Logo Sulselsatu

Masa Depan Indonesia Dimulai dari Ruang Kelas

Muh Jahir Majid
Muh Jahir Majid

Selasa, 28 Juli 2026 13:00

istimewa
istimewa

Masa Depan Indonesia Dimulai dari Ruang Kelas
Mengapa Pembelajaran Mendalam Menjadi Kunci Melahirkan Talenta Digital Bangsa


Oleh: Farid Mawardi

“Indonesia Emas 2045” sering kita gaungkan. Namun, cita-cita itu tidak akan terwujud hanya di ruang rapat atau melalui kebijakan pemerintah. Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dibentuk setiap hari di ruang kelas, tempat talenta masa depan lahir.

Sayangnya, ketika dunia bergerak menuju kecerdasan buatan, robotika, dan ekonomi digital, masih banyak ruang kelas yang tetap seperti dulu. Murid duduk diam, guru menjelaskan, papan tulis penuh tulisan, buku catatan penuh rangkuman, dan ujian menjadi tujuan akhir pembelajaran.

Pertanyaannya sederhana. Apakah cara belajar seperti itu masih mampu menyiapkan generasi yang akan hidup pada tahun 2045?

Perubahan yang terjadi bukan sekadar prediksi. The Future of Jobs Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum menjelaskan bahwa perkembangan AI, otomatisasi, dan transformasi digital secara mendasar mengubah keterampilan yang diperlukan di dunia kerja. Kemampuan berpikir analitis, kreativitas, kolaborasi, ketahanan menghadapi perubahan, serta literasi AI menjadi kompetensi yang semakin penting bagi keberhasilan seseorang di masa depan.

Temuan tersebut sejalan dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 dari OECD. Keberhasilan pendidikan tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak murid mampu menghafal informasi. Sekarang, keberhasilan diukur dari seberapa jauh mereka dapat menggunakan pengetahuan untuk memecahkan persoalan nyata, berpikir kritis, dan membuat keputusan yang tepat. Dengan kata lain, dunia sedang berubah lebih cepat daripada cara sebagian sekolah mengajarkan murid.

Selama puluhan tahun, keberhasilan sekolah seringkali diukur dengan angka. Nilai rapor menjadi kebanggaan, ranking menjadi tujuan, dan ujian menjadi puncak dari proses belajar. Padahal dunia kerja hampir tidak pernah bertanya berapa nilai matematika seseorang. Dunia lebih membutuhkan individu yang mampu bekerja sama, menyelesaikan masalah, belajar secara mandiri, berkomunikasi dengan baik, dan beradaptasi dengan perubahan yang sangat cepat.

Di sinilah Pembelajaran Mendalam menemukan relevansinya. Pembelajaran tidak lagi berorientasi pada menghafal jawaban, tetapi dapat membangun pemahaman yang bermakna. Murid tidak hanya mengetahui konsep, tetapi juga mengalami proses berpikir, berdiskusi, dan berinovasi, hingga akhirnya menemukan solusi. Belajar bukan lagi aktivitas menerima informasi, melainkan proses membangun pengetahuan melalui project pengalaman nyata.

Arah ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yaitu kegiatan pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan. Guru diharapkan menghadirkan pengalaman belajar yang membuat murid dapat menghubungkan ilmu yang dipelajari dengan kehidupan nyata sehingga pembelajaran benar-benar membentuk karakter dan kompetensi masa depan.

Praktik ini kami bangun di SMK Telkom Makassar. Pembelajaran koding dan kecerdasan artificial tidak berhenti di ruang kelas. Sebelum mengetik satu baris kode, murid diperkenalkan dengan berbagai persoalan nyata melalui office tour ke Telkom AI Center of Excellence. Murid melihat langsung bagaimana kecerdasan buatan digunakan untuk meningkatkan efisiensi kerja, menganalisis data, dan membantu menyelesaikan berbagai persoalan di berbagai bidang. Dari pengalaman itu, murid memahami bahwa teknologi bukan sekadar alat untuk membuat aplikasi, melainkan sarana untuk memberikan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pengalaman belajar itu berlanjut melalui Project Expertise, sebuah model pembelajaran berbasis proyek yang menempatkan siswa sebagai pengembang perangkat lunak profesional. Pada tahun ajaran 2025–2026, program ini melibatkan 144 murid yang terbagi ke dalam 33 tim pengembang. Mereka dipercaya untuk mengembangkan 33 aplikasi digital guna memenuhi kebutuhan nyata 33 klien dan mitra dari dunia usaha, lembaga pendidikan, dan komunitas.

Dalam proses ini, guru tidak lagi menjadi pusat informasi, tetapi berperan sebagai mentor yang mendampingi konsultasi, monitoring, dan evaluasi proyek. Setiap siswa menjalankan peran sesuai praktik industri teknologi, mulai dari Project Manager, Backend Developer, Frontend Developer, Mobile Developer, Desktop Developer, hingga UI/UX Designer. Mereka belajar bertanggung jawab sesuai perannya dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.

Pembelajaran dimulai dari wawancara kebutuhan pengguna, penyusunan solusi, perancangan antarmuka, pengembangan aplikasi, konsultasi bersama guru dan klien, debugging, pitching, hingga evaluasi produk. Ketika mengalami kegagalan, siswa tidak langsung mendapatkan jawaban dari guru. Mereka didorong untuk berdiskusi, mencari akar permasalahan, menghadirkan solusi, dan mempresentasikan hasilnya kepada klien. Di sinilah mereka belajar bahwa kesalahan bukanlah akhir, melainkan bagian penting dari proses menghasilkan karya yang lebih baik.

Hasilnya terlihat dari berbagai solusi digital yang telah berhasil dikembangkan. Murid menghasilkan sistem informasi perusahaan, platform administrasi sekolah, aplikasi kasir digital UMKM, sistem manajemen laboratorium elektronik, platform promosi pariwisata, aplikasi smart tourism berbasis Internet of Things, sistem pengelolaan stok berbasis analitik data, hingga aplikasi layanan operasional haji dan umrah. Semua aplikasi tersebut lahir dari kebutuhan nyata pengguna, bukan sekadar proyek simulasi.

Salah satu proyek yang paling berkesan bagi saya adalah Ruang Al Hajj, sebuah aplikasi yang digunakan untuk membantu operasional biro perjalanan haji dan umrah. Berawal dari proses manual, siswa berdiskusi langsung dengan klien, menggali kebutuhan, memperbaiki rancangan, mengatasi bug, dan mempresentasikan solusi berkali-kali sebelum akhirnya aplikasi tersebut digunakan. Saat itulah murid menyadari bahwa baris-baris kode yang mereka ketik bukan sekadar tugas sekolah, tetapi solusi yang akan membantu pekerjaan orang lain. Dari proyek ini saya melihat perubahan yang sebenarnya. Bukan hanya membangun aplikasi, tetapi juga membangun keyakinan pada murid bahwa karya mereka dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Lebih dari sekadar menghasilkan aplikasi, Project Expertise membentuk cara berpikir baru pada murid. Mereka belajar memahami kebutuhan pengguna, bekerja dalam tim multidisiplin, menerima kritik, bertanggung jawab atas setiap keputusan, dan mempresentasikan solusi melalui Pitching Day, gelar karya, mini showcase, dan pameran publik. Pengalaman ini membangun kepercayaan diri dan identitas mereka sebagai calon talenta digital Indonesia.

Bayangkan jika pengalaman belajar seperti ini tidak hanya terjadi di satu sekolah, tetapi menjadi budaya belajar di seluruh Indonesia. Murid SD belajar memecahkan persoalan di lingkungannya. Murid SMP mulai membangun kreativitas dan berani bereksperimen. Murid SMA dan SMK menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari ruang kelas seperti inilah Indonesia membangun kedaulatannya, bukan hanya berdaulat secara ekonomi, tetapi juga berdaulat dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan karakter.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan anak-anak yang cerdas. Kita justru lebih membutuhkan ruang kelas yang memberi kesempatan kepada murid untuk berpikir, mencoba, berkolaborasi, gagal, bangkit kembali, dan berkarya. Talenta digital tidak lahir dari kelas yang hanya mengajarkan jawaban, tetapi dari kelas yang memberi kesempatan untuk menemukan solusi.

Pengalaman-pengalaman inilah yang semakin meyakinkan saya bahwa masa depan Indonesia tidak sedang dibangun saat hasil ujian diumumkan, melainkan setiap kali ruang kelas memberi kesempatan kepada murid untuk berpikir, berkarya, dan menghadirkan solusi bagi kehidupan. Sebab masa depan Indonesia memang dimulai dari ruang kelas.

Cek berita dan artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Mawardi
Yuk berbagi informasi tentang Sulawesi Selatan dengan join di group whatsapp : Citizen Journalism Sulsel

 Youtube Sulselsatu

 Komentar

 Terbaru

Makassar28 Juli 2026 14:25
Instruksi Wali Kota: Mulai 1 Agustus, TPA Tamangapa Tak Lagi Terima Sampah Campur
SULSELSATU. com, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar, mempertegas komitmennya menghentikan praktik pembuangan sampah terbuka atau open dumping d...
Makassar28 Juli 2026 14:24
Appi Wajibkan Warga Makassar Pilah Sampah dari Sumber, Cukup Gunakan Dua Ember di Rumah
SULSELSATU.com, MAKASSAR – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, resmi menerbitkan Instruksi Wali Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2026 tentang Gera...
Pendidikan28 Juli 2026 12:18
PLN UIP Sulawesi Salurkan Fasilitas TIK untuk Dukung Digitalisasi Pendidikan di Morowali
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menyalurkan bantuan fasilitas Tekno...
Video27 Juli 2026 22:19
VIDEO: Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri dari Jabatannya
SULSELSATU.com – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya. Surat pengunduran diri diajukan Perry ke Presiden Prab...