Untuk menjamin kelancaran pupuk bersubsidi hingga petani, Pupuk Indonesia memiliki fasilitas distribusi yang baik di Sulsel. Fasilitas distribusi ini terdiri dari 24 gudang yang tersebar hampir di semua Kabupaten/Kota, kemudian 54 distributor, dan 1.093 kios. Seluruh fasilitas distribusi ini dapat dipantau secara digital dan realtime melalui Distribution Planning & Control System (DPCS).
Selain itu, untuk mempermudah koordinasi serta memperkuat pengawasan di lapangan, Pupuk Indonesia juga memiliki 28 petugas lapangan yang tersebar di berbagai daerah di Sulsel.
Ini merupakan komitmen perusahaan dalam menjamin kelancaran penyaluran pupuk bersubsidi berdasarkan prinsip enam tepat (6T), yaitu tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu, dan tepat mutu.
Lebih lanjut, Wono memastikan pupuk bersubsidi akan disalurkan kepada petani sesuai dengan regulasi pemerintah.
Di Sulsel sendiri, tercatat sekitar 2.137.350 hektare lahan pertanian, dan digarap oleh 933.888 petani yang tersebar di 24 kabupaten/kota. Dengan total e-alokasi pupuk bersubsidi tahun 2023 sebesar 686.714 ton. Rinciannya urea 420.521 ton, NPK 243.309 ton, dan NPK khusus kakao 22.884 ton.
Sementara itu, dari sisi penyaluran atau pendistribusian pupuk bersubsidi di daerah Penjualan Wilayah 6, Pupuk Indonesia per 30 Oktober 2023 telah merealisasikan atau menyalurkan pupuk bersubsidi 722.526 ton atau di angka 54 persen dari total alokasi sepanjang tahun 2023 sebanyak 1.343.731 ton.
Cek berita dan artikel yang lain di Google News







Komentar